Jumat, 04 April 2014

Yang pergi hanyalah amal


Ku bangkitkan semangatku untuk memulai hari di pagi itu. Seperti hari-hari biasanya, dengan keadaan tergesa-gesa menuju kampus merah, mempercepat langkah demi langkah dengan perasaan was-was dan penuh harap untuk bisa tiba di kelas tepat waktu…
Akan tetapi, hari itu berbeda… perasaan was-was akan terlambat masuk kelas tak ada, tetapi entah kenapa langkah kakiku semakin lama semakin ku percepat..” ada apa ini ??? “ pikirku.
 
Setibanya di fakultas yang di identikkan dengan bahasa serta sajak-sajaknya, dari arah kejauhan mataku tertuju pada beberapa orang temanku yang seolah bergegas untuk pergi ke suatu tempat. Aku bingung dengan penuh tanya “hendak kemana mereka ?, apakah hari ini dosen kembali tak berkenan untuk mengisi otak kami dengan ilmunya ?” tanyaku…

Dengan suara lantang ku bertanya kepada salah seorang temanku dari kejauhan hendak kemana mereka sebenarnya. Seketika ku tercengang menunggu jawabannya, ketika mulutnya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang kurang jelas terdengar dari kejauhan, dua orang temanku yang berada tepat di samping kiri kananku tak bisa mendengar sama sekali akan jawaban dari pertanyaanku itu.

Innalillahi wa inna ilahi rajiun… kalimat ALLAH itu ku ucapkan dengan nada sesak seketika. Kaget, seolah tak percaya bahwa seseorang yang merupakan bagian dari kami telah pergi untuk selama-lamanya.
Tanpa berpikir panjang, kembali ku percepat langkahku bersama dengan tiga orang temanku menuju rumah sakit kampus merah yang jaraknya tidak jauh dari fakultas.
Biasanya kerumah sakit bagiku hanya untuk menjenguk orang lain, di kamar pasien tentunya. Tapi kali ini bukan lagi kamar pasien, melainkan kamar jenazah yang seiyanya menakutkan bagi orang-orang pada umumnya.

Koridor yang sepi, teriknya matahari di luar sana seolah tak terasa lagi, hening..sunyi.. kemudian dengan jarak kurang lebih empat meter dariku, isakan tangis orang-orang terdekat telah terdengar, langkah demi langkah ku menghampiri suara-suara itu…
Ku diam dalam sesakku, melihat tubuh seseorang telah terbaring di atas tempat pembaringannya, di tutupi beberapa kain untuk melindungi auratnya, di kelilingi orang-orang yang sungguh merasa kehilangan akan dirinya di sertai dengan raungan yang tiada hentinya.
Ku mendekatinya, melihat wajahnya yang putih bercahaya dengan bibir pucatnya. Dengan disampingnya ada ibunda yang sungguh tak rela melepas kepergian putrinya, mengutarakan permintaan maaf kepada semua seolah itu adalah ungkapan hati putrinya… kerlingan air mata yang sedari tadi tertahan, seketika jatuh, tak sanggup untuk melihat dan merasakan kesedihan yang menyelimuti.

Jumat, 4 april 2014, pukul 04:00 wita, tepat berumur 24 tahun… tanggal dan hari yang sudah di atur oleh yang diatas yang seolah di simbolkan dengan angka 4, dimana dia harus menghembuskan nafas terakhirnya…
Ku hapus air mata di pipiku pada saat itu pula, tak ingin larut dalam kesedihan yang sebenarnya tak terbantahkan… dan kembali isakan tangis itu menggelegar pada saat syahadat kembali di ucapkan seraya mengangkat tubuh seseorang yang ingin pergi “lailaha illallahu, lailaha illallahu, lailaha illallahu”…

Selamat jalan… selamat jalan untuk selamanya…
Selamat jalan kanda Fitriana Salim…
Selamat jalan untuk seseorang yang telah menjadi kakak di keluarga kami “HIMASPA”
Terima kasih atas segala dedikasimu selama ini…
Tenanglah di pembaringanmu… do’a dan cinta kami selalu bersamamu..
Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya…
Love you kakak Pide’…

0 komentar:

Posting Komentar