Mengapa aku terus saja seperti ini ? Tolong menjauhlah, aku membencinya !
Minggu ke-2 dibulan ini kurasa cukup berat untuk ku lalui, dan mengetahui akan hal itu, rasanya perlu semangat ekstra untuk menjalaninya.
Senin, 13 oktober 2014
Hari itu selalu saja menjadi hari untuk mengumpulkan semangat untuk menjadi batu pijakan pertama dalam satu pekan. Pagi itu aku sedang tidak baik-baik saja, harus bangun dengan kondisi yang kurang fit. Hidung memerah akibat flu, dan suara yang serak-serak becek akibat batuk, belum lagi kondisi PDAM yang tidak bersahabat pagi itu. Oh Tuhan, apa lagi ini ??? Aku masih mencoba memperbaiki mood.
Setelah kerempongan dirumah terselesaikan, kusegerakan menuju kampus merah. Pagi itu ketika tengah mengejar waktu dengan tergesa-gesa memasuki lift dan menekan tombol nomor 4 di rektorat universitas, sesampainya, saya menemui mereka tengah berkumpul dengan kondisi yang pengap karena sedikit berdesakan. Ratusan peserta tengah menunggu giliran untuk tes dan wawancara hari itu. Yahh, saya tengah mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa ke Kyoto, Jepang.
Setelah registrasi, menunggu beberapa jam namun nama tak jua dipanggil oleh panitia. Saya teman-teman memutuskan kembali ke fakultas, mengisi perut yang sudah memulai nyanyiannya sedari tadi.
Pukul 14:00 wita, kembali menuju tempat tujuan awal. Menunggu adalah tema hari itu, diselingi dengan candaan dengan teman-teman membuat ketegangan sedikit berkurang. Hingga akhirnya giliran tiba kepada saya, memasuki ruangan, mengikuti psikotest, dan wawancara. Cukup singkat kurasa saat itu, kesannya biasa saja.
Kembali ke fakultas menjadi pilihanku setelah itu. Duduk diujung koridor, bercengkerama dengan teman. Tetiba, salah seorang teman (Elis) datang menghampiriku, "hari rabu kita tes lagi", itu katanya. Aku tersontak kaget mendengarnya. Dengan sigapnya ku melangkah menuju lantai dua, menghampiri mading depan kantor jurusan. Yahh, namaku tertera disebuah kertas, nomor 4 dari 10 nama yang tertera.
10 nama yang direkomendasikan untuk mengikuti tes beasiswa ke Jepang. Mengetahui hal itu, perasaanku berkecamuk, bahagia atau malah sedih dan bingung ??? Entahlah, aku benci dengan diriku yang seperti ini.
Ku coba menepis semua perasaan tak mengenakkan itu dengan menikmati soerabi bandung yang tak jauh dari kampus bersama mereka, sahabat terbaik ditemani senja yang selalu berhasil membuatku merasa lebih baik, dan hari itu adalah hari ulang tahun salah satu sahabatku, selamat ulang tahun untukmu sahabat, Iin. ^_^
Selasa, 14 oktober 2014
Hari yang kupikir adalah hariku. Mengapa demikian ???
Seperti kemarin, lantai 4 rektorat masih menjadi tujuanku. Yahh, tes berlangsung selama dua hari dan hari ini adalah tes wawancara dengan bahasa inggis. Setibaku ditempat itu, dengan lincahnya kutuliskan namaku dikertas registrasi, setelah itu kutinggalkan teman-temanku menuju fakultas untuk mengikuti mata kuliah yang hari itu notabene adalah hari presentasiku.
Sedikit kecemasan akan giliranku disisi lain tempat itu, tapi tetap kucoba dengan tenang dan menyempurnakan presentasiku hari itu meskipun pada nyatanya tidak begitu sempurna. Ponselku berdering, ku dapat pesan singkat dari salah seorang teman (Safrin) yahh.. giliranku telah tiba. Kurapikan barangku dan dengan tergesa-gesa menarik tas keluar dari ruang kuliah, berlari, dan hingga akhirnya tiba ditempat itu.
Tegang bercampur dengan nafas yang masih tidak teratur, kumasuki ruang tes itu. Mengikuti wawancara dengan mencoba tenang, mewacanakan apa yang semestinya kuwacanakan ketika pertanyaan itu kudapati. Tak seperti kemarin, ketegangan itu cukup lama, itu kesannya.
Rabu, 15 oktober 2014
Hari yang menurutku menyebalkan, yang semalaman seiyanya kucoba selalu menghujani pikiranku dengan proton-proton yang meskipun bersikeras kuiyakan, tetap saja selalu ada unsur neutron yang lebih banyak.
Menuju kampus lebih awal dari biasanya, menunggu hingga masa itu tiba. Pukul 13:00 wita, keteganganku memuncak, tenggorokanku seketika kering, menelan ludah berkali-kali, itulah yang tengah kulakukan hingga akhirnya tiba giliranku. Tak lupa berdoa, kumasuki ruangan itu. 4 penguji siap menghakimiku yang notabene adalah dosenku, bagai duduk di kursi panas. Pertanyaan demi pertanyaan kujawab dengan kemampuan berbahasa yang kupunya. 20 menit serasa berjam-jam, itu kesannya.
Sembari menunggu hingga wawancara selesai dan pengumuman diumumkan, aku disibukkan dengan mengingat kembali adegan yang kuperankan tadi, membingungkan dan juga menggelikan, pikirku. Pukul 15:15 wita, tiba saatnya untuk pengumuman itu. Kami duduk berderet, mendengarkan dengan seksama nama yang akan lulus. Antara berharap dan tidak, aku hanya berserah. Rezeki tidak kemana, itu yakinku. Itu saja. Yahh, namaku tidak disebutkan diantara 5 nama yang lulus, tapi 2 nama sahabatku ada diantaranya (Natsir dan Itha). Aku melihat semangat dalam diri mereka, dan aku bahagia melihat mereka berhasil untuk memulai petualangan mereka. Pelukan hangat dan haru akan keberhasilan mereka kuberikan. Aku ikut bahagia.
Keluar dari ruangan itu, teman-teman lain sedang menunggu kabar, aku hanya tersenyum. "Mereka pasti akan tahu nantinya", pikirku. Kembali duduk diujung koridor menjadi pilihanku, sebentar saja lalu kuputuskan untuk kembali kerumah. Di perjalanan, indahnya senja selalu menemani, dengan setianya.
Pukul 23:30 wita
Apa sebenarnya ini ??? Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Sisi lain dari diriku yang penuh dengan ketakutan yang begitu besar. Ketakutan yang sebenarnya tak pernah ada, hanya aku saja yang mengadakannya.
Aku benci dengan diriku yang seperti ini. Sisi lain dari diriku yang selalu melihat hal sulit menjadi point utama dalam sudut pandangku ketika tengah melihat sesuatu. Meragukan kemampuanku, meskipun banyak dari mereka yang mengatakan aku bisa. "I can do it" adalah kalimat yang jarang kuucapkan. Dasar bodoh !!!
Menghilangkan itu semua dari diriku adalah keinginan terbesarku. Meniadakan hal yang kubenci dari diriku. Membuat bibirku selalu dengan ringan dan yakinnya berucap "yes, I can do it".

0 komentar:
Posting Komentar