Minggu, 22 Februari 2015

Dia diantara mereka

Untuk kali ini saya ingin menceritakan tentang dia. Alasanku sederhana, yahh karena ingin saja. Tidak lebih dari keinginan semata.. hahaha #lupakan

            Awalnya, kami dipertemukan dengan yang namanya takdir ditahun 2011 silam. Menjadi seorang mahasiswa baru yang masih lugu, polos, dan sedikit kaku disebuah universitas dimakassar. Melewati sekian banyak tahapan untuk memantaskan diri bahwa kami telah menyandang status sebagai Maha, yakni Mahasiswa.

            Pengaderan menjadi awal cengkrama kami hingga akhirnya merekatkan jiwa satu sama lain. Tahun pertama kita lewati dengan apa adanya, tak ada apa-apa, jika adapun tak apa, selama itu tidak apa-apa. Berlanjut ditahun kedua kita, masih ditempat yang sama, pijakan yang sama, tapi seperti ada yang mulai berbeda. Kita lebih dekat dari biasanya, itu yang kurasa. Kaupun demikian, pikirku.

Tanpa kusadari cerita ku selalu tumpah padamu, keluhanku, dan juga rengekanku. Menghubungimu ketika malam untuk segera datang bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan ocehanku. Ketika ada suatu waktu yang memungkinkan kita untuk berbagi cerita, kesempatan itu selalu kita gunakan dengan baik. Tadinya kupikir kau hanya akan jadi pendengarku, namun ternyata tidak. Ceritamu pun kau tumpahkan padaku, tak peduli untuk memilah bagian mana yang perlu untuk diceritakan, semua mengalir begitu saja. Tak ubahnya akupun demikian.

Namun, suatu ketika kumenemukanmu bersikap aneh,tak sewajarnya menurutku. Malam semakin gelap, suara kendaraan diluar sana mulai sepi terdengar. Tetiba kau mengucapkan suatu pernyataan diikuti oleh sebuah penawaran kepadaku. “Heii, apa yang terjadi denganmu ?” batinku memakimu. Sontak kaget mendengar itu terlontar dari mulutmu yang tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benakku. Dan aku sedikit tidak menyukai itu, suasana ketika itu. Kemudian kulontarkan sebuah pernyataan yang sedikit sok bijak sembari berdiri untuk meninggalkanmu ditempat itu. Aku tak ingin berlama-lama, ini aneh dan aku tak menyukainya.

Setelah itu, keadaan semakin berubah. Tak ada lagi dialog-dialog kita, ini menjadi sedikit kaku tapi yang kusukai karena ini tak berlangsung lama. Kita kembali akrab, namun tak seakrab dulu. Yang kutahu, tak ada lagi pesan-pesan singkatmu kudapati diponselku, bahan cerita hanya tentang mereka diluar sana bukan lagi kita, namun kau tetap saja datang menjemputku ketika aku dirumah sakit dan menebus obatku di apoteker lalu mengantarku pulang. Seperti itu.

Meski demikian, aku sangat menghargai pertemanan kita. Kau yang dulu punya rasa lebih namun dengan sigapnya aku membantai itu, membuatnya tak lagi ada. Maaf, aku egois. Tapi kurasa itu lebih baik. Kini tiba hari-hari ketika kita sudah menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir. Intensitas pertemuan yang sudah jarang tak menahanku untuk tetap bercerita padamu.

Namun, kini kau hanya jadi pendengarku,penasehatku. Mendengarkan setiap penggalan ceritaku tentang dia hingga larut, mengamati setiap detail keluh kesahku hingga menghabiskan dua menu ice cream dimalam hari, dan juga kau tak bosan-bosannya menanyakan tentang bagaimana aku dan dia, tentang bagaimana hubunganku dengan dia, apa baik-baik saja atau jauh dari kata baik, kau yang selalu menegurku ketika tingkahku terlampau kekanak-kanakan saat menghadapi masalah. Terima kasih untuk perhatian itu. Namun, ceritamu tak tumpah lagi, bahkan tidak ada. Kurasa aku curang.

Terima kasih sudah memperhatikanku,

Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,


Terima kasih masih menjadi temanku, kakakku, pendengarku dan juga penasehatku (meskipun terkadang sok bijak) hahaha….

Jumat, 20 Februari 2015

Nothing Special

Setelah melewati januariku dengan segala kejutannya, kurasa februari kali ini sangatlah tidak berpihak padaku. Mengapa demikian ?

