Jumat, 30 Oktober 2015

Do not blame your past

Matamu perlahan terbuka, bukan karena mimpi buruk atau karena ingin buang air kecil yang membangunkanmu dari tidur malam yang sedikit lebih awal tadinya. Kau kepanasan rupanya. Rambut mu mulai basah karena keringat hingga membuat sarung bantal dan kapuk didalamnya ikut lembab. Kau lupa menyalakan kipas angin. Selimut yang telah disediakan oleh ibumu di sudut ranjang masih terlipat rapi, kau tak menggunakannya malam itu. Kamarmu hitam sejadi-jadinya, jendela ternyata kau tutup rapat ditambah horden hijau gelap membuatnya semakin jauh dari kata terang. Tiba-tiba saja kau kesulitan mengatur nafas, beberapa menit meninggalkan tapi tak kunjung normal. Kau masih takut gelap ?

Kau menahan diri untuk tidak beranjak memencet sakelar lampu disamping pintu kamar. Apa kau mencoba melawan takut mu ?... yah, kau berhasil melawannya tapi tiba-tiba gelapnya menyeretmu untuk mengingat sepenggal kisah kemarin. Cerita dimana saat itu kau menjadi begitu bodoh untuk mempertahankan sesuatu yang tak semestinya dipertahankan. Cerita dimana kau menjadi seorang pejuang dengan kaki tangan yang sudah lumpuh sedari awal. Kau menyesal ?

Matamu sedikit sayu malam itu, memori mu dipaksa untuk memungut keping-keping kenangan yang sudah berhamburan disepanjang jalan. Kau hafal betul setiap inchi perjalananmu bersama dia. Tiba-tiba kau ingin sekali menulis, tapi dengan sigapnya kau mengurungkan niat untuk itu. Kau berpikir bahwa ini hanya akan jadi tulisan rengekan yang begitu cengeng nan melankolis. Layaknya penulis pemula yang hanya bisa menulis tentang perasaan kegirangan saat cinta menimpa, perasaan tersayat-sayat saat cinta pergi, tersakiti, kemudian merasa tak hidup lagi. Siklusnya kurang lebih akan berputar seperti itu.

Lampu kamar akhirnya kau nyalakan. Kau kemudian menuju lantai dua teras rumahmu, duduk manis dikursi plastik merah dengan lantai sedikit basah karena gerimis sempat lewat seperti iklan minuman isotonik bervitamin berdurasi 30 detik, sekejap saja. Itu tempat favorit mu di kediaman. Disana kau selalu mengadu ke langit tentang cuaca hatimu setiap harinya, tapi kau lebih suka menghabiskan waktu disana saat malam tak peduli jika sesekali nyamuk mengajakmu untuk berperang, tak kau hiraukan.

Kau mengecek ponselmu yang tak berdering sejak pagi tadi, panggilan telepon atau pesan dari siapa yang hendak kau tunggu ? Kau tersadar bahwa oktober hampir berakhir, kado darimu belum juga dia terima sejak dua bulan lalu. Bagaimana tindakanmu ? Kau membiarkan hadiah kecil itu tak memiliki pemilik ? Ternyata kau membiarkannya seperti itu. Di tahun kemarin, kau ingat betul bagaimana degup jantungmu dibuatnya menjadi tak normal, bagaimana tingkahmu begitu kikuk ketika ditatap olehnya dan bagaimana tembok pertahanan yang sudah kau bangun bertahun-tahun lamanya, tembok yang tak kau biarkan seorangpun mendekatinya tapi berhasil diruntuhkannya. Kau sendiri tak percaya kala itu. Dia akhirnya kau izinkan untuk melangkah ke beranda mu, lalu masuk keruang tamu mu. Cukup lama ia menjadi tamu rupanya, lalu kemudian dengan sebuah alasan yang tak kalian pahami tapi kalian memaksa otak masing-masing untuk membuatnya menjadi paham, lalu menjadikannya konklusi dari sebuah teka teki perjalanan. Kau akhirnya terdiam menatap punggungnya yang berlalu meninggalkan ruang tamu mu yang sudah menjadi berantakan, pecahan cangkir teh yang telah kau seduhkan telah berserakan kemana-mana. Selang beberapa waktu, dunia mengirimkanmu beberapa potong gambar yang membuatmu akhirnya mengerti bahwa melepaskannya adalah pilihan paling bijak yang pernah kau ambil, sedang mempertahankannya adalah pilihan yang sedikit tak waras yang pernah kau ambil pula.

Kau seketika tertawa pelan, mengingat janji-janji yang telah ia rapalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat dihadapanmu entah di hari keberapa, jam berapa, menit dan detik keberapa kebersamaan kalian. Dia yang telah berani mengajakmu merancang masa depan bersama dan masih banyak lagi yang tak perlu di ingat satu persatu. Bibirmu sempat dibuatnya selalu manis karena senyum, senyum karenanya. Disisi lain, matamu sempat dibuatnya menjadi lahan yang selalu basah, basah karenanya. Kau sempat berpikir, betapa perpisahan tidaklah berarti apa-apa untuk dia. Hanya diawal dia merasa bahwa perpisahan layaknya raungan kematian yang akan merenggut nyawanya, tapi apa mau dikata melupakan bukanlah perkara yang rumit untuknya. Begitu mudah baginya.

Ponselmu tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk tapi enggan kau buka. Pukul 02:00 wita, lamunanmu akhirnya buyar. Kau sadar, betapa ruang mu telah berantakan sejadi-jadinya. Mulai sekarang kau akhirnya ingin membereskan pecahan-pecahan yang telah berserakan itu, membersihkan jejak kaki diberanda mu, lalu membangun kembali tembok pertahanan yang kokoh. "Tenang saja, ini takkan menjadi akhir dari dialog kita. Sapa mu akan kubalas sapa, senyum mu akan balas senyum pula jikalau suatu ketika salah satu dari kita berkenan untuk melemparnya. Tapi, rasanya tidak pantas rintik hujan mu kembali ku dialogkan dengan senja ku, juga takkan kubiarkan lagi kau mendekat bahkan menyentuh seinchi pun beranda hatiku, tidak akan lagi." Batinmu.

