Sabtu, 31 Januari 2015

Penghujung Januari



Apa jadinya jika semua telah kabur ? apa jadinya jika ribuan panah jarak yang telah memisahkan dua belah jiwa pada akhirnya tak ada sejenis rindu yang kemudian berkelebat ? sungguh semua telah kabur, mungkin rindu telah kabur dari dadamu.

Apa akan selamanya seperti ini ? diam selalu saja jadi bahasa kita. Terkadang aku sangat mengggilai diam. Diam yang berkata-kata. Namun apa jadinya jika diam itu tak pernah diruntuhkan oleh diam ?

Pikirmu, aku tak bisa menghargai keunikan dan keanehan berpikirmu. Keseruan mungkin tak kau dapati dariku yang membosankan, dariku yang mungkin tak bisa kau ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk. Maafkan…

Lalu akan ku tanyakan satu hal..

Bisa kau tutup januariku dengan sapaan hangatmu ? aku merindukannya.

Sabtu, 24 Januari 2015

Dialog rindu dan senja


Disore itu
wajah langit masih bercumbu dengan jingganya
malam sebentar lagi merenggutnya tapi tak sampai meninggalkannya
hanya menyisakan bias ungu di ujung sana..

Dipelataran senja, duduk sendiri lalu termangu
memeluk lutut yang sedang berpasung rindu
perlahan ingatanku membentuk garis
garis wajah dengan ukiran senyum itu..

Wahai senja, seperti apa kau menafsir rindu ? aku ingin tahu
aku tak memaki jarak, tak pula menghakimi jarak
tapi mencoba menikmati rindu
rinduku meradang seakan tak bermuara
wahai senja, kutitip rindu untuk dia dikejauhan..

22 januari 2015 (17:45)

Minggu, 18 Januari 2015

Ini tentang Mandar



Kembali berjelajah…
           
Itulah hal yang saya lakukan untuk mengisi kekosongan saat liburan meskipun dikampung halaman sendiri. yahh, teman-teman dari salah satu ukm seni difakultas berkunjung ke polewali untuk melakukan observasi tarian khusus etnis mandar.

            Suku mandar merupakan salah satu etnis yang dominan berada di Sulawesi Barat. Pun Polewali Mandar merupakan sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya bersuku mandar. Saya sendiri memiliki keturunan darah mandar yakni dari nenek. Dahulu, karena sedari kecil hingga berumur 17 tahun seiyanya saya hidup dilingkungan yang orang-orangnya dominan bersuku mandar, jadi dengan santainya saya berani mengaku sebagai orang mandar.

            Bahasa dan tradisi-tradisi suku mandar serta merta saya ketahui dengan sendirinya tanpa harus melalui pendidikan formal tentunya, meskipun saya tidak begitu fasih dalam berujar menggunakan bahasa mandar tapi setidaknya saya tahu arti dari pembahasan yang tengah diperbincangkan oleh para orang-orang tua.

            Pada saat melanjutkan studi di Universitas di Makassar, saya kemudian berada dilingkungan orang-orang dengan suku yang berbeda. Tahu bagaimana reaksi mereka ketika mendengar kata mandar ???, lalu kemudian mereka akan berujar seperti ini “orang mandar kan yang keras baca-bacanya (merujuk pada ilmu hitam) ?”. Dahulu saya sontak kaget ketika mendapati mereka berujar itu, sangat. Atas dasar apa mereka dengan mudahnya melontarkan itu, pengetahuan tentang bagaimana suku mandar itu berkembang tidak pula mereka pahami. Bukankah perbedaan menjadi indah ketika bersatu ? Lalu apa sebenarnya ? melihat fakta dilapangan ? sungguh mata hanya akan melihat sisi luar itu, tapi akan selalu ada tangan yang membuatnya terbuka, melihat sisi dalam itu seperti apa. Barulah kemudian mulut akan mengatupkan bibir untuk berucap, tidak asal berucap.