Tak ada sesuatu yang spesial kurasa. 14 februari yang dikatakan oleh orang-orang sebagai hari kasih sayang, sedari dulu aku tak pernah memperhatikan dan memperingatinya . Yahh, kurasa semua hari bisa dijadikan sebagai hari kasih sayang jika kita menginginkannya. Kemudian 17 februari menjadi hari spesial bagi kakak ku yang notabene adalah hari lahirnya. Dengan hanya mengirimkan pesan singkat berupa ucapan selamat, aku mendoakan yang terbaik bagi dia walaupun disisi lain ada rasa sedih tak bisa menyalaminya sekaligus memeluknya secara langsung.

Kemudian 19 februari, kau ingat tanggal ini ? tanggal dan bulan yang sama tepat setahun lalu ketika kau menungguiku dibawah ruang literasi universitas pada suatu acara pameran pojok fotografi. Tanggal dan bulan yang sama ketika kita memilih tempat makan yang cukup jauh dari tempat kita beranjak, ketika kita sama-sama menertawakan menu coto bakar yang sejatinya nampak seperti sate dengan kuah coto, ketika kau dengan desah suaramu yang menanyakan tentang kasusku, ketika kau memberikan pernyataan dan penawaran secara langsung, ketika anggukanku menjadi jawaban dari semuanya.

Hari itu, riuh jalanan diluar sana tak memecah konsentrasi kita. Kau dan aku duduk berhadapan, dan diluar sana langit sore sudah menghampiri senja. Dihari itu “hati kita yang memenangkan segalanya” katamu. Kau masih ingat itu ?

Namun, tidakkah kau merasa kita semakin jauh ? aku tak ingin memperingati tanggal dan bulan yang kuanggap spesial ini sebagaimana kutahu kau enggan untuk memperingati hal-hal semacam ini. Namun akan kutanyakan apa kau mengingat hari itu ? jika ia, apakah berwujud sebagai ingatan yang manis atau tidak sama sekali ?
 Kini, kurasa bukan ruang kita yang berjarak melainkan hati kita yang kini sudah berjarak. Aku tak lagi tahu tentang bagaimana langitmu setiap harinya. Jangankan menumpahkan cerita, kabarpun hanya sesekali kudapati. Jarak selalu saja menjadi pemicu putusnya komunikasi. jikalau sudah demikian kau selalu saja dalam kondisi tak nyaman, kusadari itu.

Entah apa yang membelitmu hingga keadaanmu sesulit itu. Aku tak suka memaksa sebagaimana aku tahu kau tak suka dipaksa untuk menceritakannya. Aku tak meminta waktumu 24 jam siaga disebelahku, tak memintamu mengurusiku layaknya balita yang baru belajar berjalan, tidak demikian sungguh tidak. Namun, teguran ataupun sapaan tentang warna langitku hari ini tak juga kudapati.

Aku egois ? entahlah…

Jangan menghukumku seperti ini, membuat mulutku seolah dibekap, membuatku terlihat sebagai orang yang menyedihkan dan juga lemah. Aku membenci itu. Silahkan sibuk dengan duniamu jika itu membuatmu nyaman. Jika kau masih tahu jalan pulang, kembalilah jikalau kau anggap aku rumahmu (jika masih demikian).

Dan kembali akan kulontarkan ini,”ciptakan makna bagiku, apa saja”

Tapi kurasa kau belum bisa memaknaiku dalam bagianmu. Entah esok, lusa hingga nanti, atau tidak sama sekali. Itu saja.

Semoga kau tahu jalan kembali, aku masih disini belum beranjak sejengkalpun…

Maaf… Terima kasih…


Untuk 19 kita
Semoga masih manis diingatan
02:00 wita


Rabu, 18 Februari 2015

Spasi




Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda ? dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi ?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak ? dan saling menyayang bila ada ruang ? kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung. Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.



Salah satu prosa dalam buku Filosofi Kopi
(kumpulan cerpen dan prosa dalam satu dekade)
Karya Dewi Lestari (Dee)

Minggu, 15 Februari 2015

May be

Akan ada suatu ketika
Rupamu tak lagi kukenali...
Akan ada suatu ketika
Lirih suaramu tak lagi kudengar...
Dan akan ada suatu ketika
Pekik tawamu tak lagi kudapati...
Mungkin,
Entah kapan,
Mungkin hari ini, mungkin esok, mungkin juga nanti...
Mungkin saja...