Kau beranjak dari kursimu, mengakhiri malam lalu berbisik kelangit "setelah perpisahan tak ada yang baik-baik saja, bukan ?"

Senin, 28 September 2015

Bincang Malam

Apa lagi yang hendak di katakan oleh kata-kata ku. Pagi berlalu, meninggalkan anak sekolah didalam ruang kelas. Siang pun sudah pergi, membelakangi pekerja bangunan di ibu kota yang sedang menyeka keringat.

Senja sore, apa kabar mu ? Masihkah kau delusi ? Ah, ku pikir tidak. Meskipun beberapa hari kemarin jahat mu keterlaluan, tak kau biarkan aku mengencani mu padahal teh hangat sudah ku seduhkan untuk kita berdua.

Lalu malam tiba, tepat diatas kepalaku. Sedikit takut karena ia begitu hitam tapi ternyata tidak juga rupanya. Langit sedang ramai-ramainya, mungkin disana ada pesta kembang api. Diluar sana orang-orang sedang membicarakan tentang benda langit yang menggemaskan itu. Tapi tidak demikian untuk ku karena mataku tak menangkapnya, sayang sekali..

Rupanya langit malam yang mengajakku berbincang malam ini. Di lantai dua beranda rumahku tepatnya. Banyak yang kuceritakan,beberapa pohon kelapa tinggi menjulang yang sedang nyenyak tidurnya sampai-sampai terbangun, pohon mangga yang sedang mengistirahatkan buah-buahnya pun ikut mendengarkan, dia pendengar yang baik maka dari itu tak ada alasan ku untuk membenci pohon mangga dan juga september seperti dalam cerpen penulis favorit ku :)

Tapi sayang, mataku terperangkap pada perempuan yang sedang duduk diam disamping pohon bunga asoka merah diseberang jalan depan rumahku. Ia tersenyum, tak lama berselang lalu menangis, kemudian menangis, hingga menangis sejadi-jadinya. Ia mengutuk diri, meratapi hidup yang dia rasa tak bebas. Esok akan seperti apa dan bagaimana, ia tak tahu. Pertanyaan disekitarnya selalu membuatnya muak hingga ingin muntah. "Pertanyaan-pertanyaan mereka seperti anak panah yang siap mematikan otak ku, bukan lagi menghunus jantungku.. Ah, sungguh sial" ujarnya pada sekitar. Malam itu ia mengutuk langit, lalu merenungi kawan-kawannya yang masih penuh ambisi karena tekanan yang semuanya akan berakhir dalam sebuah buku besar yang namanya PERBANDINGAN.

Langit malam hanya menatap perempuan itu. Aku pun demikian, termangu dan terpaku...

Kamis, 10 September 2015

Happy Graduation Day

Graduation is a quite happy and proud time However, the hard work must not be the end. You have to continue to learn and make yourself become useful for others, right ? 

Finally, saya akhirnya resmi mendapatkan gelar Sarjana Sastra setelah menempuh studi selama 3 tahun 10 bulan. Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat hidayahNya saya bisa sampai pada tahap ini di kehidupan. Terima kasih yang terdalam untuk wanita terhebatku, mama. Sudah membesarkan dan mendampingi tanpa letihnya mendoakan kebahagiaan untuk saya. Papa, meski tak selalu ada dilangkahku, tapi terima kasih saya ucapkan untukmu. Untuk kedua kakak ku, saya bangga menjadi adik kalian, terima kasih. Menjadi bagian dari kalian adalah hadiah paling berharga yang diberikan Tuhan di semesta ini.


Untuk sahabat angin (kaze 2011), terima kasih tak terhingga untuk kalian yang luar biasa. Teman seperjuangan dari maba sampai sekarang, keluarga kecil yang menemani hari-hari ku dikampus merah. Kalian cepat nyusul jadi sarjana yahh.. saya mencintai kalian. Terima kasih untuk keluarga besar HIMASPA, UKM Seni Tari, MAPERWA dan KMFS-UH, kalian penyempurna untuk warna ku dikampus.

Tanpa terkecuali, untuk orang-orang yang sudah hadir dikehidupan ku, Terima kasih...
sekali lagi, saya mencintai kalian..








































Jumat, 04 September 2015

Gerbang Selamat Datang

Sarang laba-laba sudah memenuhi setengah bilik kamar. Sabtu yang notabene menjadi hari bersih-bersih sedunia tak berlaku lagi bagiku. Begitu payah, amat payah...

Berkutat dengan tugas akhir yang sebenarnya adalah awal dari semuanya. Berminggu-minggu dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang tak bebas, cukup membuat kesulitan bernafas, naik ke kepala lalu menjalar hingga memekakkan telinga. Insomnia ku pun semakin akut. Layaknya zombie, makan dan tidur pun sudah tak karuan. Menghabiskan sepotong hari di kampus merah, menunggu dan harap-harap cemas tak pernah absen dari pikiran, siklus hidupku beberapa waktu lalu kurang lebih seperti itu.

