Ribuan
detik akhir-akhir ini kuhabiskan dengan kesan biasa-biasa saja, slow, mellow, tak ada yang ‘wahh’ istilahnya tapi aku cukup menikmati
itu. 6 januari 2015, aku kembali bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada di
dapur. Pizza ala Riska akan kubuat hari itu, hahaha…
Suara
teriakan dan gerak lincah ponakan ku Aii menemani eksperimenku. Dengan
semangatnya aku mulai meracik, tak butuh waktu lama dan akhirnya aku
menghasilkan makanan yang cukup menggoda mata dan lidah, kata kakak ku. Ketika
aku mulai memotong dan mempersiapkan pizza itu, tiba-tiba mama, kedua kakak ku,
dan juga ponakanku datang membawa lilin diatas potongan pizza itu. Mereka
menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” untukku, dan ponakanku menjadi vokalis
utama hari itu. Menyanyi dengan suara yang begitu kerasnya, dengan cara berucap
yang belum fasih. Yahh, umurnya baru menginjak 2 tahun 4 bulan.
Aku
tersenyum bahagia dihari itu, meskipun itu bukan tepat hari ulang tahunku,
lebih tepatnya sehari sebelum ulang tahunku. “mau dirayakan besok, ataupun hari
ini sama saja. Intinya cuma selisih sehari, pokoknya selamat dan semoga yang
disemogakan tak hanya jadi semoga”, ucap kakak ku dengan santainya. Tawa bahagia kami
memecah suasana hari itu. Ditengah kehangatan mereka, bahagiaku tak terukur
hari itu.
Insomnia
ku sepertinya sudah mulai hilang. Pukul 22:00 wita aku sudah terlelap malam
itu. Akan tetapi, tepat pukul 00:00 wita tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda panggilan masuk. Semampunya ku menatap
layar handphone ku, berusaha membaca
sederet nama kontak itu. Ohh… ternyata dia. Panggilan pertamanya tak kujawab
karena rasa kantuk ku yang terlampau nyaman saat itu. Panggilan keduanya pun
kujawab dengan suara yang masih parau setengah sadar dari tidurku.
“selamat
ulang tahun”, ucapnya. Aku diam sejenak, mengumpulkan nyawaku untuk berterima
kasih padanya. Aku tak menduga dia akan melakukan itu, bahkan aku tak menunggu
sama sekali ucapan darinya karena dia pasti tak ingat hari lahirku, pikirku. Cukup
lama percakapanku malam itu dengannya. Sekali lagi sebelum telepon itu ia
tutup, ucapan sederhana dan doa untukku kembali terucap darinya, dari dia yang
masih terjaga saat itu. Ucapan selamat pertama di tanggal 7 ku, dan di nafas 21
ku kuterima dari dia. Terima kasih…
Telepon
telah ia tutup,tiba-tiba rintik hujan menggantikan suaranya. Baru kali itu
hujan tumpah dengan derasnya. Yahh, mungkin ini pesan rindu lewat rintik hujan
dari dia yang juga mencintai hujan.
Kejutan selanjutnya kudapati dari
sahabat angin yang mengirimkan gelombang suara mereka berwujud doa lewat pesan
singkat di handphone. Terima kasih
untuk kalian yang masih selalu mengingat bahwa ada aku yang juga bagian dari
angin itu.
Pagi ku terbentuk dengan seruan
adzan subuh, sujudku disajadah hijau, dan tak lama kemudian pelukan hangat disertai doa dari keluarga satu
persatu kudapati dari mereka. Mereka
yang selalu ada disetiap desahan nafasku, yang selalu nampak dipelupuk mataku,
dan yang selalu menjelma dalam bahasa kalbuku…
Terima kasih untuk
kejutan di 7 ini…
Terima kasih untuk
desahan nafas darinNya di
21 ini…
Terima kasih untuk
gelombang suara berwujud doa dari mereka ini…
Terima kasih untuk
dia yang telah terjaga demi kata sederhana “selamat” meski tanpa jabat karena
milyaran panah jarak ini…
Jalan ini kadang
gelap dan begitu hening, tapi kalian mematahkan itu…
Sekali lagi terima
kasih telah membuat januari ku kembali berkisah…
Lalu…
Penutup malam di akhir 7 ku itu terbentuk dari
sederet tulisan ditemani sepotong kue dan secangkir seduhan teh hangat...
Lalu...
Dua ekor kupu-kupu
dengan kepakan sayap indahnya memasuki ruang tamu rumahku kemudian terbang
kekamarku, hinggap sejenak didaun jendelaku, dan terbang menari dengan indahnya
tepat disampingku...
Senyuman hangat seketika terbentuk
dibibirku. Jemariku dengan lentiknya menari diatas toots keyboard merangkai kata demi kata, membentuknya dan
membuatnya bagian dari januari ku.
Semoga akan ada kejutan-kejutan berikutnya dari-Mu lewat
mereka diluar sana...
Terima kasih untuk kisah di januari ku...