Kamis, 21 Januari 2016

Say "see you" not "good bye"

Pergi lalu pulang…

Aku sedikit sensitif untuk kedua hal itu, bukan karena tak memiliki keinginan untuk pergi kemana-mana ataupun tak punya tempat bagi yang namanya pulang.

Menu pembuka ku di awal tahun 2016 tepatnya di januari (bulan yang setidaknya sedikit istimewa dibanding yang lain, pikirku) adalah perpisahan. Tragis bukan main kukatakan, bayangkan saja sebuah awal yang dalam waktu hanya sepersekian detik harus menemui akhir. Mengenaskan, sungguh.

Seorang teman baru saja kembali dari perantauannya. Meninggalkan rutinitas monotonnya yang ia anggap membosankan. Maklum saja, ia terbiasa dengan segala macam kebisingan kota hingga akhirnya tempat dimana jalanan sudah seperti kuburan pada pukul 10 malam dianggapnya sudah seperti neraka. Tapi kembalinya dia cukup membahagiakan, setidaknya personil akan bertambah ketika sebuah acara pernikahan di gelar.

Hari berikutnya, seorang teman harus pergi ke perantauannya di ibu kota, sedih sudah pasti. Setelah satu orang pulang, satu orang lainnya pergi. Ini sama saja satu dikalikan nol sama dengan nol, hasilnya tetap nihil. Jika demikian rencana penambahan personil tidak akan terjadi bukan ? Bandara. Salah satu tempat yang entah akan ku maknai seperti apa. Tempat dimana kebahagiaan dan kesedihan terjadi dalam satu waktu bersamaan. Hari itu, aku harus mengantarnya, dan seperti biasa ritual akan segera dilakukan. Foto bersama dengan para pengantar, foto berdua dengan yang diantar, acara peluk-pelukan, acara saling berbisik pesan “jaga diri baik-baik”, “jangan lupa kasi kabar”, “jaga kesehatan” dan bla…bla..bla… di akhiri lambaian tangan yang akan berhenti ketika yang akan pergi sudah luput dari pandangan, ritual selesai.

Satu hal yang selalu kulakukan ketika tengah berada di bandara yakni mengamati sekitar. Dan ku katakan kembali bahwa begitu banyak kebahagiaan dan tak kalah banyaknya kesedihan yang harus kusaksian dalam satu waktu. Kau tahu, itu menyakitkan bagiku. Tidak bisakah tempat itu hanya diisi dengan kebahagiaan ? disana ada yang resah menunggu datangnya seseorang dengan kondisi baik atau buruk tak ada yang tahu, ada yang  hanya menangis untuk melepas seseorang. Disana, rindu, iba, haru, marah, resah dan banyak lagi kawannya semua keluar dari sarangnya. Dan hatiku berkecamuk merasakan sekaligus menyaksikan itu semua.

Dua hari berikutnya, lagi-lagi seorang teman akan pergi. Bisa dikatakan akhir-akhir ini aku begitu melankolis. Kau tahu apa yang terjadi hari itu ? pipi ku basah sejadi-jadinya, aku sesenggukan menyaksikan perpisahan yang terjadi tak henti-hentinya, ini keterlaluan.

Lalu keesokan harinya, aku yang akan pergi (tolong dibaca pulang). Beberapa jam sebelumnya, aku menghabiskan waktu dengan tiga orang teman. Malam itu hanya ada sedikit bintang, kupikir langit ingin menangis. Diseberang sana beberapa meter dari tempat kami duduk  amat bising, jalanan tak pernah istirahat, dia terlalu sibuk. Kami sama-sama menikmati mocca float, roti sosis jadi santapan mereka sedang aku memilih roti coklat dengan fla susu untuk kunikmati. Malam semakin larut, pun perbincangan semakin panjang. Kami melanglang buana kedunia buku, tentang bagaimana kami menikmati buku sebagai candu, tentang bagaimana sebuah fantasi ataupun romansa dalam buku berpengaruh untuk hari-hari kami. Kami juga melakukan perjalanan ke berbagai rasa dalam minuman tentang bagaimana dia begitu mencintai kopi dan bagaimana aku begitu menggilai teh. Kami juga melakukan perjalanan panjang dalam film. Sungguh menyenangkan sekaligus menyedihkan harus mengakhiri pertemuan malam itu.

Malam itu kurasa waktu begitu singkat…

1…2…3

Sebuah detik ketika angin menyapu lembut wajahku, ku tahu itu sebuah pesan bahwa kita saling rindu, bisa kalian yakini itu ? memori ku akan selalu mampu menampung segala kenangan yang sudah kalian bagi bersamaku. Kertas ku kini tak lagi putih kosong, ada banyak coretan warna disana. Kalian tahu, aku menunggu waktu untuk kita melihat coretan itu kembali suatu waktu dimasa nanti ketika rambut kita sudah memutih serta tangan dan wajah kita sudah keriput, lalu saling mengejek ataupun memuji “kau lebih cantik sekarang ketimbang dulu”, “kau jauh lebih tampan sekarang ketimbang dulu”, sampai akhirnya suara anak kecil diluar sana sama-sama menertawakan kita.

