Rabu, 18 Juni 2014

Hujan Bulan Juni

Warnanya masih sama.. indah tak terelakkan.. senja di sore ini, aku selalu suka, bahagia rasanya jika dapat menikmatinya...
Diteras kediamanku yg hampir setengah tahun tak ku jajaki, di tengah kehangatan keluarga kecilku yang lama tak bersua, tiba-tiba rintiknya kembali mengguyur bumi, seolah melengkapi kebahagiaanku di hari ini...
Hujan di bulan Juni... selamat bertemu kembali... kau seolah selalu tahu perasaanku... kau memanjakanku dengan rintikmu yg selalu bernada, mengisahkan kisah yg termunafikan...
Hujan di bulan Juni... Terima kasih telah melengkapi bahagiaku sore ini, sampaikan salam rindu ini untuknya, dan untuk mereka yg juga mencintai hadirmu,, Hujan..
Hujan di bulan Juni... tetaplah kau membuka tirai imajiku di saat nada rintikmu tergiang di telingaku...

Senin, 02 Juni 2014

Si Yakin dan Si Ragu



Pernah merasa yakin ?
Atau merasa ragu ?
Dua pertanyaan ini tentunya tak lain adalah pertanyaan umum tentang perasaan akan suatu hal. Sesuatu yang tidak lain adalah gambaran yang merupakan wujud dari sebuah pilihan perasaan.
Ketika di Tanya demikian, apa yang akan kamu jawab ??? yahh,, tentunya akan kamu jawab sesuai dengan perasaanmu.
Si yakin akan selalu ada dalam sebuah pilihan perasaan, namun berbeda dengan si ragu yang wujud rasanya akan muncul ketika si yakin tengah rapuh dan tak mampu mempertahankan eksistensinya. Wujud keduanya sangat jauh berbeda,, dimana si yakin akan terus membenarkan kata hati yang seiyanya dan selayaknya anggukan yang akan terus ada, tak ada peniadaan. Si yakin cenderung mengarah kepada hal-hal yang bersifat positif, berani dan seolah enggan mengedipkan mata, menghentikan langkah kaki, enggan untuk menengok ke belakang lagi jikalau ia telah berada dalam taraf proporsionalnya. Si yakin memang berwujud dalam tindakan, akan tetapi selain tindakan biasanya ia bermula dari sebuah ucapan. Ucapan yang tak terelakkan yang terdiri dari kata, frasa maupun kalimat yang tersusun sedemikian rupa, bermakna dalam, serta kadang didukung oleh raut wajah yang begitu membenarkan apa yang sedang di utarakan.
Selain si yakin, adapula si ragu yang akan muncul kendati si yakin sudah rapuh dalam pertahanannya. Bukan enggan untuk mengiyakan, bukan enggan untuk hanya sekedar menganggukkan apa yang sedang dibicarakan, bukan enggan untuk mengikuti arus dalam jalan cerita, melainkan ada segelintir perasaan yang seolah-olah menghampiri, ingin mendekap tapi takut, ingin berbisisk tapi kemudian berteriak, ingin menggenggam jemari lain tapi kemudian mengepalnya,, itulah dia si ragu. Si ragu yang wujudnya berbanding terbalik dengan si yakin. Si ragu yang selalu menengok ke belakang dan seolah takut untuk melihat kedepan, si ragu yang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ia taktahu harus bagaimana.
Di tengah heningnya malam, di saat hanya ada bunyi nada blackberry messenger dari handphone… kemudian terjadi percakapan antara si ragu dan si yakin..
“heii, aku belum terlalu gila untuk mempertahankan sesuatu yang menurutku belum sepenuhnya yakin akan diriku,, keyakinanku tengah di rundung keraguan,, tapi tak pernah kuberhenti berharap semoga keraguan itu hilang, aku selalu menunggu waktu itu tiba”
“jangan jadikan ragumu sebagai beban,semakin kau ragu, semakin beban itu menimpamu keras,, ragu itu hanya segelintir dari masalah hati yang tak yakin,, bukan berarti yakinmu harus terkalahkan oleh ragu itu “
“keraguan memang sejatinya bertolak belakang dengan keyakinan,, Si yakin takkan pernah ada jika Si ragu dan begitulah adanya,, terkadang si yakin takkan menampakkan wujudnya jika si ragu terlalu kuat mempertahankan eksistensinya,, apa dan siapa yang telah jadi Korban, itulah bumbu yang seiyanya di coba untuk tidak selalu ada”
“mungkin ragumu terlalu kuat bertahan tanpa member kesempatan kepada si yakin untuk masuk ke sisi hat yang paling dalam,, coba tengok pada ragumu, apa yang sebenarnya kau ragukan pada sesuatu yang telah kau pilih untuk membuka sutu pintu yang sudah lama tak terjamah ?? tidakkah kau berniat mempertahankan dan membiarkannya hanya terus berada di depan teras hatimu saja ?? ada sisi takut pada Si yakin sehinggan harus macet ketika melihat si ragu yang begitu kuat tamengnya”
Pembicaraan itupun berlanjut dan menimbulkan pertanyaan besar yang entah kapan akan terjawab..
Apakah kami yang kini menjadi korban ?? membuat skenario baru yang seolah membuat semua salah dalam hubungan ini..
Kami,, orang-orang yang kini menemukan kepada apa dan siapa sepantasnya hati ini berlabuh yang mencoba untuk saling menyembuhkan dari suatu kesakitan… namun,,, salahkah itu ???
Serasa benci dengan keadaan yang seperti ini, yang hanya menganggukkan keyakinannya, kemudian menimpalinya dengan kalimat bahwa iapun telah yakin, tapi tak bisa di pungkiri bahwa Si ragu itu masiih tetap ada meski hanya secuil. Mungkin yang harus di pelajari dari si yakin adalah kejujuran, utarakan ragumu yang sesungguhnya, jangan utarakan yakinmu yang baru berusaha mengetuk pintu dan belum membiarkannya masuk kedalam ruang tamumu. Mungkin dengan demikian akan di dapatkan jawaban yang tengah di cari-cari oleh Si ragu.
Dan di akhir pembicaraan hanya ada kalimat yang tak ubahnya selalu ada,,
Sedih ketika melihat Si yakin harus menunggu Si ragu yang tak kunjung pergi,,
Dan sedih ketika melihat Si ragu harus menunggu Si yakin yang tak kunjung datang…