Setelah melewati januariku dengan segala
kejutannya, kurasa februari kali ini sangatlah tidak berpihak padaku. Mengapa demikian
?
Tak ada sesuatu yang spesial kurasa.
14 februari yang dikatakan oleh orang-orang sebagai hari kasih sayang, sedari
dulu aku tak pernah memperhatikan dan memperingatinya . Yahh, kurasa semua hari
bisa dijadikan sebagai hari kasih sayang jika kita menginginkannya. Kemudian 17
februari menjadi hari spesial bagi kakak ku yang notabene adalah hari lahirnya.
Dengan hanya mengirimkan pesan singkat berupa ucapan selamat, aku mendoakan yang
terbaik bagi dia walaupun disisi lain ada rasa sedih tak bisa menyalaminya
sekaligus memeluknya secara langsung.
Kemudian 19 februari, kau ingat
tanggal ini ? tanggal dan bulan yang sama tepat setahun lalu ketika kau
menungguiku dibawah ruang literasi universitas pada suatu acara pameran pojok
fotografi. Tanggal dan bulan yang sama ketika kita memilih tempat makan yang
cukup jauh dari tempat kita beranjak, ketika kita sama-sama menertawakan menu
coto bakar yang sejatinya nampak seperti sate dengan kuah coto, ketika kau
dengan desah suaramu yang menanyakan tentang kasusku, ketika kau memberikan
pernyataan dan penawaran secara langsung, ketika anggukanku menjadi jawaban
dari semuanya.
Hari itu, riuh jalanan diluar sana
tak memecah konsentrasi kita. Kau dan aku duduk berhadapan, dan diluar sana
langit sore sudah menghampiri senja. Dihari itu “hati kita yang memenangkan
segalanya” katamu. Kau masih ingat itu ?
Namun, tidakkah kau merasa kita
semakin jauh ? aku tak ingin memperingati tanggal dan bulan yang kuanggap spesial
ini sebagaimana kutahu kau enggan untuk memperingati hal-hal semacam ini. Namun
akan kutanyakan apa kau mengingat hari itu ? jika ia, apakah berwujud sebagai
ingatan yang manis atau tidak sama sekali ?
Kini, kurasa bukan ruang kita yang berjarak
melainkan hati kita yang kini sudah berjarak. Aku tak lagi tahu tentang
bagaimana langitmu setiap harinya. Jangankan menumpahkan cerita, kabarpun hanya
sesekali kudapati. Jarak selalu saja menjadi pemicu putusnya komunikasi. jikalau
sudah demikian kau selalu saja dalam kondisi tak nyaman, kusadari itu.
Entah apa yang membelitmu hingga keadaanmu
sesulit itu. Aku tak suka memaksa sebagaimana aku tahu kau tak suka dipaksa
untuk menceritakannya. Aku tak meminta waktumu 24 jam siaga disebelahku, tak memintamu
mengurusiku layaknya balita yang baru belajar berjalan, tidak demikian sungguh
tidak. Namun, teguran ataupun sapaan tentang warna langitku hari ini tak juga
kudapati.
Aku egois ? entahlah…
Jangan menghukumku seperti ini,
membuat mulutku seolah dibekap, membuatku terlihat sebagai orang yang
menyedihkan dan juga lemah. Aku membenci itu. Silahkan sibuk dengan duniamu
jika itu membuatmu nyaman. Jika kau masih tahu jalan pulang, kembalilah jikalau
kau anggap aku rumahmu (jika masih demikian).
Dan kembali akan kulontarkan ini,”ciptakan makna
bagiku, apa saja”
Tapi kurasa kau belum bisa memaknaiku dalam
bagianmu. Entah esok, lusa hingga nanti, atau tidak sama sekali. Itu saja.
Semoga kau tahu jalan kembali, aku masih disini
belum beranjak sejengkalpun…
Maaf… Terima kasih…
Untuk
19 kita
Semoga
masih manis diingatan
02:00
wita

0 komentar:
Posting Komentar