Rasa penat setelah seharian berkutat dengan aktivitas di kampus merah, seketika hilang setibanya di pondokan sederhana itu. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mata dalam hitungan menit saja, lalu bangkit untuk memanjakan diri dengan membasuh kepalaku hingga sampai ke ubun-ubun rasanya.
Ku basuh wajahku dengan melafadzhkan
ayat-ayat Allah, kemudian melaksanakan kewajiban yang kadang terlupakan olehku.
Dalam setiap do’aku di penghujung shalatku, selalu terselip di bibirku
nama-nama orang yang kusayangi, sungguh bergetar jiwa dan bibir ini ketika
mengingat mereka. Hati bergejolak, mata berkaca-kaca menahan buliran air mata
yang dengan sekali kedipan akan jatuh di kedua belah tanganku yang sedang
menengadah kepada-NYA.
Ku langkahkan kaki ke kamar sebelah, masuk
dan kemudian memandang wajahku di depan kaca yang tak sempurna itu. Ku
tersentak dan dengan sigapku segera berbalik arah. Ku dapati dia yang sedang
berpura-pura memejamkan mata seolah sedang tertidur. Aku tahu pasti, itu hanya
alibinya agar aku tak menghampirinya.
Perlahan ku menghampirinya, memegang
pundaknya dengan lembut sambil mengelusnya. “kenapa ? tolong cerita jika ada
masalah.” Kataku padanya. Dia berbalik dengan mata sembab sambil melepas benda
penting baginya dari wajahnya. “tidak ada apa-apa” dia menimpaliku dengan
kalimat itu. Sungguh kalimat yang kupikir sangat palsu, mencoba kuat tetapi
rapuh.. mencoba berdiri kokoh tetapi lumpuh... bahkan kalimat itu justru
membuat perasaan kian khawatir.
“tolong cerita, sesuatu yang disimpan sendiri
bakal lebih sakit terasa.. maka dari itu berbagi ceritalah” kembali kutimpali
dia dengan kata-kataku. Lidahnya enggan bergerak, bibirnya tak mampu mengatup
untuk sebuah kata, serta mulutnya tak jua mengeluarkan nadanya. Air mata yang
tak terbendung kembali jatuh, kuusap pundaknya dan kubiarkan sejenak ia
menangis sepuasnya. Itu setidaknya memperbaiki perasaannya “pikirku”
“aku bosan dengan hidupku” katanya. Aku
tersentak kaget mendengarnya. Dia yang selalu Nampak ceria tetapi jauh kedalam
dia sepi, rapuh,bahkan goyah. Persaingan yang parameternya adalah kecerdasan
intelektual yang selalu menjadi pemicunya. Dia kecewa, menyalahkan dirinya
seolah dia makhluk bodoh yang tak bisa apa-apa. Ada yang berkata “semua bisa
karena ada niat”, akan tetapi dia tak meyakini itu. Seiyanya dia telah
sepenuhnya berniat akan inginnya, tetapi kemampuannya lah yang tak mampu untuk
mewujudkannya. Itulah yang selalu ia pikirkan..
Aku tahu persis tentang kemampuannya, bahkan
jujur ku katakan akupun iri dengan semangat dan kerja kerasnya meskipun
mengakui hal itu adalah hal yang teramat sulit baginya. Pada saat malam kembali
menyelimuti keheningan, ia dengan tekunnya tanpa rasa bosan tetap menorehkan
tinta dari penanya yang kemudian membentuk huruf-huruf yang indah lekukannya,
rumit, tapi ia menikmatinya.
“mungkin titik jenuhku telah sampai” kalimat
keduanya kembali terucap masih dengan isakan tangisnya. “semua orang pasti
memilki titik jenuh, akan tetapi ada banyak warna dan cerita yang akan kita
susun dan bingkai yang kemudian bisa merubah
titik itu menjadi grafik atau vector yang melonjak tajam hingga mencapai
target yaitu kebahagiaan” kata-kata itu terangkai dengan sendirinya, di depan
seseorang yang rapuh yang tidak pernah mencoba memantaskan diri untuk hal
apapun.
hei kawan,, nikmati hidupmu !!! rumput
tetangga memang selalu lebih hijau, tapi hijaunya rumputmu tak perlu harus
sehijau rumputnya. Bahagia itu sederhana, tak perlu untuk selalu mencari
kesempurnaan. Cintai mereka yang ada di dekatmu, merekapun akan mencintaimu,, yakinlah…
bibir mungilnya kemudian melengkung perlahan
keatas, pipinya terangkat seraya tangannya menghapus air mata yang sempat
membasahi pipinya. Entah apa yang ia pikirkan setelah mendengar ocehanku yang
seolah mengguruinya, padahal aku sendiri melontarkan kata-kata itu untuk
menyadarkanku bahwa hidup itu indah, jadi nikmatilah…
sebuah pelukan hangat menutup kejenuhan malam
itu, yang di penghujung malam kembali menceritakan cerita-cerita lucu yang
seiyanya membuat semuanya terasa ringan, mudah, dan menarik pastinya..
inginku hidup dengan gelak tawa bahagia
setiap nafasku… ya Tuhan..

0 komentar:
Posting Komentar