Sarang
laba-laba sudah memenuhi setengah bilik kamar. Sabtu yang notabene menjadi hari
bersih-bersih sedunia tak berlaku lagi bagiku. Begitu payah, amat payah...
Berkutat dengan tugas akhir yang sebenarnya adalah awal
dari semuanya. Berminggu-minggu dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang tak
bebas, cukup membuat kesulitan bernafas, naik ke kepala lalu menjalar hingga
memekakkan telinga. Insomnia ku pun semakin akut. Layaknya zombie, makan dan tidur pun
sudah tak karuan. Menghabiskan sepotong hari di kampus merah, menunggu dan
harap-harap cemas tak pernah absen dari pikiran, siklus hidupku beberapa waktu
lalu kurang lebih seperti itu.
Hingga tiba hari itu, ku harap angka 12 bersahabat. Hari
dimana seluruh kerja kerasku akan diuji. aku takut ? jelas iya, pribadi penakut
itu muncul begitu lincahnya. harus ku akui, malam-malam sebelumnya mood ku begitu amburadul. Pagi-pagi
sekali kulangkahkan kaki menuju medan perang kusebut di ruangan tak beroksigen
dengan dua hakim yang siap menghakimi ku dikursi terdakwa. Nafasku sedikit tersengal
bagai anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, ini bukan lari maraton kan
? ah, lagi-lagi aku begitu payah…
Tapi,
30 menit
berlalu…
Semua tak
sehoror yang kubayangkan.
Kau tahu,
ruangan itu berubah menjadi taman yang menyejukkan, ruang diskusi yang
menyenangkan lebih tepatnya. Oh, ternyata seperti ini rasanya ketika kerja
keras telah terbayarkan. Pelukan hangat kudapati dari mereka, tawa riang
memecah ruang mengalahkan bising diujung jalan raya. Terima kasih, tanpa kalian
aku bukanlah apa-apa. Benar apa kata dia yang diam-diam selalu mengingatkan tentang
ini “kau tak pernah sendiri” pesannya padaku, selalu.
Waktu tiba-tiba
menghampiri, mataku terperangkap pada sebuah gerbang besar di seberang jalan. Aku
mendekat, gemboknya perlahan membuka dengan sendirinya melepaskan rantai baja
yang bebannya tak ingin kuperkirakan berapa tepatnya.
“ini
gerbang apa ?” tanyaku membatin.
Lalu gerbang
itu mengeluarkan gelombang suara. “selamat datang di dunia nyata yang
menggelikan” jawabnya.
Aku tertunduk,
berkutat dengan pikiran yang mulai tak terkendali.
“Gerbang
Selamat Datang, akan kemana aku setelah ini ???”.

0 komentar:
Posting Komentar