Seketika terbangun dari sisi nyamanku malam itu, mendapati diriku dengan keadaan pipi yang sudah basah dan mata yang sembab. Yahh, saya bermimpi tentangmu.
Akhir-akhir ini saya terlampau sering bermimpi tentangmu. Bukan sekali tapi berkali-kali. Dengan ego yang tinggi, saya memaksa otak untuk memaknai mimpi-mimpi itu tak lebih dari bunga tidur semata, juga tak bermakna apa-apa.
Malam-malam kemarin fantasi mimpi begitu jelas terasa. Mendapatimu dengan senyum sumringah menghampiriku, mendapatimu pergi jauh lalu menghilang, mendapatimu terbaring lemah tak berdaya hingga membuatku menangis sejadi-jadinya, lalu tiba-tiba fantasi itu melebur menyisakan pipi yang sudah becek dengan air mata dalam ruang gelap.
Hei, saya menyapamu hari itu dengan kau membalasnya. Saya begitu menghargai setiap inchi pertemuan kita, membuatnya selalu bermakna. Kau tahu, saya masih menyimpan buku kita. Kertas putihnya yang masih kosong tak pernah menahanku untuk tidak menorehkan tinta diatasnya. Sampai detik ini, saya masih menulis tentang kita di buku itu, sampai nanti, sampai akhir halamannya.
Sampai hari ini...
Masih ditempat ini...
Saya benar-benar kalah...

0 komentar:
Posting Komentar