Tentang sebuah dunia yang perlu direnungkan…
Tentang sebuah polemik yang tak ada habisnya..
Dunia Pendidikan di negeri
tercinta, 2 mei kemarin diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Namun seiring
waktu berjalan muncul pertanyaan “apakah kesejahteraan yang diberikan oleh
pemerintah dibidang pendidikan berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan ?”
Lihatlah hari ini, masih begitu
banyak anak Indonesia yang menghabiskan hari mereka dengan mengais sampah
dikolong jembatan, menadah tangan di warung-warung makan pinggir jalan,
memainkan gitar dengan petikan tak bernada diikuti suara melengking karena
kedinginan dibawah hujan menunggu kereta besi mewah berhenti di lampu merah
jalan kota.
Semestinya, bukan disitu tempat mereka.
Pakaian putih-merah hati, putih-biru, dan putih-abu-abu lah yang menjadi
pakaian sehari-harinya. Meja, kursi, dan papan tulislah yang menjadi wadah
mereka. Dan juga buku-buku dan pulpen lah yang seharusnya jadi makanan
sehari-hari mereka dalam menimba ilmu. Lalu kenapa di daerah-daerah terpencil,
mereka selalu saja termarginalkan, begitu sulit untuk mendapatkan pendidikan
yang layak.
Lalu, yang kita lihat hari ini tak
sesuai dengan harapan. Sebuah terobosan baru untuk dunia pendidikan Indonesia yang
diagungkan oleh pemerintah tak jua memberantas polemik-polemik yang sedari dulu
sudah menjadi masalah tanpa batasan waktu, tak kunjung redah rupanya.
Belum lagi, masalah-masalah lain
yang membuat kita seolah tak mampu bersaing dengan Negara asing. Mulai dari
kurikulum, biaya, fasilitas, tujuan pendidikan, juga RUU (Rancangan
Undang-Undang) BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menuai kontroversial
dikalangan mahasiswa yang khawatir akan terjadinya liberalisasi dalam dunia
pendidikan.
Belum lagi masalah para pendidik
yang memenuhi kualifikasi diberikan penghargaan berupa gaji dua kali dari gaji
pokok ketika mereka telah menyandang gelar pengajar professional. Sehingga para
pengajar, pendidik akan berbondong-bondong untuk meraih status dan penghargaan tersebut
tanpa memikirkan “ apa mereka layak mendapatkan hal tersebut?”
Wahai para kaum terdidik, dimana
kalian sampai hari ini ? belum juga menampakkan pada dunia bahwa kalian
dibutuhkan. Apakah kalian masih menutup mata dengan seabrek masalah yang tidak
lain kuncinya ada ditangan kalian ?
Wahai para kaum terdidik, segeralah
tersadar bahwa negeri ini membutuhkan
ilmu mu, untuk kalian bagi kepada mereka yang begitu membutuhkannya…
Mungkin, negeri ini masih haus akan ilmu…

0 komentar:
Posting Komentar