Pernah merasa yakin ?
Atau merasa ragu ?
Dua pertanyaan ini
tentunya tak lain adalah pertanyaan umum tentang perasaan akan suatu hal. Sesuatu yang tidak lain
adalah gambaran yang merupakan wujud dari sebuah pilihan perasaan.
Ketika di Tanya
demikian, apa yang akan kamu jawab ??? yahh,, tentunya akan kamu jawab sesuai
dengan perasaanmu.
Si yakin akan selalu
ada dalam sebuah pilihan perasaan, namun berbeda dengan si ragu yang wujud
rasanya akan muncul ketika si yakin tengah rapuh dan tak mampu mempertahankan
eksistensinya. Wujud keduanya sangat jauh berbeda,, dimana si yakin akan terus
membenarkan kata hati yang seiyanya dan selayaknya anggukan yang akan terus
ada, tak ada peniadaan. Si yakin cenderung mengarah kepada hal-hal yang
bersifat positif, berani dan seolah enggan mengedipkan mata, menghentikan
langkah kaki, enggan untuk menengok ke belakang lagi jikalau ia telah berada dalam taraf proporsionalnya. Si
yakin memang berwujud dalam tindakan, akan tetapi selain tindakan biasanya ia
bermula dari sebuah ucapan. Ucapan yang tak terelakkan yang terdiri dari kata,
frasa maupun kalimat yang tersusun sedemikian rupa, bermakna dalam, serta
kadang didukung oleh raut wajah yang begitu membenarkan apa yang sedang di
utarakan.
Selain si yakin, adapula
si ragu yang akan muncul kendati si yakin sudah rapuh dalam pertahanannya.
Bukan enggan untuk mengiyakan, bukan enggan untuk hanya sekedar menganggukkan
apa yang sedang dibicarakan, bukan enggan untuk mengikuti arus dalam jalan
cerita, melainkan ada segelintir perasaan yang seolah-olah menghampiri, ingin
mendekap tapi takut, ingin berbisisk tapi kemudian berteriak, ingin menggenggam
jemari lain tapi kemudian mengepalnya,, itulah dia si ragu. Si ragu yang
wujudnya berbanding terbalik dengan si yakin. Si ragu yang selalu menengok ke
belakang dan seolah takut untuk melihat kedepan, si ragu yang hanya dapat
menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ia taktahu harus bagaimana.
Di tengah heningnya
malam, di saat hanya ada bunyi nada blackberry messenger dari handphone…
kemudian terjadi percakapan antara si ragu dan si yakin..
“heii, aku belum
terlalu gila untuk mempertahankan sesuatu yang menurutku belum sepenuhnya yakin
akan diriku,, keyakinanku tengah di rundung keraguan,, tapi tak pernah
kuberhenti berharap semoga keraguan itu hilang, aku selalu menunggu waktu itu
tiba”
“jangan jadikan ragumu
sebagai beban,semakin kau ragu, semakin beban itu menimpamu keras,, ragu itu
hanya segelintir dari masalah hati yang tak yakin,, bukan berarti yakinmu harus
terkalahkan oleh ragu itu “
“keraguan memang
sejatinya bertolak belakang dengan keyakinan,, Si yakin takkan pernah ada jika
Si ragu dan begitulah adanya,, terkadang si yakin takkan
menampakkan wujudnya jika si ragu terlalu kuat mempertahankan eksistensinya,,
apa dan siapa yang telah jadi Korban,
itulah bumbu yang seiyanya di coba untuk tidak selalu ada”
“mungkin ragumu
terlalu kuat bertahan tanpa member kesempatan kepada si yakin untuk masuk ke
sisi hat yang paling dalam,, coba tengok pada ragumu, apa yang sebenarnya kau
ragukan pada sesuatu yang telah kau pilih untuk membuka sutu pintu yang sudah
lama tak terjamah ?? tidakkah kau berniat mempertahankan dan membiarkannya
hanya terus berada di depan teras hatimu saja ?? ada sisi takut pada Si yakin
sehinggan harus macet ketika melihat si ragu yang begitu kuat tamengnya”
Pembicaraan itupun
berlanjut dan menimbulkan pertanyaan besar yang entah kapan akan terjawab..
Apakah kami yang kini
menjadi korban ?? membuat skenario baru yang seolah membuat semua salah dalam
hubungan ini..
Kami,, orang-orang
yang kini menemukan kepada apa dan siapa sepantasnya hati ini berlabuh yang
mencoba untuk saling menyembuhkan dari suatu kesakitan… namun,,, salahkah itu
???
Serasa benci dengan
keadaan yang seperti ini, yang hanya menganggukkan keyakinannya, kemudian
menimpalinya dengan kalimat bahwa iapun telah yakin, tapi tak bisa di pungkiri
bahwa Si ragu itu masiih tetap ada meski hanya secuil. Mungkin yang harus di
pelajari dari si yakin adalah kejujuran, utarakan ragumu yang sesungguhnya,
jangan utarakan yakinmu yang baru berusaha mengetuk pintu dan belum
membiarkannya masuk kedalam ruang tamumu. Mungkin dengan demikian akan di
dapatkan jawaban yang tengah di cari-cari oleh Si ragu.
Dan di akhir
pembicaraan hanya ada kalimat yang tak ubahnya selalu ada,,
Sedih ketika melihat
Si yakin harus menunggu Si ragu yang tak kunjung pergi,,
Dan sedih ketika
melihat Si ragu harus menunggu Si yakin yang tak kunjung datang…


0 komentar:
Posting Komentar