Hari itu saya menemani teman-teman dari Makassar mengunjungi sebuah sanggar di polewali mandar yang sudah lama berkecimpung didunia seni yang tentunya mengkhususkan untuk etnis mandar, sebut saja sanggar madatte yang merupakan nama sebuah sungai di daerah polewali. Disana teman-teman dengan semangatnya melontarkan butir demi butir pertanyaan kepada seorang pendiri sanggar itu. Beliau masih muda, umurnya mungkin sekitar 30 tahun. Saya sempat tercengang saat menyaksikan dia menjawab dengan sigapnya butir-butir pertanyaan kami. Beliau seorang penari yang memiliki pengetahuan tentang etnis mandar serta tari yang tidak bisa  saya pungkiri bahwa itu mengagumkan.

            Ceritanya tumpah pada kami yang berkunjung siang hari itu dikediamannya, tentang hidup dan perjalanan spiritualnya hingga memaknai bahwa menari sudah menjadi nyawanya. “seumur hidup saya rela tidak menikah ketimbang harus berhenti menari” ucapnya. Kalimat itu ia ucapkan pada saat prosesi lamarannya terdahulu ketika suaminya menyuruhnya untuk berhenti menari. “sampai mati inilah yang akan saya geluti, menari” tambahnya. Kami terdiam sejenak saat ia berujar itu. Ada sedikit rasa enggan untuk percaya ketika ia menceritakan tentang kemampuannya membuka dan menutup bulan purnama dengan tarian, memanggil roh, bertemu dan berbicara lewat mimpi dengan penari pertama yang begitu disakralkan bagi etnis mandar. Apa memang seperti itu adanya ? pikirku. Tapi tak bisa pula saya memungkiri bahwa disisi lain semua penggambaran itu terlihat amat nyata dalam dirinya. Saya enggan memaknainya lebih lanjut.

            Melihat sosok beliau tetiba ribuan pertanyaan menyerbu kepala saya. “apa pantas saya mengaku sebagai orang mandar dengan pengetahuan seminim ini ?”, “apa layak saya menyebut diri sebagai seorang penari ?”. pertanyaan demi pertanyaan kemudian menghujani pikiran saat itu.
Saya kemudian merebahkan tubuh ditempat tidur ketika telah tiba dirumah. Pertanyaan itu tak hentinya menghujani pikiran saya. Tapi, mencoba menepis semuanya. Tak ada gunanya terus bertanya, berusaha untuk menemukan jawabannya itulah yang harus dilakukan.

            Terima kasih untuk perjalanan ini yang kemudian membuka pikiran saya dengan pengetahuan yang telah dibagi dihari kemarin. Memaknai suku mandar dalam pribadi saya, membuat saya akan berani dan bangga mengaku sebagai orang mandar, sebagai seorang perempuan mandar, sebagai tobaine mandar. Pun tak hentinya saya akan terus mencintai dunia menari. Menari yang juga sebagai nyawa.
           

Minggu, 11 Januari 2015

lalu kini apa ?



Lalu kini apa ?

Disudut mimpi bahkan tak kudapati. Malam terlalu lelah untuk kita bersua. Kelam kini menggelayut meninggalkan mereka yang bersuara tapi tak bernada.

Lalu… 

Kini…

Apa ?


