Minggu, 26 Oktober 2014

What is the purpose of dream ???

Dan pada akhirnya, setelah sekian lama ingin merasakan kembali fantasinya, waktu itu tiba juga..

Pukul 01:00 wita, sebuah deringan telepon membangunkanku dari tidur lelap, tapi tak kujawab. Setengah sadar, mungkin seperti itulah keadaanku saat itu. Dalam diam, menatap sudut ruang gelap sesaat kemudian kusegerakan beranjak dari sisi nyamanku dengan melepas selimut yang menghangatkanku malam itu..

Kondisi sadarku sempurna ketika air wudhu membasuh wajahku, ketika yang lain sedang dihiasi dengan bunga-bunga tidur, aku memilih untuk bertemu dengan-NYA, bercerita, menumpahkan semua rasa yang ada. Setelah itu kulanjutkan dengan menyanyikan ayat-ayatNYA, hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 01:50 wita..

Kembali kurebahkan tubuhku disalah satu sudut nyamanku, mencoba memejamkan mata untuk kesekian kalinya, tiba-tiba...

Disebuah ruangan berukuran 7x4 m, aku dan teman-temanku sedang bercengkrama, tertawa lepas akibat lelucon yang kami buat sendiri. Kemudian, Dia (seorang wanita) datang menghampiri, dengan singkatnya kami tertawa lepas bersama dia. Tak lama waktu berselang (seorang lelaki) juga datang menghampiri, seperti tadi tawa lepas turut mewarnainya. Kemudian, sebuah pertanyaan terlontar dari dia (wanita), dengan sigapnya akupun menjawabnya...

Ketika mulutku tengah merangkai kata untuk menjawab pertanyaan itu, dia (wanita) menghampiri dia (lelaki) secara perlahan, kemudian tangannya tiba-tiba melingkar ditubuh lelaki itu, tangisnya pun tumpah. Lelaki itu balas memeluknya dengan erat, mengelus kepala wanita itu dan tangisnya lebih tumpah dari yang kubayangkan. Dengan isakan tangis yang tersedu-sedu, dengan pelukan erat yang enggan melepaskan, wanita itu bertanya kepada lelaki "heii, kenapa tangismu melebihi tangisku ?", lelaki itu tak menjawab di hanya terus menangis.

Melihat keadaan seperti itu, aku dan teman-temanku tercengang. Bertubi-tubi pertanyaan akan hal itu datang menyerangku, "ada apa ini ?", "masalahnya apa ?", "mengapa terjadi demikian ?" Tanya mereka. Aku seolah sedang menjalani ujian dengan mencoba menganalisis sebuah novel dengan teori tertentu dan tak melupakan unsur 5W+1H. Namun aku hanya diam, mulutku enggan mengeluarkan sepatah katapun.

Mendengar ocehan dari sana sini, lelaki itu tiba-tiba bagai harimau yang sedang mengaum. Dia memantulkan suaranya dengan lantang, menyuruh kami keluar dari ruangan itu sesegera mungkin. Teman-temanku sontak meninggalkan mereka berdua, akupun ikut keluar dengan sesekali berbalik kearah mereka berdua yang masih dipenuhi dengan tangis. Aku menutup pintu dari luar meninggalkan mereka berdua dalam ruangan itu.

Aku dan dua orang temanku kemudian berjalan dijalan setapak, jauh, seakan lama hingga akhirnya kami tiba disalah satu kediaman teman kami. Salam menjadi sapaan hangatku kepada keluarganya, yang kemudian disalah satu sudut pada bagian belakang rumah, dipenghujung sore dan ditemani senja aku duduk terdiam, menatap kosong, enggan berbicara, enggan menangis, tapi tepat didada kiriku seolah ada pisau yang sedang tertancap, dan itu jelas terasa...

Ahhh.. ternyata itu hanya mimpi. Aku seketika terbangun, kembali bertanya pada diri sendiri apakah tadi adalah mimpi atau khayalanku semata ??? Entahlah.

