Kamis, 23 April 2015

Senja Di Kota Daeng



Di sudut cakrawala
masih kugantungkan sebuah harap
langit masih mendengarnya
pun bumi masih menampungnya…

Memelukmu dari kejauhan
sungguh tak apa
ia masih menyaksikan kita dengan bisu
dengan merah jingganya yang sempurna…

Senja di Kota Daeng...
saya mencintainya...
lagi dan lagi...


Senin, 20 April 2015

Fantasi

Seketika terbangun dari sisi nyamanku malam itu, mendapati diriku dengan keadaan pipi yang sudah basah dan mata yang sembab. Yahh, saya bermimpi tentangmu.

Akhir-akhir ini saya terlampau sering bermimpi tentangmu. Bukan sekali tapi berkali-kali. Dengan ego yang tinggi, saya memaksa otak untuk memaknai mimpi-mimpi itu tak lebih dari bunga tidur semata, juga tak bermakna apa-apa.

Malam-malam kemarin fantasi mimpi begitu jelas terasa. Mendapatimu dengan senyum sumringah menghampiriku, mendapatimu pergi jauh lalu menghilang, mendapatimu terbaring lemah tak berdaya hingga membuatku menangis sejadi-jadinya, lalu tiba-tiba fantasi itu melebur menyisakan pipi yang sudah becek dengan air mata dalam ruang gelap.

Hei, saya menyapamu hari itu dengan kau membalasnya. Saya begitu menghargai setiap inchi pertemuan kita, membuatnya selalu bermakna. Kau tahu, saya masih menyimpan buku kita. Kertas putihnya yang masih kosong tak pernah menahanku untuk tidak menorehkan tinta diatasnya. Sampai detik ini, saya masih menulis tentang kita di buku itu, sampai nanti, sampai akhir halamannya.

Sampai hari ini...
Masih ditempat ini...
Saya benar-benar kalah...

Senin, 06 April 2015

Di kota itu

Untuk kali kedua, aku kembali menginjakkan kaki di kota itu, kota kelahiranmu. Salah satu kota di Sulawesi Selatan dengan suguhan panorama alam yang indah, tak kupungkiri itu. januari 2014, bersama 4 orang teman kala itu, aku menuju kota mu dengan alasan menjalankan suatu misi kelembagaan. Masih terekam jelas di ingatan saat aku sedikit memaksamu untuk ikut dalam rombongan, dengan dalih menjadi guide untuk ku dikota mu nantinya.
Sungguh masih mendecak kagum di ingatan saat kau dengan jahilnya memaksaku untuk memenuhi ajakanmu menikmati angin malam disebuah pantai setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup membuat tulang belakangku ngilu. Dengan anggukan sedikit malas aku mengiyakan ajakanmu, tak peduli lagi dengan piyama biru yang ku kenakan malam itu, salah kostum sepertinya.
3 hari berada di kota itu, namun banyak cerita yang perlu kutuliskan. Kau tahu, kala itu aku merasa mulai ada rasa yang tak biasa. Tatapanmu, tingkahmu, perlakuanmu terhadapku kurasa semua beda dari biasanya. Kala itu, ketika kita tengah asik bermain game berdua, ketika aku mengistirahatkan diri sejenak di kamarmu, sampai ketika aku dan teman bereksperimen di dapur kediamanmu, sungguh lucu rasanya.
April 2015, kembali ku menginjakkan kaki dikota itu. kali ini bukan karena urusan mendesak yang harus kuselesaikan, namun kali ini lebih tepatnya disebut liburan. Bersama 6 orang teman, kami melakukan perjalanan panjang dengan Pantai Apparalang dan juga Pantai Bara di daerah Bulukumba Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Hingga akhirnya petualangan di akhiri dengan menikmati nasi kuning disalah satu kediaman teman malam itu. Kau tahu, aku layaknya terdakwa malam itu, dihakimi dengan berbagai kecaman dibarengi dengan realita akan cerita kita. Mereka menghakimiku, lidahku kelu, hanya diam. Seperti itu saja.
Keesokan harinya, melakukan perjalanan ke gunung dan mengunjungi taman bunga setidaknya menjadi hal yang menyegarkan bagi pikiranku saat itu. Sedari pagi kudapat kabar bahwasanya kau juga tengah melakukan perjalanan ke kota mu. Sedikit bahagia, dengan harap kita bisa bertemu kala itu namun sedikit takut dan juga ragu, aku masih enggan menemuimu. Entahlah…
Di kota itu, tentang mu masih tak pernah luput dari ingatan. Namamu masih tak pernah samar di telinga dan rupamu masih tak pernah buram dari pandangan. Kata mereka, ditahun kemarin aku datang untuk memulai sebuah cerita namun di tahun ini aku datang untuk mengenang cerita yang kini hanya jadi cerita, dan ditahun berikutnya yang akan datang entah cerita genre apa lagi yang akan aku lakonkan.
Kau tahu, kau masih saja menyerangku, mencekik lalu menikam rasaku hingga akhirnya terperangkap, tak bisa kemana-mana dan masih disini, tak beranjak sejengkal pun dan masih tak baik-baik saja.
Di kota itu, semesta menertawakan kita…
Di kota itu, awal dan akhir ku temui…

Awal dan akhir
Untuk dua tahun perjalanan di kotamu

R…

Sebuah Perjalanan


Tentang sebuah perjalanan, petualangan. tentang kita, tentang dia, tentang senja, dan tentang bulan kala itu.
Terima kasih...




Pantai Apparalang, Bulukumba




bersama Aii Lavigne




Pantai Bara, Bulukumba



Menemui sang Bulan




Kaze...




Assalamu alaikum.. Sinoa, Bantaeng





Lannying Muntea, Bantaeng





Taman Bunga
Mini Showfarm, Bantaeng



Bersama Bapak Bupati Bantaeng




Senja lalu Bulan



It's Me :)