Jumat, 04 September 2015

Gerbang Selamat Datang

Sarang laba-laba sudah memenuhi setengah bilik kamar. Sabtu yang notabene menjadi hari bersih-bersih sedunia tak berlaku lagi bagiku. Begitu payah, amat payah...

Berkutat dengan tugas akhir yang sebenarnya adalah awal dari semuanya. Berminggu-minggu dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang tak bebas, cukup membuat kesulitan bernafas, naik ke kepala lalu menjalar hingga memekakkan telinga. Insomnia ku pun semakin akut. Layaknya zombie, makan dan tidur pun sudah tak karuan. Menghabiskan sepotong hari di kampus merah, menunggu dan harap-harap cemas tak pernah absen dari pikiran, siklus hidupku beberapa waktu lalu kurang lebih seperti itu.

Hingga tiba hari itu, ku harap angka 12 bersahabat. Hari dimana seluruh kerja kerasku akan diuji. aku takut ? jelas iya, pribadi penakut itu muncul begitu lincahnya. harus ku akui, malam-malam sebelumnya mood ku begitu amburadul. Pagi-pagi sekali kulangkahkan kaki menuju medan perang kusebut di ruangan tak beroksigen dengan dua hakim yang siap menghakimi ku dikursi terdakwa. Nafasku sedikit tersengal bagai anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, ini bukan lari maraton kan ? ah, lagi-lagi aku begitu payah…

Tapi,

30 menit berlalu…

Semua tak sehoror yang kubayangkan.
Kau tahu, ruangan itu berubah menjadi taman yang menyejukkan, ruang diskusi yang menyenangkan lebih tepatnya. Oh, ternyata seperti ini rasanya ketika kerja keras telah terbayarkan. Pelukan hangat kudapati dari mereka, tawa riang memecah ruang mengalahkan bising diujung jalan raya. Terima kasih, tanpa kalian aku bukanlah apa-apa. Benar apa kata dia yang diam-diam selalu mengingatkan tentang ini “kau tak pernah sendiri” pesannya padaku, selalu.

Waktu tiba-tiba menghampiri, mataku terperangkap pada sebuah gerbang besar di seberang jalan. Aku mendekat, gemboknya perlahan membuka dengan sendirinya melepaskan rantai baja yang bebannya tak ingin kuperkirakan berapa tepatnya.

“ini gerbang apa ?” tanyaku membatin.
Lalu gerbang itu mengeluarkan gelombang suara. “selamat datang di dunia nyata yang menggelikan” jawabnya.

Aku tertunduk, berkutat dengan pikiran yang mulai tak terkendali.
“Gerbang Selamat Datang, akan kemana aku setelah ini ???”.

0 komentar:

Posting Komentar