Rabu, 23 April 2014

Titik Jenuh Yang Kini Mencapai Puncaknya


         Rasa penat setelah seharian berkutat dengan aktivitas di kampus merah, seketika hilang setibanya di pondokan sederhana itu. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mata dalam hitungan menit saja, lalu bangkit untuk memanjakan diri dengan membasuh kepalaku hingga sampai ke ubun-ubun rasanya.
Ku basuh wajahku dengan melafadzhkan ayat-ayat Allah, kemudian melaksanakan kewajiban yang kadang terlupakan olehku. Dalam setiap do’aku di penghujung shalatku, selalu terselip di bibirku nama-nama orang yang kusayangi, sungguh bergetar jiwa dan bibir ini ketika mengingat mereka. Hati bergejolak, mata berkaca-kaca menahan buliran air mata yang dengan sekali kedipan akan jatuh di kedua belah tanganku yang sedang menengadah kepada-NYA.
Ku langkahkan kaki ke kamar sebelah, masuk dan kemudian memandang wajahku di depan kaca yang tak sempurna itu. Ku tersentak dan dengan sigapku segera berbalik arah. Ku dapati dia yang sedang berpura-pura memejamkan mata seolah sedang tertidur. Aku tahu pasti, itu hanya alibinya agar aku tak menghampirinya.
Perlahan ku menghampirinya, memegang pundaknya dengan lembut sambil mengelusnya. “kenapa ? tolong cerita jika ada masalah.” Kataku padanya. Dia berbalik dengan mata sembab sambil melepas benda penting baginya dari wajahnya. “tidak ada apa-apa” dia menimpaliku dengan kalimat itu. Sungguh kalimat yang kupikir sangat palsu, mencoba kuat tetapi rapuh.. mencoba berdiri kokoh tetapi lumpuh... bahkan kalimat itu justru membuat perasaan kian khawatir.
“tolong cerita, sesuatu yang disimpan sendiri bakal lebih sakit terasa.. maka dari itu berbagi ceritalah” kembali kutimpali dia dengan kata-kataku. Lidahnya enggan bergerak, bibirnya tak mampu mengatup untuk sebuah kata, serta mulutnya tak jua mengeluarkan nadanya. Air mata yang tak terbendung kembali jatuh, kuusap pundaknya dan kubiarkan sejenak ia menangis sepuasnya. Itu setidaknya memperbaiki perasaannya “pikirku”
“aku bosan dengan hidupku” katanya. Aku tersentak kaget mendengarnya. Dia yang selalu Nampak ceria tetapi jauh kedalam dia sepi, rapuh,bahkan goyah. Persaingan yang parameternya adalah kecerdasan intelektual yang selalu menjadi pemicunya. Dia kecewa, menyalahkan dirinya seolah dia makhluk bodoh yang tak bisa apa-apa. Ada yang berkata “semua bisa karena ada niat”, akan tetapi dia tak meyakini itu. Seiyanya dia telah sepenuhnya berniat akan inginnya, tetapi kemampuannya lah yang tak mampu untuk mewujudkannya. Itulah yang selalu ia pikirkan..
Aku tahu persis tentang kemampuannya, bahkan jujur ku katakan akupun iri dengan semangat dan kerja kerasnya meskipun mengakui hal itu adalah hal yang teramat sulit baginya. Pada saat malam kembali menyelimuti keheningan, ia dengan tekunnya tanpa rasa bosan tetap menorehkan tinta dari penanya yang kemudian membentuk huruf-huruf yang indah lekukannya, rumit, tapi ia menikmatinya.
“mungkin titik jenuhku telah sampai” kalimat keduanya kembali terucap masih dengan isakan tangisnya. “semua orang pasti memilki titik jenuh, akan tetapi ada banyak warna dan cerita yang akan kita susun dan bingkai yang kemudian bisa merubah  titik itu menjadi grafik atau vector yang melonjak tajam hingga mencapai target yaitu kebahagiaan” kata-kata itu terangkai dengan sendirinya, di depan seseorang yang rapuh yang tidak pernah mencoba memantaskan diri untuk hal apapun.
hei kawan,, nikmati hidupmu !!! rumput tetangga memang selalu lebih hijau, tapi hijaunya rumputmu tak perlu harus sehijau rumputnya. Bahagia itu sederhana, tak perlu untuk selalu mencari kesempurnaan. Cintai mereka yang ada di dekatmu, merekapun akan mencintaimu,, yakinlah…
bibir mungilnya kemudian melengkung perlahan keatas, pipinya terangkat seraya tangannya menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya. Entah apa yang ia pikirkan setelah mendengar ocehanku yang seolah mengguruinya, padahal aku sendiri melontarkan kata-kata itu untuk menyadarkanku bahwa hidup itu indah, jadi nikmatilah…
sebuah pelukan hangat menutup kejenuhan malam itu, yang di penghujung malam kembali menceritakan cerita-cerita lucu yang seiyanya membuat semuanya terasa ringan, mudah, dan menarik pastinya..
inginku hidup dengan gelak tawa bahagia setiap nafasku… ya Tuhan..

0 komentar:

Posting Komentar