Hingga tiba hari itu, ku harap angka 12 bersahabat. Hari dimana seluruh kerja kerasku akan diuji. aku takut ? jelas iya, pribadi penakut itu muncul begitu lincahnya. harus ku akui, malam-malam sebelumnya mood ku begitu amburadul. Pagi-pagi sekali kulangkahkan kaki menuju medan perang kusebut di ruangan tak beroksigen dengan dua hakim yang siap menghakimi ku dikursi terdakwa. Nafasku sedikit tersengal bagai anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, ini bukan lari maraton kan ? ah, lagi-lagi aku begitu payah…

Tapi,

30 menit berlalu…

Semua tak sehoror yang kubayangkan.
Kau tahu, ruangan itu berubah menjadi taman yang menyejukkan, ruang diskusi yang menyenangkan lebih tepatnya. Oh, ternyata seperti ini rasanya ketika kerja keras telah terbayarkan. Pelukan hangat kudapati dari mereka, tawa riang memecah ruang mengalahkan bising diujung jalan raya. Terima kasih, tanpa kalian aku bukanlah apa-apa. Benar apa kata dia yang diam-diam selalu mengingatkan tentang ini “kau tak pernah sendiri” pesannya padaku, selalu.

Waktu tiba-tiba menghampiri, mataku terperangkap pada sebuah gerbang besar di seberang jalan. Aku mendekat, gemboknya perlahan membuka dengan sendirinya melepaskan rantai baja yang bebannya tak ingin kuperkirakan berapa tepatnya.

“ini gerbang apa ?” tanyaku membatin.
Lalu gerbang itu mengeluarkan gelombang suara. “selamat datang di dunia nyata yang menggelikan” jawabnya.

Aku tertunduk, berkutat dengan pikiran yang mulai tak terkendali.
“Gerbang Selamat Datang, akan kemana aku setelah ini ???”.

Selasa, 28 Juli 2015

Jam Dinding



Pulang kerumah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang.Seperti aku, dia mungkin juga mereka.Meninggalkan sejenak hiruk pikuk dunia luar yang lucu-lucu rasanya.Dunia yang terlalu sibuk, pikirku.
            Aku tak setiap hari pulang.Tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau bisa saja setahun sekali.Setiap pulang, benda pertama yang kutemui diruang tamuku yakni jam dinding itu.aku bercengkerama dengannya jauh sebelum orang-orang disekitar mengenaliku. Aku bermain dengannya jauh sebelum aku di ajak bermain petak umpet oleh tetanggaku. Aku berkencan sambil minum teh dengannya jauh sebelum kekasihku mengajakku ke kedai teh di kota.
            Aku selalu menikmati suaranya ditengah heningnya malam, sunyinya rumah dan senyapnya kamar.Ia kadang berseteru dengan hujan, saling mengadu suara siapa yang lebih keras, hebat dan kekal. Kadang, aku enggan melerai mereka. Tetap kubiarkan agar mereka suatu saat paham bahwa masih banyak yang harus mereka pikir ketimbang harus menyombongkan kekuatan satu sama lain.
            Sesuka-sukanya aku dengan dia, tapi terkadang aku heran dengan tingkahnya.Memiliki dua jarum dengan emosi yang sungguh berbeda.Jarumyang sedikit pendek itu halus perasaannya, bergerak lambat dan selalu mempesona bagi setiap angka-angka.Namun jarum yang panjang itu, sedikit penuh emosi ku sebut. Kenapa, karena ia tanpa aba-aba tertentu terus saja melangkah dari angka ke angka tanpa menengok sedikitpun. Kan bisa saja, angka 3 sedang menaruh hati padanya. Menunggu untuk ia dilirik kembali. Atau bisa saja angka 7 sudah berjam-jam menunggu untuk memintanya duduk manis diruang tamunya dengan sepotong kue dan seduhan teh hangat. Tapi disayangkan, ia terus saja berjalan dengan lincah dan sungguh arogan sepertinya.

            Hari ini aku pulang kerumah dan kudapati ia sekarat jarumnya tak mampu lagi melangkah. Kupikir akan membawanya kerumah sakit untuk mengobatinya, tapi tidak, aku tengah berpikir akan menanggalkannya. Yah, tepat sekali. Aku akan menanggalkannya.
            Kusegerakan kakiku melangkah kesebuah toko dengan sebuah misi akan membeli jam dinding baru dengan kedua jarumnya bergerak ke arah kiri. Aku muak dengan dua jarum yang terus berputar ke kanan tanpa henti.Sungguh menyebalkan. Aku dengan keyakinan penuh akan mendapatkan jam dinding baru itu.
permisi, saya mencari jam dinding yang jarumnya bergerak ke kiri. Ada kan pak ?” tanyaku pada pemilik toko.
apa kau sudah gila ? sana pergi !” timpalnya.
Lalu aku segera meninggalkan toko itu.lalu kulangkahkan kakiku ke toko jam di seberang jalan.
pak, tolong berikan saya satu jam dinding yang bergerak ke arah kiri” ucapku dengan penuh harap.
 silahkan kau putar sendiri jarumnya sepanjang waktu, dasar bodoh” ujar pemilik toko.
            Beberapa toko yang telah ku datangi semua menimpaliku dengan cemoohan dan juga sebutan orang sinting.Ada apa ini?apakah mereka sudah terlalu terlena dengan melihat jam bergerak ke kanan setiap harinya ? atau aku memang sudah gila ? TIDAK..Mereka yang tidak waras, pikirku.Aku juga tak mengerti hingga akhirnya aku memasuki sebuh toko di sudut jalan.Toko itu tak begitu besar, cukup tua kelihatannya dan sedikit kotor. Aku masuk dan kakek tua sudah berdiri dihadapanku dengan jam dinding kuning keemasan telah ada ditangannya. Jarumnya bergerak ke kiri.
“ini kan yang kaucari ?” ucapnya sambil meringis.
 “iya, bagaimana kakek bisa tahu ?” tanyaku penasaran.
“cukup kau ambil ini, dan perbaiki apa yang ingin kau perbaiki”ujarnya padaku dengan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.
 Aku diam sejenak sambil memperhatikan setiap bentuk lekuk jam itu. tanpa ragu aku langsung mengambilnya. Ku rogoh saku ku untuk mengambil beberapa lembar uang tapi dengan sigap kakek itu menolak aku membayarnya.
“ambil saja, ini untukmu. Aku sudah lama menunggumu datang mengambilnya”.Ucap kakek tua dengan barisan gigi palsunya yang rapih tak senada dengan kerutan rupanya.
Tak banyak tanya lagi. Tapi ribuan pertanyaan menghujani ku. Untuk sekarang tak apa, nanti saja aku pikirkan.
 “terima kasih banyak kek…” aku berlalu meninggalkan kakek itu dengan senyum sumringah.
 
