Untuk kali kedua, aku kembali
menginjakkan kaki di kota itu, kota kelahiranmu. Salah satu kota di Sulawesi Selatan
dengan suguhan panorama alam yang indah, tak kupungkiri itu. januari 2014,
bersama 4 orang teman kala itu, aku menuju kota mu dengan alasan menjalankan
suatu misi kelembagaan. Masih terekam jelas di ingatan saat aku sedikit
memaksamu untuk ikut dalam rombongan, dengan dalih menjadi guide untuk ku dikota mu nantinya.
Sungguh masih mendecak kagum di
ingatan saat kau dengan jahilnya memaksaku untuk memenuhi ajakanmu menikmati angin
malam disebuah pantai setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup membuat
tulang belakangku ngilu. Dengan anggukan sedikit malas aku mengiyakan ajakanmu,
tak peduli lagi dengan piyama biru yang ku kenakan malam itu, salah kostum
sepertinya.
3 hari berada di kota itu, namun
banyak cerita yang perlu kutuliskan. Kau tahu, kala itu aku merasa mulai ada
rasa yang tak biasa. Tatapanmu, tingkahmu, perlakuanmu terhadapku kurasa semua
beda dari biasanya. Kala itu, ketika kita tengah asik bermain game berdua,
ketika aku mengistirahatkan diri sejenak di kamarmu, sampai ketika aku dan
teman bereksperimen di dapur kediamanmu, sungguh lucu rasanya.
April 2015, kembali ku menginjakkan
kaki dikota itu. kali ini bukan karena urusan mendesak yang harus kuselesaikan,
namun kali ini lebih tepatnya disebut liburan. Bersama 6 orang teman, kami
melakukan perjalanan panjang dengan Pantai Apparalang dan juga Pantai Bara di
daerah Bulukumba Sulawesi Selatan menjadi tujuan kami. Hingga akhirnya petualangan
di akhiri dengan menikmati nasi kuning disalah satu kediaman teman malam itu. Kau
tahu, aku layaknya terdakwa malam itu, dihakimi dengan berbagai kecaman
dibarengi dengan realita akan cerita kita. Mereka menghakimiku, lidahku kelu,
hanya diam. Seperti itu saja.
Keesokan harinya, melakukan
perjalanan ke gunung dan mengunjungi taman bunga setidaknya menjadi hal yang
menyegarkan bagi pikiranku saat itu. Sedari pagi kudapat kabar bahwasanya kau
juga tengah melakukan perjalanan ke kota mu. Sedikit bahagia, dengan harap kita
bisa bertemu kala itu namun sedikit takut dan juga ragu, aku masih enggan
menemuimu. Entahlah…
Di kota itu, tentang mu masih tak
pernah luput dari ingatan. Namamu masih tak pernah samar di telinga dan rupamu masih
tak pernah buram dari pandangan. Kata mereka, ditahun kemarin aku datang untuk
memulai sebuah cerita namun di tahun ini aku datang untuk mengenang cerita yang
kini hanya jadi cerita, dan ditahun berikutnya yang akan datang entah cerita
genre apa lagi yang akan aku lakonkan.
Kau tahu, kau masih saja
menyerangku, mencekik lalu menikam rasaku hingga akhirnya terperangkap, tak
bisa kemana-mana dan masih disini, tak beranjak sejengkal pun dan masih tak
baik-baik saja.
Di kota itu, semesta menertawakan
kita…
Di kota itu, awal dan akhir ku
temui…
Awal dan akhir
Untuk dua tahun
perjalanan di kotamu
R…

0 komentar:
Posting Komentar