Senin, 29 Juni 2015

Kemarin dan Hari ini

Pertemuan kita kala itu entah untuk yang keberapa kalinya, otak ku tak mampu lagi menghitungnya. Asal kau tahu saja, hari itu aku bahagia.

Meski tak lengkap, tapi kurasa kita masih selalu berusaha untuk melengkapi yang tak lengkap. Aku duduk di tengah-tengah, menyebar pandangan ku ke raut wajah kalian satu persatu sambil menunggu pesanan coto bakar dan jus melon ku.

Beberapa rangkaian episode cerita kemarin mengundang kegaduhan di mulut kita tanpa mempedulikan bahwa beberapa pasang mata tengah menatap ke arah kita. Tak peduli ! Itu saja.

Beberapa menit berselang, pesanan ku tiba. Aku mencicipinya, hmmm.. terlalu manis rasanya memiliki jus melon ini. Aku menanggalkannya. Tak lama, suara gemuruh yang entah dari mana asalnya begitu mengganggu ku. Aku beranjak dari kursi busa rumah makan dan ternyata di luar sana ada perang antar saudara ku rupanya.

Kau tahu, aku menyaksikan perang itu berlangsung lama. Tak ada diantara mereka yang ingin mengakhiri, pedang tajam masih berada di jurang bibir siap menghunus hati lawannya. Aku sendiri menyebutnya pertempuran kehendak. Mereka mengangkat sejarah sebagai iming-iming langkah kita hari ini. "Mengapa semua berubah ?" Salah seorang dari mereka berteriak.

Aku heran mendapati mereka jauh di luar dari yang ku bayangkan. Bukankah hidup berevolusi kawan ?, kau pernah bilang "kita memiliki sejarah yang terlupakan" aku masih ingat betul kata mu itu. Ku pikir, si 'kemarin' hendak melarikan diri dari kita, lalu si 'hari ini' akan merangkak mencari kepingan sejarah baru untuk kemudian membuatnya menjadi artefak. Sungguh ironi..

Aku ingin Tuhan memberikan beberapa pasang mata di kepala manusia, agar semua dapat melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda tanpa harus di perintah seperti anak kecil yang masih butuh asupan kata-kata akan realita.

Akhh, sudahlah..
bukankah bahagia sederhana jika kalian memahami makna "Kita" ? Paham bahwa ini bukan alinea terakhir...

Seperti biasa aku diam, menyaksikan waktu sedang menertawakan kita...

Teruntuk Sahabat Angin...

Selasa, 23 Juni 2015

Barangkali

Barangkali aku hanya menduga-duga. Menduga sesuatu yang tak semestinya di duga. Hari ini, langit menangis tanpa henti di kampung halaman yang sudah lama gersang. Bagaimana mungkin aku tidak mengingat setiap penggal cerita yang kemarin biasa kau titip lewat rintiknya.

Barangkali aku hanya menerka-nerka. Menerka sesuatu yang tak semestinya di terka. Huruf-huruf namamu, garis wajahmu yang masih ku hafal betul tata letaknya di bibir jiwa. Bagaimana mungkin kau menemuiku dengan menarikan segala kepura-puraan di matamu.

Barangkali aku hanya mengira-ngira. Mengira sesuatu yang tak semestinya di kira. Di luar sana, mereka melempari ku dengan kata-kata yang di tolak oleh telingaku. Aku takkan mau juga takkan mampu menghitung rasa. Tuhan menganugrahi ku sebuah rasa yang membuatku sakau rupanya.

Ah, sudahlah. Aku enggan meratap. Yang aku tahu, aku pernah berusaha menjadi pribadi yang terbaik hingga akhirnya lupa menjadi pribadi yang menyenangkan. Entah ini hanya dugaan, perkiraan ataupun terkaan, aku tak lagi tahu.

Ini perihal menanggalkan dan meninggalkan. Aku tak memaksamu untuk paham. Cukup.

Senin, 08 Juni 2015

Sungai Rahasia

Perempuan mengintip di balik celah daun pintu
Sang surya tanpa permisi melahap retinanya
Sayu, seduh sedan, mungkin cukup begitu reaksinya.

Seketika milyaran kata kerja turun menghujam
Ia masih memilah dengan waspada
Tangannya masih mengais sisa-sisa rindu yang sejak kemarin malam menyelinap lalu menginap
Pandangan masih ia sebar ke suluruh pojok semesta, tanpa terkecuali.

Hingga tiba, aliran air deras menamparnya. Semenit lalu, sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu, setahun lalu, lahannya tandus juga penuh kerikil. Tapi tidak untuk hari ini.

Aliran itu membentuk danau-danau berhutan rawa. Semak rindu masih di huni binatang buas. Pohon masih bercumbu mesra dengan tanah yang basah. Sedang rumput-rumput masih menertawakan semua adegan yang tak begitu romantis.

Perempuan mencoba bermain dengan anak kecil di pinggiran. Seulas senyum muncul namun jelas palsu. Sekeping hati telah di luluhlantahkan, menyisakan nanah yang tak kunjung pulih. Aliran air itu masih mengalir deras, melebihi besarnya sungai mahakam, melebihi panjangnya sungai gangga yang dianggap suci orang-orang.

Sekali lagi, perempuan menegaskan bahwa ini bukan pulau cinta, juga bukan lautan rindu, tapi...
Sungai rahasia.

Selasa, 02 Juni 2015

Surat untuk Sang Pengganti

Teruntuk Sang Pengganti,

Haii..
Surat ini ku awali dengan sapaan hangatku untukmu...