            Kupasang jam dinding itu di kamarku, tak lagi diruang tamu. Pukul 12.00 malam, aku terus menungguinya, menatapnya dengan khidmat.Tiba-tiba jarumnya memang berubah arah.Jarumnya yang panjang tiba-tiba menarik lenganku dengan halus, aku mengikuti langkahnya terus menerus hingga akhirnya aku berada tepat di atas pijakan angka 11.
            Di angka 11, aku bertemu dengan Si ‘Pengkhianatan’.Dia menjamuku dengan baik diruang tamunya, menyuruhku menginap disana lebih lama. Aku sempat terlena dengannya, tapi tak kubiarkan , semenit yang lalu ia baru saja kabur dengan meninggalkan goresan luka ditangan kiriku.
            Kemudian aku pergi meninggalkan Si’Pengkhianatan’ yang kusebut tak berperasaan itu.Di angka 10 aku bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Dia di detik itu memberiku hadiah yang sudah lama ku idamkan.Begitu singkat rasanya perjalananku ketika bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Aku pergi hingga pijakanku di angka 9 mempertemukanku denga Si ’Perhatian’.Ia kaget melihat luka ditangan kiriku. Dengan sigap ia mengobatinya. Pelan dan juga lembut dan terakhir sebelum aku meninggalkannya ia mengusap lembut kepala kemudian pipiku. Aku tersipu.
            Aku kembali melangkah ke angka 8 dan bertemu dengan Si ‘kemarahan’.Aku takut berhadapan dengannya.Ia menyala pun berapi. Ia terus memaki ku, menghakimiku atas masa lalu yang diangapnya salah. tanpa permisi akupun kabur. Batinku menangis menemuinya, menyesal telah mampir.
            Angka 7 menjemputku membawaku menemui Si ‘Kekecewaan’. Detik itu ia menangis sambil tertenduk lesu. Kutanya kenapa tapi ia enggan untuk berucap apa-apa, terus saja menangis sambil mencoret-coret tanah dengan jari telunjuknya. Aku tak mengerti, kurasa aku sudah mengenal Si ‘Kekecewaan’ ini, tapi lirih suaranya tak kunjung ku dengar.Aku pun pergi hingga tiba di pertengahan waktu angka 6.Disitu aku di ajak kerumah Si’Bahagia’.Disana aku berdansa dengannya, berbagi cerita juga tertawa bersama. Jika kutengok sesekali waktu, oh ternyata aku sudah cukup lama bermain dengan Si ‘Bahagia’ tapi kenapa aku merasa baru sebentar, sekitar semenit 47 sekon mungkin ?entahlah, begitu singkat rupanya.
            Aku tiba di angka 5 dan bertemu dengan Si ‘Kebencian’.Dia sedang berada di bibir pantai dengan bongkahan batu ditangannya.Ia menghadap laut.
“apa yang akan kau lakukan dengan batu itu?” tegurku padanya.
 “kau diam !” dia mengagetkanku seketika. “aku akan melempari langit karena aku begitu membencinya” tambahnya.
 “heii, kenapa kau membencinya ? bukankah ia begitu indah ?” aku berusaha menenangkannya.
“dia terlalu senang merubah warnanya, aku benci ketika hitam gelap malam merenggut merah senjaku. Dia sungguh jahat” dengan penuh amarah dia berucap itu.
“kau tak boleh melakukan itu.” aku menghalanginya.
“pergi !aku bilang pergi sekarang juga. Enyahlah dari hadapanku, tak usah kau ikut campur.” sambil mendorongku hingga berjarak dengannya.
            Aku pun berlari meninggalkannya. Jarum jam itu menarik kembali lenganku. Membawaku ke angka 4 dan bertemu dengan Si ‘Kesederhanaan’.Aku melihat dia sedang duduk bersenda gurau dengan keluarga kecil dirumah mungilnya.Tapi aku tak mampir hanya sekedar menengok.Angka 3 mempertemukanku dengan Si ‘Kesabaran’.Ia berada diberanda rumahnya dengan tatapan kososng. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“silahkan masuk.”Ucapnya.Aku kaget karena ternyata ia menyadari keberadaanku. Belum sempat aku bertanya tiba-tiba saja ia berkata padaku “ bisa kau temani aku menunggunya ? katanya dia akan tiba 10 menit lagi. Aku merindukannya, sangat.”
“siapa gerangan yang engkau tunggu, tapi maaf, aku benar-benar tak bisa berlama-lama disini.” “aku menunggu dia. tak apa, aku hanya akan terus menunggu dia sendirian hingga nanti” sekali lagi ia mengulang kalimatnya. “aku merindukannya, sangat.”
Aku tak tahu persis siapa gerangan yang ia tunggu. Mungkin saja kekasihnya, anaknya atau suaminya yang berada di negeri antah berantah.Lalu aku kemudian pergi tanpa permisi.Lagi.
            Di angka 2 aku menemui Si ‘Ketulusan’.Dia disibukkan dengan membantu korban-korban bencana kemarin sore. Baru selangkah aku ingin membantu tapi jarum itu menarik kuat lenganku sambil berkata, “cepat, waktu kita hampir habis !”
Pijakan ku tepat di angka 1 kini.Aku bertemu dengan Si ‘Keikhlasan’.Dia memberikanku sebuah album foto.Foto perjalanan sepanjang masa silam.Tak ku ketahui berapa ribu tahun lalu tepatnya. Lalu ia menepuk bahuku lalu berpesan “lihat yang lalu, palajari hari ini, melangkah lah esok.”
1 menit 54703 sekon 37905 mata kaki dariku dia lenyap dihadapanku seketika.
            Sembari melangkah aku terus memikirkan nasehat itu.hingga akhirnya angka 12 menamparku mengajak aku bertemu segera dengan Si ‘Kesadaran’. Aku terperanjat, ku tengok lengkungan angka-angka yang telah kulalui sejauh ini.
            Aku berkelana mengelilingi waktu yang bergerak melawan arah, menemui sifat atom-atom duniawi yang tak kekal itu.
 