Apa arti dari mimpi itu ? Apa arti tangisan itu ? Apa arti diamku itu ?, begitu banyak pertanyaan dalam pikiran yang menghujaniku. Aku tak ingin menafsirkannya sendiri, itu saja.

Dan pukul 06:00 wita, kudapati diriku tengah membuka mata di balik seberkas cahaya surya pagi dari balik jendela...

Selasa, 21 Oktober 2014

Mimpi itu, Saya merindukannya

Sampai detik ini, kantuk tak kunjung menghampiri. Yahh,, insomnia itu sudah akut bagi saya...

Entah kapan terakhir kali saya bermimpi ketika tengah lelap, saya tak bisa mengingatnya, sudah beberapa dekade rupanya, pikir saya...

Mencoba menutup mata, menenggelamkan diri dalam dinding berukuran 5x2,5m, gelap sunyi menjadi pelengkap. Satu harapan malam ini, semoga mimpi itu kembali hadir, sehingga saya bisa merasakan fantasinya lagi.

Biarkan saya kembali menjelajah dalam petualangan itu.. Mimpi itu, saya merindukannya.

Senin, 20 Oktober 2014

Terima Kasih

Malam itu terbentuk dari bisingnya angin nan dingin, kuatnya serangan gundah menghampiri, dan rebusan kata-kata sampai mendidih yang siap meluap kemana saja.

Malam itu, saya hanya sibuk merangkai kata, membentuk paragraf demi paragraf dengan bahasa yang saya ketahui. Hal itu sebagai bentuk persiapan untuk menghadapi sebuah petualangan esok hari. Menulis, berkhayal, menghafal, berdialog sendiri.. yahh, mungkin seperti itulah adegan yang saya perankan saat itu. Dengan sebisa mungkin menumbuhkan semangat dalam diri saya, tapi apa daya semangat itu tetap enggan menghampiri saya.

Malam itu kembali membuat saya sadar bahwa paranoid adalah sifat saya, dan saya membenci itu. Namun, ditengah hiruk-pikuk ketegangan dan kegundahan itu, saya tak sendiri, ada dia yang disana bersama saya.

Semangat dan dukungan darinya selalu ada, terima kasih telah memadamkan ketakutan itu. Ditengah percakapan, satu pesan singkat darinya "doakan saya juga. Jangan lelah bersamaku, semoga saya juga tidak pernah ringkih menemanimu".

Semoga lelah tak pernah menghampiri saya ketika tengah bersamamu..
Terima kasih...
Terima Kasih untuk kesekian kalinya..

Minggu, 19 Oktober 2014

Senyum dibalik senja

Entah harus mulai darimana jika berbicara soal ini. Ini terjadi begitu saja, yahh.. tentang saya dan dia, senja.

Senja...
Kala sore menghampiri, ia mulai menampakkan eksistensinya. Memecah langit biru dengan balutan surya yang memerah. Saya tidak punya tolak ukur yang mampu menilai bahwa ia begitu indah.

Senja...
Selalu saja berhasil membuat saya merasa lebih baik dipenghujung hari setelah berpetualang dengan rutinitas. Selalu saja berhasil melawan amarah, ketakutan, ketegangan, dan hal lainnya yang saya alami ketika tengah resah. Dan, ia selalu saja berhasil menciptakan lengkungan senyum hangat dibibir saya.

Ketika tengah bepergian, satu hal yang selalu saya inginkan ketika tiba nanti, yaitu duduk berdua dengan senja dengan seduhan teh hangat menemani.

Tak perlu alasan untuk hal ini. Intinya, saya menikmati dan menyukai senja. Itu saja...

