Jumat, 22 Juli 2016

Di Kamis manis, Jiwanya Pergi

Bukan fisiknya yang lelah, melainkan jiwanya yg tak sehat.
Bukan tangannya yg tergores, melainkan batinnya yang tengah menangis.
Hari-harinya ia lewati dengan getir. berusaha bangun tapi nihil, berusaha kuat tapi semakin rapuh.

ia telah kehilangan apa yang orang-orang sebut harapan, sungguh malang. Berjalan setiap saat dengan kesakitan dan keputusasaan. Jangankan untuk hari esok, hari ini pun ia tengah berpikir untuk tak lagi hidup. Ia menjadi pendosa tiada banding. Mengakihiri hidup dengan membunuh jiwanya terlebih dahulu.

Minggu, 03 Juli 2016

..............

Setiap malam semakin panjang saja baginya. Kepalanya hampir pecah diterpa ketakutan tiada henti. Ia mengadu, memaki, lalu tersedu dibalik bantal persegi panjang yang empuk.

Langit hitam diluar sana sedang menertawakannya, ia tak pernah sadar akan itu. Ceritanya ia tumpuk, setinggi apa nantinya tiada yang tahu. Tumpukan itu akan semakin meninggi setiap malamnya, entah apa yang akan mengurangi tumpukannya, entah dengan siapa ia akan berbagi tumpukannya.

Apa kabar ?

Juli telah bertandang di halaman rumah. Kemarin, Juni pamit meninggalkan ku lalu menanggalkan hujan sebagai teman untukku, katanya.

Di luar sana banyak yang melempari ku pertanyaan "apa kabar ?", lalu harus ku jawab apa ?, sedang aku sendiri enggan mendefenisikan seperti apa kabar ku hari ini...