Tiba-tiba…

Kurasakan selang tipis itu melekat di pergelangan tanganku.Tepat dibawah saluran nafas hidungku ku pun kurasa selang itu melintas.Mataku tak dapat ku buka.Gelap sejadi-jadinya.“Apa aku sakit ?”
“tidak”, pikirku.
“Aku baik-baik saja, tentunya.”

 
Dan tiba-tiba…

Kudengar suara seseorang mendekat.Lalu bertanya “dia bagaimana ?”
lalu suara ibuku menjawab tepat disebelahku. Telingaku merekamnya baik-baik.
“12 jam waktu meninggalkan kita, dia masih KOMA,”…

Senin, 29 Juni 2015

Kemarin dan Hari ini

Pertemuan kita kala itu entah untuk yang keberapa kalinya, otak ku tak mampu lagi menghitungnya. Asal kau tahu saja, hari itu aku bahagia.

Meski tak lengkap, tapi kurasa kita masih selalu berusaha untuk melengkapi yang tak lengkap. Aku duduk di tengah-tengah, menyebar pandangan ku ke raut wajah kalian satu persatu sambil menunggu pesanan coto bakar dan jus melon ku.

Beberapa rangkaian episode cerita kemarin mengundang kegaduhan di mulut kita tanpa mempedulikan bahwa beberapa pasang mata tengah menatap ke arah kita. Tak peduli ! Itu saja.

Beberapa menit berselang, pesanan ku tiba. Aku mencicipinya, hmmm.. terlalu manis rasanya memiliki jus melon ini. Aku menanggalkannya. Tak lama, suara gemuruh yang entah dari mana asalnya begitu mengganggu ku. Aku beranjak dari kursi busa rumah makan dan ternyata di luar sana ada perang antar saudara ku rupanya.

Kau tahu, aku menyaksikan perang itu berlangsung lama. Tak ada diantara mereka yang ingin mengakhiri, pedang tajam masih berada di jurang bibir siap menghunus hati lawannya. Aku sendiri menyebutnya pertempuran kehendak. Mereka mengangkat sejarah sebagai iming-iming langkah kita hari ini. "Mengapa semua berubah ?" Salah seorang dari mereka berteriak.

Aku heran mendapati mereka jauh di luar dari yang ku bayangkan. Bukankah hidup berevolusi kawan ?, kau pernah bilang "kita memiliki sejarah yang terlupakan" aku masih ingat betul kata mu itu. Ku pikir, si 'kemarin' hendak melarikan diri dari kita, lalu si 'hari ini' akan merangkak mencari kepingan sejarah baru untuk kemudian membuatnya menjadi artefak. Sungguh ironi..

Aku ingin Tuhan memberikan beberapa pasang mata di kepala manusia, agar semua dapat melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda tanpa harus di perintah seperti anak kecil yang masih butuh asupan kata-kata akan realita.

Akhh, sudahlah..
bukankah bahagia sederhana jika kalian memahami makna "Kita" ? Paham bahwa ini bukan alinea terakhir...

Seperti biasa aku diam, menyaksikan waktu sedang menertawakan kita...

Teruntuk Sahabat Angin...

Selasa, 23 Juni 2015

Barangkali

Barangkali aku hanya menduga-duga. Menduga sesuatu yang tak semestinya di duga. Hari ini, langit menangis tanpa henti di kampung halaman yang sudah lama gersang. Bagaimana mungkin aku tidak mengingat setiap penggal cerita yang kemarin biasa kau titip lewat rintiknya.

Barangkali aku hanya menerka-nerka. Menerka sesuatu yang tak semestinya di terka. Huruf-huruf namamu, garis wajahmu yang masih ku hafal betul tata letaknya di bibir jiwa. Bagaimana mungkin kau menemuiku dengan menarikan segala kepura-puraan di matamu.

Barangkali aku hanya mengira-ngira. Mengira sesuatu yang tak semestinya di kira. Di luar sana, mereka melempari ku dengan kata-kata yang di tolak oleh telingaku. Aku takkan mau juga takkan mampu menghitung rasa. Tuhan menganugrahi ku sebuah rasa yang membuatku sakau rupanya.

Ah, sudahlah. Aku enggan meratap. Yang aku tahu, aku pernah berusaha menjadi pribadi yang terbaik hingga akhirnya lupa menjadi pribadi yang menyenangkan. Entah ini hanya dugaan, perkiraan ataupun terkaan, aku tak lagi tahu.

Ini perihal menanggalkan dan meninggalkan. Aku tak memaksamu untuk paham. Cukup.

Senin, 08 Juni 2015

Sungai Rahasia

Perempuan mengintip di balik celah daun pintu
Sang surya tanpa permisi melahap retinanya
Sayu, seduh sedan, mungkin cukup begitu reaksinya.

Seketika milyaran kata kerja turun menghujam
Ia masih memilah dengan waspada
Tangannya masih mengais sisa-sisa rindu yang sejak kemarin malam menyelinap lalu menginap
Pandangan masih ia sebar ke suluruh pojok semesta, tanpa terkecuali.

