Belum ku nikmati betul potongan es krim karamel ku. Lelehannya menetes di atas kemeja merah jambu yang tengah ku kenakan. Ku bersihkan dengan selembar tissue putih yang tipis, tapi tak sampai benar-benar bersih. Kembali ku coba mengecap sisa-sisa lelehannya di ujung jari, tapi alat pengecapku sama sekali tak berfungsi. Manis tak lagi terasa, dingin tak lagi ada, semua hambar sejadi-jadinya.
Lalu..
Kusegerakan saja meninggalkan rasa yang tak lagi punya rasa itu, pikirku.
Sepasang sepatu lusuh membawaku ke jalan tak berpenghuni. Hanya ada aku seorang diri. Sedikit mengangkat pergelangan tangan kiriku, menengok jam yang jarumnya terus melangkah dari angka ke angka. Tik..tak..tik..tak..tik..tak, detakannya terdengar jelas di 1/3 malam itu.
Dengan ringan kaki kanan ingin melangkah, kutengok kebawah tapi ada apa ini ? Kakiku tak bergeser bahkan 1 mm pun. Sendi ku ngilu, tungkai kaki rapuh yang bahkan untuk menopang tubuhku pun sudah tak mampu. Semampunya tangan ku gunakan untuk meraih ranting disekitar, tapi apa daya bahkan berayun pun sudah tak berpotensi. Pun ranting pepohonan itu terlalu menjulang ke langit.
Aku tersungkur. Rebahlah sudah tubuh ini di lumpur kotor, becek dan tak mengenakkan indra penciuman. Aku tak apa juga tak mengapa. Pita suaraku terputus seketika, mata ku hanya memandang langit yang tak kunjung cerah itu.
Masih sempat, ku tengok ke bagian belakangku. Benda itu nyata, tancapannya dalam, dan sakitnya sungguh tak ku kenali, amat sakit melebihi sakitnya jantung yang dihunus secara tiba-tiba lalu di koyak habis-habisan. Ketika itu, tubuhku melayang tepat diatas ku, terbang bersama waktu yang juga meninggalkanku. "Selamat tinggal, bukan lagi sampai jumpa" ucapnya padaku. Kupandangi tubuhku diatas sana yang sudah berjarak denganku.
Dengan sedikit senyum, ia memandangi belati itu masih tertancap dalam tepat dibelakangku dan tak meninggalkan jejak...
