Minggu, 24 Mei 2015

Untitled

Belum ku nikmati betul potongan es krim karamel ku. Lelehannya menetes di atas kemeja merah jambu yang tengah ku kenakan. Ku bersihkan dengan selembar tissue putih yang tipis, tapi tak sampai benar-benar bersih. Kembali ku coba mengecap sisa-sisa lelehannya di ujung jari, tapi alat pengecapku sama sekali tak berfungsi. Manis tak lagi terasa, dingin tak lagi ada, semua hambar sejadi-jadinya.
Lalu..
Kusegerakan saja meninggalkan rasa yang tak lagi punya rasa itu, pikirku.

Sepasang sepatu lusuh membawaku ke jalan tak berpenghuni. Hanya ada aku seorang diri. Sedikit mengangkat pergelangan tangan kiriku, menengok jam yang jarumnya terus melangkah dari angka ke angka. Tik..tak..tik..tak..tik..tak, detakannya terdengar jelas di 1/3 malam itu.

Dengan ringan kaki kanan ingin melangkah, kutengok kebawah tapi ada apa ini ? Kakiku tak bergeser bahkan 1 mm pun. Sendi ku ngilu, tungkai kaki rapuh yang bahkan untuk menopang tubuhku pun sudah tak mampu. Semampunya tangan ku gunakan untuk meraih ranting disekitar, tapi apa daya bahkan berayun pun sudah tak berpotensi. Pun ranting pepohonan itu terlalu menjulang ke langit.

Aku tersungkur. Rebahlah sudah tubuh ini di lumpur kotor, becek dan tak mengenakkan indra penciuman. Aku tak apa juga tak mengapa. Pita suaraku terputus seketika, mata ku hanya memandang langit yang tak kunjung cerah itu.

Masih sempat, ku tengok ke bagian belakangku. Benda itu nyata, tancapannya dalam, dan sakitnya sungguh tak ku kenali, amat sakit melebihi sakitnya jantung yang dihunus secara tiba-tiba lalu di koyak habis-habisan. Ketika itu, tubuhku melayang tepat diatas ku, terbang bersama waktu yang juga meninggalkanku. "Selamat tinggal, bukan lagi sampai jumpa" ucapnya padaku. Kupandangi tubuhku diatas sana yang sudah berjarak denganku.

Dengan sedikit senyum, ia memandangi belati itu masih tertancap dalam tepat dibelakangku dan tak meninggalkan jejak...

Minggu, 03 Mei 2015

Negeri ini masih haus

Tentang sebuah dunia yang perlu direnungkan…
Tentang sebuah polemik yang tak ada habisnya..
Dunia Pendidikan di negeri tercinta, 2 mei kemarin diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Namun seiring waktu berjalan muncul pertanyaan “apakah kesejahteraan yang diberikan oleh pemerintah dibidang pendidikan berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan ?”
Lihatlah hari ini, masih begitu banyak anak Indonesia yang menghabiskan hari mereka dengan mengais sampah dikolong jembatan, menadah tangan di warung-warung makan pinggir jalan, memainkan gitar dengan petikan tak bernada diikuti suara melengking karena kedinginan dibawah hujan menunggu kereta besi mewah berhenti di lampu merah jalan kota.
Semestinya, bukan disitu tempat mereka. Pakaian putih-merah hati, putih-biru, dan putih-abu-abu lah yang menjadi pakaian sehari-harinya. Meja, kursi, dan papan tulislah yang menjadi wadah mereka. Dan juga buku-buku dan pulpen lah yang seharusnya jadi makanan sehari-hari mereka dalam menimba ilmu. Lalu kenapa di daerah-daerah terpencil, mereka selalu saja termarginalkan, begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Lalu, yang kita lihat hari ini tak sesuai dengan harapan. Sebuah terobosan baru untuk dunia pendidikan Indonesia yang diagungkan oleh pemerintah tak jua memberantas polemik-polemik yang sedari dulu sudah menjadi masalah tanpa batasan waktu, tak kunjung redah rupanya.
Belum lagi, masalah-masalah lain yang membuat kita seolah tak mampu bersaing dengan Negara asing. Mulai dari kurikulum, biaya, fasilitas, tujuan pendidikan, juga RUU (Rancangan Undang-Undang) BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menuai kontroversial dikalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya liberalisasi dalam dunia pendidikan.
Belum lagi masalah para pendidik yang memenuhi kualifikasi diberikan penghargaan berupa gaji dua kali dari gaji pokok ketika mereka telah menyandang gelar pengajar professional. Sehingga para pengajar, pendidik akan berbondong-bondong untuk meraih status dan penghargaan tersebut tanpa memikirkan “ apa mereka layak mendapatkan hal tersebut?”
Wahai para kaum terdidik, dimana kalian sampai hari ini ? belum juga menampakkan pada dunia bahwa kalian dibutuhkan. Apakah kalian masih menutup mata dengan seabrek masalah yang tidak lain kuncinya ada ditangan kalian ?
Wahai para kaum terdidik, segeralah tersadar bahwa negeri  ini membutuhkan ilmu mu, untuk kalian bagi kepada mereka yang begitu membutuhkannya…

Mungkin, negeri ini masih haus akan ilmu…