disudut teras rumah beratapkan langit
sabtu, 10 januari 2015

Rabu, 07 Januari 2015

Januari ku, 7 ku, dan nafas 21 ku



            Ribuan detik akhir-akhir ini kuhabiskan dengan kesan biasa-biasa saja, slow, mellow, tak ada yang ‘wahh’ istilahnya tapi aku cukup menikmati itu. 6 januari 2015, aku kembali bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Pizza ala Riska akan kubuat hari itu, hahaha…
            Suara teriakan dan gerak lincah ponakan ku Aii menemani eksperimenku. Dengan semangatnya aku mulai meracik, tak butuh waktu lama dan akhirnya aku menghasilkan makanan yang cukup menggoda mata dan lidah, kata kakak ku. Ketika aku mulai memotong dan mempersiapkan pizza itu, tiba-tiba mama, kedua kakak ku, dan juga ponakanku datang membawa lilin diatas potongan pizza itu. Mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” untukku, dan ponakanku menjadi vokalis utama hari itu. Menyanyi dengan suara yang begitu kerasnya, dengan cara berucap yang belum fasih. Yahh, umurnya baru menginjak 2 tahun 4 bulan.
            Aku tersenyum bahagia dihari itu, meskipun itu bukan tepat hari ulang tahunku, lebih tepatnya sehari sebelum ulang tahunku. “mau dirayakan besok, ataupun hari ini sama saja. Intinya cuma selisih sehari, pokoknya selamat dan semoga yang disemogakan tak hanya jadi semoga”, ucap kakak ku dengan santainya. Tawa bahagia kami memecah suasana hari itu. Ditengah kehangatan mereka, bahagiaku tak terukur hari itu.
            Insomnia ku sepertinya sudah mulai hilang. Pukul 22:00 wita aku sudah terlelap malam itu. Akan tetapi, tepat pukul 00:00 wita tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda panggilan masuk. Semampunya ku menatap layar handphone ku, berusaha membaca sederet nama kontak itu. Ohh… ternyata dia. Panggilan pertamanya tak kujawab karena rasa kantuk ku yang terlampau nyaman saat itu. Panggilan keduanya pun kujawab dengan suara yang masih parau setengah sadar dari tidurku.
            “selamat ulang tahun”, ucapnya. Aku diam sejenak, mengumpulkan nyawaku untuk berterima kasih padanya. Aku tak menduga dia akan melakukan itu, bahkan aku tak menunggu sama sekali ucapan darinya karena dia pasti tak ingat hari lahirku, pikirku. Cukup lama percakapanku malam itu dengannya. Sekali lagi sebelum telepon itu ia tutup, ucapan sederhana dan doa untukku kembali terucap darinya, dari dia yang masih terjaga saat itu. Ucapan selamat pertama di tanggal 7 ku, dan di nafas 21 ku kuterima dari dia. Terima kasih…
            Telepon telah ia tutup,tiba-tiba rintik hujan menggantikan suaranya. Baru kali itu hujan tumpah dengan derasnya. Yahh, mungkin ini pesan rindu lewat rintik hujan dari dia yang juga mencintai hujan.
Kejutan selanjutnya kudapati dari sahabat angin yang mengirimkan gelombang suara mereka berwujud doa lewat pesan singkat di handphone. Terima kasih untuk kalian yang masih selalu mengingat bahwa ada aku yang juga bagian dari angin itu.
Pagi ku terbentuk dengan seruan adzan subuh, sujudku disajadah hijau, dan tak lama kemudian pelukan hangat disertai doa dari keluarga satu persatu kudapati dari mereka. Mereka yang selalu ada disetiap desahan nafasku, yang selalu nampak dipelupuk mataku, dan yang selalu menjelma dalam bahasa kalbuku…

Terima kasih untuk kejutan di 7 ini…
Terima kasih untuk desahan nafas darinNya di 21 ini…
Terima kasih untuk gelombang suara berwujud doa dari mereka ini…
Terima kasih untuk dia yang telah terjaga demi kata sederhana “selamat” meski tanpa jabat karena milyaran panah jarak ini…
Jalan ini kadang gelap dan begitu hening, tapi kalian mematahkan itu…
Sekali lagi terima kasih telah membuat januari ku kembali berkisah…
           
Lalu…
Penutup malam di akhir 7 ku itu terbentuk dari sederet tulisan ditemani sepotong kue dan secangkir seduhan teh hangat... 

Lalu...
Dua ekor kupu-kupu dengan kepakan sayap indahnya memasuki ruang tamu rumahku kemudian terbang kekamarku, hinggap sejenak didaun jendelaku, dan terbang menari dengan indahnya tepat disampingku...
            Senyuman hangat seketika terbentuk dibibirku. Jemariku dengan lentiknya menari diatas toots keyboard merangkai kata demi kata, membentuknya dan membuatnya bagian dari januari ku. 

Semoga akan ada kejutan-kejutan berikutnya dari-Mu lewat mereka diluar sana...
Terima kasih untuk kisah di januari ku...