Hingga tiba, aliran air deras menamparnya. Semenit lalu, sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu, setahun lalu, lahannya tandus juga penuh kerikil. Tapi tidak untuk hari ini.

Aliran itu membentuk danau-danau berhutan rawa. Semak rindu masih di huni binatang buas. Pohon masih bercumbu mesra dengan tanah yang basah. Sedang rumput-rumput masih menertawakan semua adegan yang tak begitu romantis.

Perempuan mencoba bermain dengan anak kecil di pinggiran. Seulas senyum muncul namun jelas palsu. Sekeping hati telah di luluhlantahkan, menyisakan nanah yang tak kunjung pulih. Aliran air itu masih mengalir deras, melebihi besarnya sungai mahakam, melebihi panjangnya sungai gangga yang dianggap suci orang-orang.

Sekali lagi, perempuan menegaskan bahwa ini bukan pulau cinta, juga bukan lautan rindu, tapi...
Sungai rahasia.

Selasa, 02 Juni 2015

Surat untuk Sang Pengganti

Teruntuk Sang Pengganti,

Haii..
Surat ini ku awali dengan sapaan hangatku untukmu...

Mengingat saat ini kau adalah orang yang dia cintai, ku pikir ada beberapa hal yang perlu kau ketahui.
Jangan kaget jika kau jatuh cinta padanya hanya dalam waktu singkat. Tak bisa ku pungkiri itu.

Kita memang tidak saling mengenal. Pun kita juga tak pernah bertatap muka ataupun bertegur sapa sebelumnya. Kau tahu, ia akan memanjakanmu dengan rangkaian kata-kata indahnya layaknya sang pujangga. Mengawali pagi mu, menjemput siang mu, hingga mengakhiri malam mu, terus saja ia manjakanmu.

Kau akan mengetahui film favoritnya, dan bagaimana dia terlarut dalam hal itu. Kau juga akan mengetahui tim sepakbola andalannya, dan segala kegilaannya akan dunia bola yang kadang ia sebut sebagai dunianya. Kau tahu, di setiap malam minggu ia akan menghabiskan waktu untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, jikalau sempat segeralah duduk tepat disampingnya, menemaninya menonton, melihat kegirangannya dan mendengar teriakan euforianya ketika sebuah goal telah dicetak. Akan menyenangkan pikirku.

Dia tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan hubungan, jadi jangan berharap darinya, namun ketahuilah bahwa dia mencintaimu. Dia mungkin tidak akan memikirkanmu setiap saat, tapi kau akan selalu terlintas dalam benaknya.

Dia teman diskusi yang asik. Diskusi tentang apapun itu, terlebih jika kalian membaca satu buku yang sama kemudian mendiskusikannya, itu hal yang sangat ia gemari. Penggila diskusi. Atau bisa saja kalian menciptakan sajak ataupun sebuah lagu. Tapi pastikan dia yang jadi pemain gitarnya sedang kau yang jadi vokalisnya, karena mungkin suaranya tak begitu bagus (bercanda), tapi dia akan selalu bernyanyi sebisa dan segila yang dia mau. Kau tahu, tingkahnya begitu lucu saat kau menyinggung lirih suaranya ketika sedang bernyanyi.

Dia seorang pemimpi. Jadi, tugasmu adalah mengatakan bahwa ia mampu melakukan semuanya. Selain mendukung setiap langkahnya, ku harap kau ada dalam rencana ataupun mimpinya.
Dia membuatmu melihat dunia dalam sudut pandang yang berbeda, dan akan ada banyak pertanyaan yang ingin kau ketahui darinya. Bicaralah padanya apa yang ingin kau bicarakan karena ia pendengar yang baik, dan sedikit tidak menyukai diam yang lama.

Ketika kalian berdua pergi keluar, tugasmu adalah memilih tempat makan dengan tepat. Ia tidak suka dengan kata 'terserah'. Pastikan ada kecap manis untuk dia saat kalian tengah menyantap makanan, ku rasa kau sudah tahu bahwa ia tak menyukai rasa pedas. Ketika kau berdansa dengannya, itu adalah hal yang sempurna. Dan ketika kau menanyakan masa lalunya, jangan mendesaknya. Ia akan menceritakanmu bila waktunya telah tiba.

Dia akan memintamu untuk membangunkannya ketika fajar telah menyingsing, mungkin karena pekerjaan mendesak yang harus ia selesaikan di pagi hari. Jika ia lelah, rebahlah ia tepat disampingmu. Kemudian ia akan segera terlelap dengan kau mengusap lembut kepalanya. Biarkan ia rehat sejenak dari segala penatnya, tak usah kau bangunkan. Tunggulah sampai ia terbangun dengan sendirinya tak peduli tungkai kakimu menjadi sedikit ngilu karena menahan beban kepalanya. Sungguh detik yang sempurna melihat dia terlelap di sebelahmu.

Dia adalah orang yang kadang terjebak dalam dunianya sendiri. Ketahuilah, jangan lengah untuk menunggu ia kembali, berusahalah selalu menyeimbanginya. Tetaplah ditempatmu tanpa beranjak sejengkalpun. Ia akan kembali jikalau kau memang rumahnya.

Dia mencintai hujan. Sesuatu yang selalu ia nikmati sambil mendengarkan lagu kesukaannya di samping jendela kamarnya. Potret dunia ada dalam lensanya, dan juga ia akan selalu menangkap gambar rupamu dalam bidikan kameranya.

Aku berharap kau mencintainya sebanyak yang ia pantas dapatkan, dan aku berharap dia mencintaimu sedalam yang aku pikirkan. Aku berharap dia jujur padamu, tak usah ku jelaskan seperti apa dia padaku. Tapi dari semuanya, aku berharap kamu mendapatkan kisah cinta seperti dalam dongeng yang tak kudapatkan darinya.