Mengingat saat ini kau adalah orang yang dia cintai, ku pikir ada beberapa hal yang perlu kau ketahui.
Jangan kaget jika kau jatuh cinta padanya hanya dalam waktu singkat. Tak bisa ku pungkiri itu.

Kita memang tidak saling mengenal. Pun kita juga tak pernah bertatap muka ataupun bertegur sapa sebelumnya. Kau tahu, ia akan memanjakanmu dengan rangkaian kata-kata indahnya layaknya sang pujangga. Mengawali pagi mu, menjemput siang mu, hingga mengakhiri malam mu, terus saja ia manjakanmu.

Kau akan mengetahui film favoritnya, dan bagaimana dia terlarut dalam hal itu. Kau juga akan mengetahui tim sepakbola andalannya, dan segala kegilaannya akan dunia bola yang kadang ia sebut sebagai dunianya. Kau tahu, di setiap malam minggu ia akan menghabiskan waktu untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, jikalau sempat segeralah duduk tepat disampingnya, menemaninya menonton, melihat kegirangannya dan mendengar teriakan euforianya ketika sebuah goal telah dicetak. Akan menyenangkan pikirku.

Dia tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan hubungan, jadi jangan berharap darinya, namun ketahuilah bahwa dia mencintaimu. Dia mungkin tidak akan memikirkanmu setiap saat, tapi kau akan selalu terlintas dalam benaknya.

Dia teman diskusi yang asik. Diskusi tentang apapun itu, terlebih jika kalian membaca satu buku yang sama kemudian mendiskusikannya, itu hal yang sangat ia gemari. Penggila diskusi. Atau bisa saja kalian menciptakan sajak ataupun sebuah lagu. Tapi pastikan dia yang jadi pemain gitarnya sedang kau yang jadi vokalisnya, karena mungkin suaranya tak begitu bagus (bercanda), tapi dia akan selalu bernyanyi sebisa dan segila yang dia mau. Kau tahu, tingkahnya begitu lucu saat kau menyinggung lirih suaranya ketika sedang bernyanyi.

Dia seorang pemimpi. Jadi, tugasmu adalah mengatakan bahwa ia mampu melakukan semuanya. Selain mendukung setiap langkahnya, ku harap kau ada dalam rencana ataupun mimpinya.
Dia membuatmu melihat dunia dalam sudut pandang yang berbeda, dan akan ada banyak pertanyaan yang ingin kau ketahui darinya. Bicaralah padanya apa yang ingin kau bicarakan karena ia pendengar yang baik, dan sedikit tidak menyukai diam yang lama.

Ketika kalian berdua pergi keluar, tugasmu adalah memilih tempat makan dengan tepat. Ia tidak suka dengan kata 'terserah'. Pastikan ada kecap manis untuk dia saat kalian tengah menyantap makanan, ku rasa kau sudah tahu bahwa ia tak menyukai rasa pedas. Ketika kau berdansa dengannya, itu adalah hal yang sempurna. Dan ketika kau menanyakan masa lalunya, jangan mendesaknya. Ia akan menceritakanmu bila waktunya telah tiba.

Dia akan memintamu untuk membangunkannya ketika fajar telah menyingsing, mungkin karena pekerjaan mendesak yang harus ia selesaikan di pagi hari. Jika ia lelah, rebahlah ia tepat disampingmu. Kemudian ia akan segera terlelap dengan kau mengusap lembut kepalanya. Biarkan ia rehat sejenak dari segala penatnya, tak usah kau bangunkan. Tunggulah sampai ia terbangun dengan sendirinya tak peduli tungkai kakimu menjadi sedikit ngilu karena menahan beban kepalanya. Sungguh detik yang sempurna melihat dia terlelap di sebelahmu.

Dia adalah orang yang kadang terjebak dalam dunianya sendiri. Ketahuilah, jangan lengah untuk menunggu ia kembali, berusahalah selalu menyeimbanginya. Tetaplah ditempatmu tanpa beranjak sejengkalpun. Ia akan kembali jikalau kau memang rumahnya.

Dia mencintai hujan. Sesuatu yang selalu ia nikmati sambil mendengarkan lagu kesukaannya di samping jendela kamarnya. Potret dunia ada dalam lensanya, dan juga ia akan selalu menangkap gambar rupamu dalam bidikan kameranya.

Aku berharap kau mencintainya sebanyak yang ia pantas dapatkan, dan aku berharap dia mencintaimu sedalam yang aku pikirkan. Aku berharap dia jujur padamu, tak usah ku jelaskan seperti apa dia padaku. Tapi dari semuanya, aku berharap kamu mendapatkan kisah cinta seperti dalam dongeng yang tak kudapatkan darinya.

Bukannya bermaksud apa-apa. Tapi kalau boleh jujur, aku iri padamu.

Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu denganmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita memiliki hubungan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan aku yakin kau adalah orang yang baik. Dia melihat pribadi dari seorang perempuan sebelum jatuh hati pada penampilan fisiknya. Kurasa dia tak salah memilihmu.

Aku hanya minta satu hal darimu ; jangan menyakitinya, juga jangan sampai ia menyakitimu. Aku tidak pernah berharap bahwa rasa sakit itu menimpa siapapun, terutama dia ataupun kau.

Kau menjalin kasih dengan seseorang yang begitu istimewa untukku. Kau tahu, aku benar-benar tulus ketika mengatakan bahwa aku berharap semuanya berjalan dengan baik untuk kalian berdua.

Terima kasih...
Terima kasih untukmu, karena telah menjaga hatinya dan telah membuatnya kembali jatuh..


Dengan tulus,
Perempuan yang sempat singgah dipersimpangannya...