Jumat, 17 Oktober 2014

Rasa yang tepat diwaktu yang salah

Jangan tanyakan perasaanku jika kau pun tak bisa beralih
dari masa lalu yang menghantuimu, karena sungguh ini tidak adil

Bukan maksudku menyakitimu, namun tak mudah tuk melupakan
cerita panjang yang pernah aku lalui, tolong yakinkan saja raguku

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Hidup memang sebuah pilihan, tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir dan setengah lagi untuk dia

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Bukan ini yang ku mau, lalu untuk apa kau datang?
Rindu tak bisa diatur, kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu
Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah

Waktu yang salah by Fiersa Besari

Kamis, 16 Oktober 2014

Sisi lain itu, aku membencinya !

Mengapa aku terus saja seperti ini ? Tolong menjauhlah, aku membencinya !

Minggu ke-2 dibulan ini kurasa cukup berat untuk ku lalui, dan mengetahui akan hal itu, rasanya perlu semangat ekstra untuk menjalaninya.

Senin, 13 oktober 2014

Hari itu selalu saja menjadi hari untuk mengumpulkan semangat untuk menjadi batu pijakan pertama dalam satu pekan. Pagi itu aku sedang tidak baik-baik saja, harus bangun dengan kondisi yang kurang fit. Hidung memerah akibat flu, dan suara yang serak-serak becek akibat batuk, belum lagi kondisi PDAM yang tidak bersahabat pagi itu. Oh Tuhan, apa lagi ini ??? Aku masih mencoba memperbaiki mood.

Setelah kerempongan dirumah terselesaikan, kusegerakan menuju kampus merah. Pagi itu ketika tengah mengejar waktu dengan tergesa-gesa memasuki lift dan menekan tombol nomor 4 di rektorat universitas, sesampainya, saya menemui mereka tengah berkumpul dengan kondisi yang pengap karena sedikit berdesakan. Ratusan peserta tengah menunggu giliran untuk tes dan wawancara hari itu. Yahh, saya tengah mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa ke Kyoto, Jepang.

Setelah registrasi, menunggu beberapa jam namun nama tak jua dipanggil oleh panitia. Saya teman-teman memutuskan kembali ke fakultas, mengisi perut yang sudah memulai nyanyiannya sedari tadi.

Pukul 14:00 wita, kembali menuju tempat tujuan awal. Menunggu adalah tema hari itu, diselingi dengan candaan dengan teman-teman membuat ketegangan sedikit berkurang. Hingga akhirnya giliran tiba kepada saya, memasuki ruangan, mengikuti psikotest, dan wawancara. Cukup singkat kurasa saat itu, kesannya biasa saja.

Kembali ke fakultas menjadi pilihanku setelah itu. Duduk diujung koridor, bercengkerama  dengan teman. Tetiba, salah seorang teman (Elis) datang menghampiriku, "hari rabu kita tes lagi", itu katanya. Aku tersontak kaget mendengarnya. Dengan sigapnya ku melangkah menuju lantai dua, menghampiri mading depan kantor jurusan. Yahh, namaku tertera disebuah kertas, nomor 4 dari 10 nama yang tertera.

10 nama yang direkomendasikan untuk mengikuti tes beasiswa ke Jepang. Mengetahui hal itu, perasaanku berkecamuk, bahagia atau malah sedih dan bingung ??? Entahlah, aku benci dengan diriku yang seperti ini.

Ku coba menepis semua perasaan tak mengenakkan itu dengan menikmati soerabi bandung yang tak jauh dari kampus bersama mereka, sahabat terbaik ditemani senja yang selalu berhasil membuatku merasa lebih baik, dan hari itu adalah hari ulang tahun salah satu sahabatku, selamat ulang tahun untukmu sahabat, Iin. ^_^

Selasa, 14 oktober 2014

Hari yang kupikir adalah hariku. Mengapa demikian ???
Seperti kemarin, lantai 4 rektorat masih menjadi tujuanku. Yahh, tes berlangsung selama dua hari dan hari ini adalah tes wawancara dengan bahasa inggis. Setibaku ditempat itu, dengan lincahnya kutuliskan namaku dikertas registrasi, setelah itu kutinggalkan teman-temanku menuju fakultas untuk mengikuti mata kuliah yang hari itu notabene adalah hari presentasiku.

