Untuk kali ini saya ingin
menceritakan tentang dia. Alasanku sederhana, yahh karena ingin saja. Tidak
lebih dari keinginan semata.. hahaha #lupakan
Awalnya,
kami dipertemukan dengan yang namanya takdir ditahun 2011 silam. Menjadi
seorang mahasiswa baru yang masih lugu, polos, dan sedikit kaku disebuah
universitas dimakassar. Melewati sekian banyak tahapan untuk memantaskan diri
bahwa kami telah menyandang status sebagai Maha, yakni Mahasiswa.
Pengaderan
menjadi awal cengkrama kami hingga akhirnya merekatkan jiwa satu sama lain.
Tahun pertama kita lewati dengan apa adanya, tak ada apa-apa, jika adapun tak
apa, selama itu tidak apa-apa. Berlanjut ditahun kedua kita, masih ditempat
yang sama, pijakan yang sama, tapi seperti ada yang mulai berbeda. Kita lebih
dekat dari biasanya, itu yang kurasa. Kaupun demikian, pikirku.
Tanpa kusadari cerita ku selalu
tumpah padamu, keluhanku, dan juga rengekanku. Menghubungimu ketika malam untuk
segera datang bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan ocehanku. Ketika ada suatu
waktu yang memungkinkan kita untuk berbagi cerita, kesempatan itu selalu kita
gunakan dengan baik. Tadinya kupikir kau hanya akan jadi pendengarku, namun
ternyata tidak. Ceritamu pun kau tumpahkan padaku, tak peduli untuk memilah
bagian mana yang perlu untuk diceritakan, semua mengalir begitu saja. Tak
ubahnya akupun demikian.
Namun, suatu ketika kumenemukanmu
bersikap aneh,tak sewajarnya menurutku. Malam semakin gelap, suara kendaraan
diluar sana mulai sepi terdengar. Tetiba kau mengucapkan suatu pernyataan
diikuti oleh sebuah penawaran kepadaku. “Heii, apa yang terjadi denganmu ?”
batinku memakimu. Sontak kaget mendengar itu terlontar dari mulutmu yang tidak
pernah terlintas sedikitpun dalam benakku. Dan aku sedikit tidak menyukai itu,
suasana ketika itu. Kemudian kulontarkan sebuah pernyataan yang sedikit sok
bijak sembari berdiri untuk meninggalkanmu ditempat itu. Aku tak ingin
berlama-lama, ini aneh dan aku tak menyukainya.
Setelah itu, keadaan semakin
berubah. Tak ada lagi dialog-dialog kita, ini menjadi sedikit kaku tapi yang
kusukai karena ini tak berlangsung lama. Kita kembali akrab, namun tak seakrab
dulu. Yang kutahu, tak ada lagi pesan-pesan singkatmu kudapati diponselku,
bahan cerita hanya tentang mereka diluar sana bukan lagi kita, namun kau tetap saja
datang menjemputku ketika aku dirumah sakit dan menebus obatku di apoteker lalu
mengantarku pulang. Seperti itu.
Meski demikian, aku sangat
menghargai pertemanan kita. Kau yang dulu punya rasa lebih namun dengan
sigapnya aku membantai itu, membuatnya tak lagi ada. Maaf, aku egois. Tapi
kurasa itu lebih baik. Kini tiba hari-hari ketika kita sudah menyandang status
sebagai mahasiswa tingkat akhir. Intensitas pertemuan yang sudah jarang tak
menahanku untuk tetap bercerita padamu.
Namun, kini kau hanya jadi
pendengarku,penasehatku. Mendengarkan setiap penggalan ceritaku tentang dia
hingga larut, mengamati setiap detail keluh kesahku hingga menghabiskan dua
menu ice cream dimalam hari, dan juga kau tak bosan-bosannya menanyakan tentang
bagaimana aku dan dia, tentang bagaimana hubunganku dengan dia, apa baik-baik
saja atau jauh dari kata baik, kau yang selalu menegurku ketika tingkahku
terlampau kekanak-kanakan saat menghadapi masalah. Terima kasih untuk perhatian
itu. Namun, ceritamu tak tumpah lagi, bahkan tidak ada. Kurasa aku curang.
Terima kasih sudah memperhatikanku,
Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,
Terima kasih masih menjadi temanku, kakakku,
pendengarku dan juga penasehatku (meskipun terkadang sok bijak) hahaha….

