Tak
banyak kata yang terucap hari itu, di kala siang menghampiri senja, suara
bising di seberang jalan bahkan tak mampu menutupi kata yang terucap darimu…
“iya”,
kata yang kuucapkan hari itu, singkat,.. tak usah berbelit-belit, kata itu sudah
cukup jelas untuk menjawab atas pertanyaan dan penawaranmu kepadaku, pikirku…
19
februari 2014,, hari dimana hati kita yang memenangkan segalanya. Akan tetapi,
selang beberapa waktu, ada sesuatu yang seolah menggangguku, sesuatu yang
abstrak. Pikiranku seolah di bawa untuk mengingat sepenggal kisah di tahun
kemarin.
“iya”,
kembali kuiyakan tentang kisah mereka. Kisah yang diatasnamakan dengan
persahabatan, tetapi sungguh nampak rasa yang lebih diantara keduanya. Bukan
hanya aku saja, banyak yang mengiyakan akan hal itu.
“iya”,
mereka seolah berdialog melalui tulisan-tulisan mereka, dan baru saja ku
membaca rentetan tulisan itu, tiba-tiba pikiranku di penuhi dengan
ketakutan-ketakutan yang semestinya tak perlu untuk ku khawatirkan.
Bukan
inginku untuk hadir di antara mereka, tapi rasa yang memaksaku untuk tetap
hadir. Seolah Seperti angin yang tiba-tiba bertiup kencang di antara gemericik
hujan… seolah seperti seorang penghuni baru di pulau yang tak pernah terjamah..
Sungguh
tak dapat ku pungkiri kenangan di antara mereka sudah pasti masih terekam kuat,
“entahlah”… kini hanya kata itu yang terucap seolah aku tak mau tahu tentang kisah
mereka lagi.
Aku
adalah aku, aku bukanlah dia, Aku tak bisa dan sungguh tak ingin menjadi
seperti dia, Ini aku yang kini menjadi pilihanmu, dan kau yang menjadi
pilihanku…
Ku
ingin yakinku ini kau yakini pula agar semua tak ada yang terbantahkan.
Inilah
aku dengan segala kesederhanaanku…