Sedikit kecemasan akan giliranku disisi lain tempat itu, tapi tetap kucoba dengan tenang dan menyempurnakan presentasiku hari itu meskipun pada nyatanya tidak begitu sempurna. Ponselku berdering, ku dapat pesan singkat dari salah seorang teman (Safrin) yahh.. giliranku telah tiba. Kurapikan barangku dan dengan tergesa-gesa menarik tas keluar dari ruang kuliah, berlari, dan hingga akhirnya tiba ditempat itu.

Tegang bercampur dengan nafas yang masih tidak teratur, kumasuki ruang tes itu. Mengikuti wawancara dengan mencoba tenang, mewacanakan apa yang semestinya kuwacanakan ketika pertanyaan itu kudapati. Tak seperti kemarin, ketegangan itu cukup lama, itu kesannya.

Rabu, 15 oktober 2014

Hari yang menurutku menyebalkan, yang semalaman seiyanya kucoba selalu menghujani pikiranku dengan proton-proton yang meskipun bersikeras kuiyakan, tetap saja selalu ada unsur neutron yang lebih banyak.

Menuju kampus lebih awal dari biasanya, menunggu hingga masa itu tiba. Pukul 13:00 wita, keteganganku memuncak, tenggorokanku seketika kering, menelan ludah berkali-kali, itulah yang tengah kulakukan hingga akhirnya tiba giliranku. Tak lupa berdoa, kumasuki ruangan itu. 4 penguji siap menghakimiku yang notabene adalah dosenku, bagai duduk di kursi panas. Pertanyaan demi pertanyaan kujawab dengan kemampuan berbahasa yang kupunya. 20 menit serasa berjam-jam, itu kesannya.

Sembari menunggu hingga wawancara selesai dan pengumuman diumumkan, aku disibukkan dengan mengingat kembali adegan yang kuperankan tadi, membingungkan dan juga menggelikan, pikirku. Pukul 15:15 wita, tiba saatnya untuk pengumuman itu. Kami duduk berderet, mendengarkan dengan seksama nama yang akan lulus. Antara berharap dan tidak, aku hanya berserah. Rezeki tidak kemana, itu yakinku. Itu saja. Yahh, namaku tidak disebutkan diantara 5 nama yang lulus, tapi 2 nama sahabatku ada diantaranya (Natsir dan Itha). Aku melihat semangat dalam diri mereka, dan aku bahagia melihat mereka berhasil untuk memulai petualangan mereka. Pelukan hangat dan haru akan keberhasilan mereka kuberikan. Aku ikut bahagia.

Keluar dari ruangan itu, teman-teman lain sedang menunggu kabar, aku hanya tersenyum. "Mereka pasti akan tahu nantinya", pikirku. Kembali duduk diujung koridor menjadi pilihanku, sebentar saja lalu kuputuskan untuk kembali kerumah. Di perjalanan, indahnya senja selalu menemani, dengan setianya.

Pukul 23:30 wita
Apa sebenarnya ini ??? Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Sisi lain dari diriku yang penuh dengan ketakutan yang begitu besar. Ketakutan yang sebenarnya tak pernah ada, hanya aku saja yang mengadakannya.

Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Sisi lain dari diriku yang selalu melihat hal sulit menjadi point utama dalam sudut pandangku ketika tengah melihat sesuatu. Meragukan kemampuanku, meskipun banyak dari mereka yang mengatakan aku bisa. "I can do it" adalah kalimat yang jarang kuucapkan. Dasar bodoh !!!

Menghilangkan itu semua dari diriku adalah keinginan terbesarku. Meniadakan hal yang kubenci dari diriku. Membuat bibirku selalu dengan ringan dan yakinnya berucap "yes, I can do it".