Bukannya bermaksud apa-apa. Tapi kalau boleh jujur, aku iri padamu.

Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu denganmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita memiliki hubungan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan aku yakin kau adalah orang yang baik. Dia melihat pribadi dari seorang perempuan sebelum jatuh hati pada penampilan fisiknya. Kurasa dia tak salah memilihmu.

Aku hanya minta satu hal darimu ; jangan menyakitinya, juga jangan sampai ia menyakitimu. Aku tidak pernah berharap bahwa rasa sakit itu menimpa siapapun, terutama dia ataupun kau.

Kau menjalin kasih dengan seseorang yang begitu istimewa untukku. Kau tahu, aku benar-benar tulus ketika mengatakan bahwa aku berharap semuanya berjalan dengan baik untuk kalian berdua.

Terima kasih...
Terima kasih untukmu, karena telah menjaga hatinya dan telah membuatnya kembali jatuh..


Dengan tulus,
Perempuan yang sempat singgah dipersimpangannya...

Minggu, 24 Mei 2015

Untitled

Belum ku nikmati betul potongan es krim karamel ku. Lelehannya menetes di atas kemeja merah jambu yang tengah ku kenakan. Ku bersihkan dengan selembar tissue putih yang tipis, tapi tak sampai benar-benar bersih. Kembali ku coba mengecap sisa-sisa lelehannya di ujung jari, tapi alat pengecapku sama sekali tak berfungsi. Manis tak lagi terasa, dingin tak lagi ada, semua hambar sejadi-jadinya.
Lalu..
Kusegerakan saja meninggalkan rasa yang tak lagi punya rasa itu, pikirku.

Sepasang sepatu lusuh membawaku ke jalan tak berpenghuni. Hanya ada aku seorang diri. Sedikit mengangkat pergelangan tangan kiriku, menengok jam yang jarumnya terus melangkah dari angka ke angka. Tik..tak..tik..tak..tik..tak, detakannya terdengar jelas di 1/3 malam itu.

Dengan ringan kaki kanan ingin melangkah, kutengok kebawah tapi ada apa ini ? Kakiku tak bergeser bahkan 1 mm pun. Sendi ku ngilu, tungkai kaki rapuh yang bahkan untuk menopang tubuhku pun sudah tak mampu. Semampunya tangan ku gunakan untuk meraih ranting disekitar, tapi apa daya bahkan berayun pun sudah tak berpotensi. Pun ranting pepohonan itu terlalu menjulang ke langit.

Aku tersungkur. Rebahlah sudah tubuh ini di lumpur kotor, becek dan tak mengenakkan indra penciuman. Aku tak apa juga tak mengapa. Pita suaraku terputus seketika, mata ku hanya memandang langit yang tak kunjung cerah itu.

Masih sempat, ku tengok ke bagian belakangku. Benda itu nyata, tancapannya dalam, dan sakitnya sungguh tak ku kenali, amat sakit melebihi sakitnya jantung yang dihunus secara tiba-tiba lalu di koyak habis-habisan. Ketika itu, tubuhku melayang tepat diatas ku, terbang bersama waktu yang juga meninggalkanku. "Selamat tinggal, bukan lagi sampai jumpa" ucapnya padaku. Kupandangi tubuhku diatas sana yang sudah berjarak denganku.

Dengan sedikit senyum, ia memandangi belati itu masih tertancap dalam tepat dibelakangku dan tak meninggalkan jejak...

Minggu, 03 Mei 2015

Negeri ini masih haus

Tentang sebuah dunia yang perlu direnungkan…
Tentang sebuah polemik yang tak ada habisnya..
Dunia Pendidikan di negeri tercinta, 2 mei kemarin diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Namun seiring waktu berjalan muncul pertanyaan “apakah kesejahteraan yang diberikan oleh pemerintah dibidang pendidikan berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan ?”
Lihatlah hari ini, masih begitu banyak anak Indonesia yang menghabiskan hari mereka dengan mengais sampah dikolong jembatan, menadah tangan di warung-warung makan pinggir jalan, memainkan gitar dengan petikan tak bernada diikuti suara melengking karena kedinginan dibawah hujan menunggu kereta besi mewah berhenti di lampu merah jalan kota.
Semestinya, bukan disitu tempat mereka. Pakaian putih-merah hati, putih-biru, dan putih-abu-abu lah yang menjadi pakaian sehari-harinya. Meja, kursi, dan papan tulislah yang menjadi wadah mereka. Dan juga buku-buku dan pulpen lah yang seharusnya jadi makanan sehari-hari mereka dalam menimba ilmu. Lalu kenapa di daerah-daerah terpencil, mereka selalu saja termarginalkan, begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Lalu, yang kita lihat hari ini tak sesuai dengan harapan. Sebuah terobosan baru untuk dunia pendidikan Indonesia yang diagungkan oleh pemerintah tak jua memberantas polemik-polemik yang sedari dulu sudah menjadi masalah tanpa batasan waktu, tak kunjung redah rupanya.
Belum lagi, masalah-masalah lain yang membuat kita seolah tak mampu bersaing dengan Negara asing. Mulai dari kurikulum, biaya, fasilitas, tujuan pendidikan, juga RUU (Rancangan Undang-Undang) BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menuai kontroversial dikalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya liberalisasi dalam dunia pendidikan.
Belum lagi masalah para pendidik yang memenuhi kualifikasi diberikan penghargaan berupa gaji dua kali dari gaji pokok ketika mereka telah menyandang gelar pengajar professional. Sehingga para pengajar, pendidik akan berbondong-bondong untuk meraih status dan penghargaan tersebut tanpa memikirkan “ apa mereka layak mendapatkan hal tersebut?”
Wahai para kaum terdidik, dimana kalian sampai hari ini ? belum juga menampakkan pada dunia bahwa kalian dibutuhkan. Apakah kalian masih menutup mata dengan seabrek masalah yang tidak lain kuncinya ada ditangan kalian ?
Wahai para kaum terdidik, segeralah tersadar bahwa negeri  ini membutuhkan ilmu mu, untuk kalian bagi kepada mereka yang begitu membutuhkannya…

