Senin, 28 September 2015

Bincang Malam

Apa lagi yang hendak di katakan oleh kata-kata ku. Pagi berlalu, meninggalkan anak sekolah didalam ruang kelas. Siang pun sudah pergi, membelakangi pekerja bangunan di ibu kota yang sedang menyeka keringat.

Senja sore, apa kabar mu ? Masihkah kau delusi ? Ah, ku pikir tidak. Meskipun beberapa hari kemarin jahat mu keterlaluan, tak kau biarkan aku mengencani mu padahal teh hangat sudah ku seduhkan untuk kita berdua.

Lalu malam tiba, tepat diatas kepalaku. Sedikit takut karena ia begitu hitam tapi ternyata tidak juga rupanya. Langit sedang ramai-ramainya, mungkin disana ada pesta kembang api. Diluar sana orang-orang sedang membicarakan tentang benda langit yang menggemaskan itu. Tapi tidak demikian untuk ku karena mataku tak menangkapnya, sayang sekali..

Rupanya langit malam yang mengajakku berbincang malam ini. Di lantai dua beranda rumahku tepatnya. Banyak yang kuceritakan,beberapa pohon kelapa tinggi menjulang yang sedang nyenyak tidurnya sampai-sampai terbangun, pohon mangga yang sedang mengistirahatkan buah-buahnya pun ikut mendengarkan, dia pendengar yang baik maka dari itu tak ada alasan ku untuk membenci pohon mangga dan juga september seperti dalam cerpen penulis favorit ku :)

Tapi sayang, mataku terperangkap pada perempuan yang sedang duduk diam disamping pohon bunga asoka merah diseberang jalan depan rumahku. Ia tersenyum, tak lama berselang lalu menangis, kemudian menangis, hingga menangis sejadi-jadinya. Ia mengutuk diri, meratapi hidup yang dia rasa tak bebas. Esok akan seperti apa dan bagaimana, ia tak tahu. Pertanyaan disekitarnya selalu membuatnya muak hingga ingin muntah. "Pertanyaan-pertanyaan mereka seperti anak panah yang siap mematikan otak ku, bukan lagi menghunus jantungku.. Ah, sungguh sial" ujarnya pada sekitar. Malam itu ia mengutuk langit, lalu merenungi kawan-kawannya yang masih penuh ambisi karena tekanan yang semuanya akan berakhir dalam sebuah buku besar yang namanya PERBANDINGAN.

Langit malam hanya menatap perempuan itu. Aku pun demikian, termangu dan terpaku...

0 komentar:

Posting Komentar