Sekarang, dikepala ku cuma ada pertanyaan “kapan kita akan kembali melakukan perjalanan panjang ini, kawan ?

Lalu…

Malam berlalu seiring langkahku meninggalkan kota itu.



Catatan :
lagi-lagi aku begitu payah. Tulisanku selalu saja tentang keluhan dan rengekan. Diluar kamarku langit sedang menangis keras, kalian dapat salam dari Tuhan.

rabu, 20 januari 2014 (22.48 wita)

Jumat, 08 Januari 2016

Selamat Ulang Tahun

Satu penanda atas nafasku di muka bumi ini telah tiba. Angka yang kemarin sore masih duduk tenang dibangku ke-21 namun hari ini telah maju menuju bangku ke-22. Perputaran bumi semakin cepat rasanya bukan ?, siang sudah terlampau sering berganti peran dengan malam. Kau tahu, aku kini sudah bersahabat dengan malam. Tentu benar apa yang sering dikatakan oleh orang-orang bahwasanya sesuatu yang terlampau kita benci suatu waktu akan kita senangi, apa ini bisa kita sebut sebagai hukum alam ? silahkan tafsirkan sendiri.

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari dimana ia diajak untuk melempar ingatan jauh ke belakang, ketika ia bertegur sapa dengan bumi pertama kali, ketika masih dalam buaian seorang perempuan lembut penuh kasih, atau ketika tengah bermain di halaman rumah dengan seorang lelaki ceria nan hebat. Ketika hari itu tiba, orang-orang pun kemudian mengangkat jemarinya untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah mereka lalui di dunia. Ya, sebut saja “hari ulang tahun”.

Orang-orang terdahulu bahkan tidak tahu kapan tepatnya mereka lahir karena hanya berdasar pada pergantian bulan dan musim sebagai penanda. Hari itu, tepatnya tanggal 7 aku menemukan diriku apa yang disebut orang-orang sedang “berulang tahun”. Sama sekali aku tak mengangkat jemari untuk menghitung tahun demi tahun nafasku yang sudah berhembus di muka bumi. Pukul 00.00 wita, beberapa teman yang notabene adalah teman serumah, membawa sekotak kue dengan sebatang lilin putih di tancapkan dibagian tengah kue itu, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dalam beberapa versi bahasa. Tak langsung meniup lilin itu, kubiarkan meleleh untuk beberapa menit. Kurasa ada yang salah denganku malam itu, tak merasakan apa-apa lebih tepatnya. Apakah kau bisa menerjemahkan perasaanku yang “tak merasakan apa-apa” itu ? jikalau bisa segera jelaskan padaku.

Aku sempat berpikir, begitu banyak simbol-simbol yang di asosiasikan atau berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Aku pernah mendengar bahwa peringatan hari ulang tahun pertama kali dilakukan di eropa bahwasanya ada ketakutan akan adanya roh jahat yang akan datang pada seseorang yang berulang tahun, maka untuk mencegah hal demikian diundanglah teman dan kerabat untuk memberikan do’a serta pengharapan yang baik bagi orang yang sedang berulang tahun. Berkenaan dengan hal itu, kue ulang tahun adalah lambang simbolis dari sebuah perayaan, konon katanya dahulu bangsa yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil Dewi Artemis (Dewi Bulan). Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama dengan menyertakan lilin-lilin diatasnya karena membuat kue terlihat terang menyala seperti bulan. Seperti itulah setidaknya sedikit yang ku ketahui tentang ulang tahun. Ya, tanpa kita sadari kita tentunya mengikuti cara hidup orang-orang sebelum kita,sedikit demi sedikit tentunya.

Tahun-tahun kemarin januari ku selalu basah tapi untuk kali sama sekali tidak, januari ku begitu kering. Hari itu aku tak pernah mengharapkan apa-apa, semuanya kubiarkan sesuai jadwal yang telah di setting oleh Tuhan. Tak perlu ada adegan tambahan, tak perlu ada reka ulang di TKP. Aku mengutipnya dari seorang penulis ternama, dia berkata dalam bukunya “akan tetapi, impian tentang sesuatu yang tak mungkin, mereka memiliki nama tersendiri. Kita menyebutnya harapan.jikalau di izinkan, izinkan aku menjadi manusia bermanfaat yang memiliki apa yang orang-orang sebut "harapan" yang lebih. Itu saja.

Sebuah pesan untuk 7 januari

Mungkin tidak hari ini
Mungkin saja dilain waktu
Entah dibelahan bumi bagian mana
Jika waktu masih bersahabat, jika nafas masih berhembus
kau bisa datang  padaku
bersama senja merah yang menyala bukan berdarah,
bersama sebuah buku puisi yang akan kita selami kata-katanya,
dan jangan sampai lupa seduhan teh hangat yang akan kita nikmati bersama
Untuk sebuah hari ulang tahun, ku rasa seperti itu akan sempurna…

Terakhir,

Janganlah terlalu sibuk menanyakan kabar orang lain, menyapa orang lain ataupun memberi ucapan kepada orang lain. Cobalah sesekali lakukan itu kepada dirimu sendiri. Sederhana, cukup seperti ini,

“selamat malam, selamat ulang tahun, Riska”