Mungkin, negeri ini masih haus akan ilmu…

Kamis, 23 April 2015

Senja Di Kota Daeng



Di sudut cakrawala
masih kugantungkan sebuah harap
langit masih mendengarnya
pun bumi masih menampungnya…

Memelukmu dari kejauhan
sungguh tak apa
ia masih menyaksikan kita dengan bisu
dengan merah jingganya yang sempurna…

Senja di Kota Daeng...
saya mencintainya...
lagi dan lagi...


Senin, 20 April 2015

Fantasi

Seketika terbangun dari sisi nyamanku malam itu, mendapati diriku dengan keadaan pipi yang sudah basah dan mata yang sembab. Yahh, saya bermimpi tentangmu.

Akhir-akhir ini saya terlampau sering bermimpi tentangmu. Bukan sekali tapi berkali-kali. Dengan ego yang tinggi, saya memaksa otak untuk memaknai mimpi-mimpi itu tak lebih dari bunga tidur semata, juga tak bermakna apa-apa.

Malam-malam kemarin fantasi mimpi begitu jelas terasa. Mendapatimu dengan senyum sumringah menghampiriku, mendapatimu pergi jauh lalu menghilang, mendapatimu terbaring lemah tak berdaya hingga membuatku menangis sejadi-jadinya, lalu tiba-tiba fantasi itu melebur menyisakan pipi yang sudah becek dengan air mata dalam ruang gelap.

Hei, saya menyapamu hari itu dengan kau membalasnya. Saya begitu menghargai setiap inchi pertemuan kita, membuatnya selalu bermakna. Kau tahu, saya masih menyimpan buku kita. Kertas putihnya yang masih kosong tak pernah menahanku untuk tidak menorehkan tinta diatasnya. Sampai detik ini, saya masih menulis tentang kita di buku itu, sampai nanti, sampai akhir halamannya.

Sampai hari ini...
Masih ditempat ini...
Saya benar-benar kalah...

Senin, 06 April 2015

Di kota itu

Untuk kali kedua, aku kembali menginjakkan kaki di kota itu, kota kelahiranmu. Salah satu kota di Sulawesi Selatan dengan suguhan panorama alam yang indah, tak kupungkiri itu. januari 2014, bersama 4 orang teman kala itu, aku menuju kota mu dengan alasan menjalankan suatu misi kelembagaan. Masih terekam jelas di ingatan saat aku sedikit memaksamu untuk ikut dalam rombongan, dengan dalih menjadi guide untuk ku dikota mu nantinya.
Sungguh masih mendecak kagum di ingatan saat kau dengan jahilnya memaksaku untuk memenuhi ajakanmu menikmati angin malam disebuah pantai setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup membuat tulang belakangku ngilu. Dengan anggukan sedikit malas aku mengiyakan ajakanmu, tak peduli lagi dengan piyama biru yang ku kenakan malam itu, salah kostum sepertinya.
3 hari berada di kota itu, namun banyak cerita yang perlu kutuliskan. Kau tahu, kala itu aku merasa mulai ada rasa yang tak biasa. Tatapanmu, tingkahmu, perlakuanmu terhadapku kurasa semua beda dari biasanya. Kala itu, ketika kita tengah asik bermain game berdua, ketika aku mengistirahatkan diri sejenak di kamarmu, sampai ketika aku dan teman bereksperimen di dapur kediamanmu, sungguh lucu rasanya.
April 2015, kembali ku menginjakkan kaki dikota itu. kali ini bukan karena urusan mendesak yang harus kuselesaikan, namun kali ini lebih tepatnya disebut liburan. Bersama 6 orang teman, kami melakukan perjalanan panjang dengan Pantai Apparalang dan juga Pantai Bara di daerah Bulukumba Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Hingga akhirnya petualangan di akhiri dengan menikmati nasi kuning disalah satu kediaman teman malam itu. Kau tahu, aku layaknya terdakwa malam itu, dihakimi dengan berbagai kecaman dibarengi dengan realita akan cerita kita. Mereka menghakimiku, lidahku kelu, hanya diam. Seperti itu saja.
Keesokan harinya, melakukan perjalanan ke gunung dan mengunjungi taman bunga setidaknya menjadi hal yang menyegarkan bagi pikiranku saat itu. Sedari pagi kudapat kabar bahwasanya kau juga tengah melakukan perjalanan ke kota mu. Sedikit bahagia, dengan harap kita bisa bertemu kala itu namun sedikit takut dan juga ragu, aku masih enggan menemuimu. Entahlah…
Di kota itu, tentang mu masih tak pernah luput dari ingatan. Namamu masih tak pernah samar di telinga dan rupamu masih tak pernah buram dari pandangan. Kata mereka, ditahun kemarin aku datang untuk memulai sebuah cerita namun di tahun ini aku datang untuk mengenang cerita yang kini hanya jadi cerita, dan ditahun berikutnya yang akan datang entah cerita genre apa lagi yang akan aku lakonkan.
Kau tahu, kau masih saja menyerangku, mencekik lalu menikam rasaku hingga akhirnya terperangkap, tak bisa kemana-mana dan masih disini, tak beranjak sejengkal pun dan masih tak baik-baik saja.
Di kota itu, semesta menertawakan kita…
Di kota itu, awal dan akhir ku temui…

Awal dan akhir
Untuk dua tahun perjalanan di kotamu

R…