Sesak seketika,
degupan jantung melampaui batas normalnya, nafas terengah-engah, pikiran tak
tentu arah, tingkahku pun tak karuan…
Sebenarnya apa ini ???, apakah hal yang kuyakini mulai berubah ???
Entahlah…
Ketika jemarinya dengan lembut memegang jemariku, kemudian
memelukku erat, mendengar desahan nafasnya di telingaku, degupan jantungnya
begitu terasa dekat. Merasakan ketenangan yang luar biasa saat hal itu terjadi,
semakin lama semakin erat. Akan tetapi, dibalik kesenangan itu selalu ada ketakutan
yang menghantuiku…
Apakah ini dosa ???
Pantaskah hal ini kulakukan ???
Ribuan pertanyaan menyerangku bagai para musuh yang siap
memerangiku dengan pedang tajam mereka. Oh tuhan,, apa yang kulakukan sungguh
tak sejalan dengan perintahmu. Semestinya ku tak demikian.
Bodoh…bodoh.. memang aku yang bodoh, aku yang
salah. Bodoh karena tak dapat menolak segala gejolak yang kurasa. Menuruti
semuanya, terlalu menuruti perasaanku yang mungkin tak sejalan dengan
pikiranku. Lidahku keluh, tak bisa berucap apa-apa.
Heii,, aku tak ingin kau menilai kepercayaanku dengan itu.
jika aku tak ingin, bukan berarti
kepercayaanku tak sepenuhnya yakin kepadamu. Jangan ragukan yakinku ini.
Memilihmu sudah kuyakini sedari dulu. Akupun meyakini bahwa keyakinanmu sudah
sepenuhnya terhadapku.
Maafkan aku yang selalu membuatmu khawatir
dengan segala ketakutan-ketakutanku yang seiyanya selalu menghantuiku. Kau yang dengan setianya
menunggu yakinku menjadikanku khawatir akan engkau. Ketakutanku bertambah, jika
suatu ketika ada titik jenuhmu yang kemudian mencapai puncaknya, kemudian
menginginkan hal yang sebelumnya tak pernah kita inginkan.
Selalu ada
pertanyaan darimu yang kudapati menanyakan tentang apa yang membuatku
seringkali ketakutan, tapi lidahku tetap keluh,, enggan bercerita. Bukan ragu,
bukan tak percaya, bukan tak yakin, tapi semua ketakutan itu akupun tak
mengerti sehingga kata yang terucap hanya itu, “aku tak tahu”. Hanya kalimat
itu, yang kemudian engkau kadang menyimpulkan bahwasanya engkau belum
kupercayakan sepenuhnya untuk mendengarkan ceritaku, padahal pada kenyataannya
aku pun masih tak mengerti. Terlalu banyak penjelasan dalam ketidakjelasan ini.
Mengambang, tak tentu arah, nadanya samar, iramanya sumbang, warnanya buram,
dan tak berbingkai. Ku ingin mengeluhkan semuanya, tapi tak tahu bagaimana
caranya.ketika air mataku tak terbendung lagi, dan mulai jatuh kembali ku
rebahkan tubuhku di pundakmu, kau memelukku hangat, mengelus rambutku dengan
lembut dan berkata “jangan dipaksakan, maafkan”. Kata maaf mu selalu menyakitiku.
Aku merasa bersalah dengan kau melontarkan kata itu. Semestinya aku yang
berkata demikian..
Maaf.. maaf..
Maafkan aku..
Yang selalu membuatmu khawatir dengan segala ketakutan yang
aku sendiripun sungguh tak mengerti dengan semuanya..