Matamu perlahan terbuka, bukan karena mimpi buruk atau karena ingin buang air kecil yang membangunkanmu dari tidur malam yang sedikit lebih awal tadinya. Kau kepanasan rupanya. Rambut mu mulai basah karena keringat hingga membuat sarung bantal dan kapuk didalamnya ikut lembab. Kau lupa menyalakan kipas angin. Selimut yang telah disediakan oleh ibumu di sudut ranjang masih terlipat rapi, kau tak menggunakannya malam itu. Kamarmu hitam sejadi-jadinya, jendela ternyata kau tutup rapat ditambah horden hijau gelap membuatnya semakin jauh dari kata terang. Tiba-tiba saja kau kesulitan mengatur nafas, beberapa menit meninggalkan tapi tak kunjung normal. Kau masih takut gelap ?
Kau menahan diri untuk tidak beranjak memencet sakelar lampu disamping pintu kamar. Apa kau mencoba melawan takut mu ?... yah, kau berhasil melawannya tapi tiba-tiba gelapnya menyeretmu untuk mengingat sepenggal kisah kemarin. Cerita dimana saat itu kau menjadi begitu bodoh untuk mempertahankan sesuatu yang tak semestinya dipertahankan. Cerita dimana kau menjadi seorang pejuang dengan kaki tangan yang sudah lumpuh sedari awal. Kau menyesal ?
Matamu sedikit sayu malam itu, memori mu dipaksa untuk memungut keping-keping kenangan yang sudah berhamburan disepanjang jalan. Kau hafal betul setiap inchi perjalananmu bersama dia. Tiba-tiba kau ingin sekali menulis, tapi dengan sigapnya kau mengurungkan niat untuk itu. Kau berpikir bahwa ini hanya akan jadi tulisan rengekan yang begitu cengeng nan melankolis. Layaknya penulis pemula yang hanya bisa menulis tentang perasaan kegirangan saat cinta menimpa, perasaan tersayat-sayat saat cinta pergi, tersakiti, kemudian merasa tak hidup lagi. Siklusnya kurang lebih akan berputar seperti itu.
Lampu kamar akhirnya kau nyalakan. Kau kemudian menuju lantai dua teras rumahmu, duduk manis dikursi plastik merah dengan lantai sedikit basah karena gerimis sempat lewat seperti iklan minuman isotonik bervitamin berdurasi 30 detik, sekejap saja. Itu tempat favorit mu di kediaman. Disana kau selalu mengadu ke langit tentang cuaca hatimu setiap harinya, tapi kau lebih suka menghabiskan waktu disana saat malam tak peduli jika sesekali nyamuk mengajakmu untuk berperang, tak kau hiraukan.
Kau mengecek ponselmu yang tak berdering sejak pagi tadi, panggilan telepon atau pesan dari siapa yang hendak kau tunggu ? Kau tersadar bahwa oktober hampir berakhir, kado darimu belum juga dia terima sejak dua bulan lalu. Bagaimana tindakanmu ? Kau membiarkan hadiah kecil itu tak memiliki pemilik ? Ternyata kau membiarkannya seperti itu. Di tahun kemarin, kau ingat betul bagaimana degup jantungmu dibuatnya menjadi tak normal, bagaimana tingkahmu begitu kikuk ketika ditatap olehnya dan bagaimana tembok pertahanan yang sudah kau bangun bertahun-tahun lamanya, tembok yang tak kau biarkan seorangpun mendekatinya tapi berhasil diruntuhkannya. Kau sendiri tak percaya kala itu. Dia akhirnya kau izinkan untuk melangkah ke beranda mu, lalu masuk keruang tamu mu. Cukup lama ia menjadi tamu rupanya, lalu kemudian dengan sebuah alasan yang tak kalian pahami tapi kalian memaksa otak masing-masing untuk membuatnya menjadi paham, lalu menjadikannya konklusi dari sebuah teka teki perjalanan. Kau akhirnya terdiam menatap punggungnya yang berlalu meninggalkan ruang tamu mu yang sudah menjadi berantakan, pecahan cangkir teh yang telah kau seduhkan telah berserakan kemana-mana. Selang beberapa waktu, dunia mengirimkanmu beberapa potong gambar yang membuatmu akhirnya mengerti bahwa melepaskannya adalah pilihan paling bijak yang pernah kau ambil, sedang mempertahankannya adalah pilihan yang sedikit tak waras yang pernah kau ambil pula.
Kau seketika tertawa pelan, mengingat janji-janji yang telah ia rapalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat dihadapanmu entah di hari keberapa, jam berapa, menit dan detik keberapa kebersamaan kalian. Dia yang telah berani mengajakmu merancang masa depan bersama dan masih banyak lagi yang tak perlu di ingat satu persatu. Bibirmu sempat dibuatnya selalu manis karena senyum, senyum karenanya. Disisi lain, matamu sempat dibuatnya menjadi lahan yang selalu basah, basah karenanya. Kau sempat berpikir, betapa perpisahan tidaklah berarti apa-apa untuk dia. Hanya diawal dia merasa bahwa perpisahan layaknya raungan kematian yang akan merenggut nyawanya, tapi apa mau dikata melupakan bukanlah perkara yang rumit untuknya. Begitu mudah baginya.
Ponselmu tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk tapi enggan kau buka. Pukul 02:00 wita, lamunanmu akhirnya buyar. Kau sadar, betapa ruang mu telah berantakan sejadi-jadinya. Mulai sekarang kau akhirnya ingin membereskan pecahan-pecahan yang telah berserakan itu, membersihkan jejak kaki diberanda mu, lalu membangun kembali tembok pertahanan yang kokoh. "Tenang saja, ini takkan menjadi akhir dari dialog kita. Sapa mu akan kubalas sapa, senyum mu akan balas senyum pula jikalau suatu ketika salah satu dari kita berkenan untuk melemparnya. Tapi, rasanya tidak pantas rintik hujan mu kembali ku dialogkan dengan senja ku, juga takkan kubiarkan lagi kau mendekat bahkan menyentuh seinchi pun beranda hatiku, tidak akan lagi." Batinmu.
Kau beranjak dari kursimu, mengakhiri malam lalu berbisik kelangit "setelah perpisahan tak ada yang baik-baik saja, bukan ?"








