Senin, 06 April 2015

Di kota itu

Untuk kali kedua, aku kembali menginjakkan kaki di kota itu, kota kelahiranmu. Salah satu kota di Sulawesi Selatan dengan suguhan panorama alam yang indah, tak kupungkiri itu. januari 2014, bersama 4 orang teman kala itu, aku menuju kota mu dengan alasan menjalankan suatu misi kelembagaan. Masih terekam jelas di ingatan saat aku sedikit memaksamu untuk ikut dalam rombongan, dengan dalih menjadi guide untuk ku dikota mu nantinya.
Sungguh masih mendecak kagum di ingatan saat kau dengan jahilnya memaksaku untuk memenuhi ajakanmu menikmati angin malam disebuah pantai setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup membuat tulang belakangku ngilu. Dengan anggukan sedikit malas aku mengiyakan ajakanmu, tak peduli lagi dengan piyama biru yang ku kenakan malam itu, salah kostum sepertinya.
3 hari berada di kota itu, namun banyak cerita yang perlu kutuliskan. Kau tahu, kala itu aku merasa mulai ada rasa yang tak biasa. Tatapanmu, tingkahmu, perlakuanmu terhadapku kurasa semua beda dari biasanya. Kala itu, ketika kita tengah asik bermain game berdua, ketika aku mengistirahatkan diri sejenak di kamarmu, sampai ketika aku dan teman bereksperimen di dapur kediamanmu, sungguh lucu rasanya.
April 2015, kembali ku menginjakkan kaki dikota itu. kali ini bukan karena urusan mendesak yang harus kuselesaikan, namun kali ini lebih tepatnya disebut liburan. Bersama 6 orang teman, kami melakukan perjalanan panjang dengan Pantai Apparalang dan juga Pantai Bara di daerah Bulukumba Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Hingga akhirnya petualangan di akhiri dengan menikmati nasi kuning disalah satu kediaman teman malam itu. Kau tahu, aku layaknya terdakwa malam itu, dihakimi dengan berbagai kecaman dibarengi dengan realita akan cerita kita. Mereka menghakimiku, lidahku kelu, hanya diam. Seperti itu saja.
Keesokan harinya, melakukan perjalanan ke gunung dan mengunjungi taman bunga setidaknya menjadi hal yang menyegarkan bagi pikiranku saat itu. Sedari pagi kudapat kabar bahwasanya kau juga tengah melakukan perjalanan ke kota mu. Sedikit bahagia, dengan harap kita bisa bertemu kala itu namun sedikit takut dan juga ragu, aku masih enggan menemuimu. Entahlah…
Di kota itu, tentang mu masih tak pernah luput dari ingatan. Namamu masih tak pernah samar di telinga dan rupamu masih tak pernah buram dari pandangan. Kata mereka, ditahun kemarin aku datang untuk memulai sebuah cerita namun di tahun ini aku datang untuk mengenang cerita yang kini hanya jadi cerita, dan ditahun berikutnya yang akan datang entah cerita genre apa lagi yang akan aku lakonkan.
Kau tahu, kau masih saja menyerangku, mencekik lalu menikam rasaku hingga akhirnya terperangkap, tak bisa kemana-mana dan masih disini, tak beranjak sejengkal pun dan masih tak baik-baik saja.
Di kota itu, semesta menertawakan kita…
Di kota itu, awal dan akhir ku temui…

Awal dan akhir
Untuk dua tahun perjalanan di kotamu

R…

0 komentar:

Posting Komentar