Jumat, 20 Februari 2015

Nothing Special

Setelah melewati januariku dengan segala kejutannya, kurasa februari kali ini sangatlah tidak berpihak padaku. Mengapa demikian ?

Tak ada sesuatu yang spesial kurasa. 14 februari yang dikatakan oleh orang-orang sebagai hari kasih sayang, sedari dulu aku tak pernah memperhatikan dan memperingatinya . Yahh, kurasa semua hari bisa dijadikan sebagai hari kasih sayang jika kita menginginkannya. Kemudian 17 februari menjadi hari spesial bagi kakak ku yang notabene adalah hari lahirnya. Dengan hanya mengirimkan pesan singkat berupa ucapan selamat, aku mendoakan yang terbaik bagi dia walaupun disisi lain ada rasa sedih tak bisa menyalaminya sekaligus memeluknya secara langsung.

Kemudian 19 februari, kau ingat tanggal ini ? tanggal dan bulan yang sama tepat setahun lalu ketika kau menungguiku dibawah ruang literasi universitas pada suatu acara pameran pojok fotografi. Tanggal dan bulan yang sama ketika kita memilih tempat makan yang cukup jauh dari tempat kita beranjak, ketika kita sama-sama menertawakan menu coto bakar yang sejatinya nampak seperti sate dengan kuah coto, ketika kau dengan desah suaramu yang menanyakan tentang kasusku, ketika kau memberikan pernyataan dan penawaran secara langsung, ketika anggukanku menjadi jawaban dari semuanya.

Hari itu, riuh jalanan diluar sana tak memecah konsentrasi kita. Kau dan aku duduk berhadapan, dan diluar sana langit sore sudah menghampiri senja. Dihari itu “hati kita yang memenangkan segalanya” katamu. Kau masih ingat itu ?

Namun, tidakkah kau merasa kita semakin jauh ? aku tak ingin memperingati tanggal dan bulan yang kuanggap spesial ini sebagaimana kutahu kau enggan untuk memperingati hal-hal semacam ini. Namun akan kutanyakan apa kau mengingat hari itu ? jika ia, apakah berwujud sebagai ingatan yang manis atau tidak sama sekali ?
 Kini, kurasa bukan ruang kita yang berjarak melainkan hati kita yang kini sudah berjarak. Aku tak lagi tahu tentang bagaimana langitmu setiap harinya. Jangankan menumpahkan cerita, kabarpun hanya sesekali kudapati. Jarak selalu saja menjadi pemicu putusnya komunikasi. jikalau sudah demikian kau selalu saja dalam kondisi tak nyaman, kusadari itu.

Entah apa yang membelitmu hingga keadaanmu sesulit itu. Aku tak suka memaksa sebagaimana aku tahu kau tak suka dipaksa untuk menceritakannya. Aku tak meminta waktumu 24 jam siaga disebelahku, tak memintamu mengurusiku layaknya balita yang baru belajar berjalan, tidak demikian sungguh tidak. Namun, teguran ataupun sapaan tentang warna langitku hari ini tak juga kudapati.

Aku egois ? entahlah…

Jangan menghukumku seperti ini, membuat mulutku seolah dibekap, membuatku terlihat sebagai orang yang menyedihkan dan juga lemah. Aku membenci itu. Silahkan sibuk dengan duniamu jika itu membuatmu nyaman. Jika kau masih tahu jalan pulang, kembalilah jikalau kau anggap aku rumahmu (jika masih demikian).

Dan kembali akan kulontarkan ini,”ciptakan makna bagiku, apa saja”

Tapi kurasa kau belum bisa memaknaiku dalam bagianmu. Entah esok, lusa hingga nanti, atau tidak sama sekali. Itu saja.

Semoga kau tahu jalan kembali, aku masih disini belum beranjak sejengkalpun…

Maaf… Terima kasih…


Untuk 19 kita
Semoga masih manis diingatan
02:00 wita


0 komentar:

Posting Komentar