Pertemuan kita kala itu entah untuk yang keberapa kalinya, otak ku tak mampu lagi menghitungnya. Asal kau tahu saja, hari itu aku bahagia.
Meski tak lengkap, tapi kurasa kita masih selalu berusaha untuk melengkapi yang tak lengkap. Aku duduk di tengah-tengah, menyebar pandangan ku ke raut wajah kalian satu persatu sambil menunggu pesanan coto bakar dan jus melon ku.
Beberapa rangkaian episode cerita kemarin mengundang kegaduhan di mulut kita tanpa mempedulikan bahwa beberapa pasang mata tengah menatap ke arah kita. Tak peduli ! Itu saja.
Beberapa menit berselang, pesanan ku tiba. Aku mencicipinya, hmmm.. terlalu manis rasanya memiliki jus melon ini. Aku menanggalkannya. Tak lama, suara gemuruh yang entah dari mana asalnya begitu mengganggu ku. Aku beranjak dari kursi busa rumah makan dan ternyata di luar sana ada perang antar saudara ku rupanya.
Kau tahu, aku menyaksikan perang itu berlangsung lama. Tak ada diantara mereka yang ingin mengakhiri, pedang tajam masih berada di jurang bibir siap menghunus hati lawannya. Aku sendiri menyebutnya pertempuran kehendak. Mereka mengangkat sejarah sebagai iming-iming langkah kita hari ini. "Mengapa semua berubah ?" Salah seorang dari mereka berteriak.
Aku heran mendapati mereka jauh di luar dari yang ku bayangkan. Bukankah hidup berevolusi kawan ?, kau pernah bilang "kita memiliki sejarah yang terlupakan" aku masih ingat betul kata mu itu. Ku pikir, si 'kemarin' hendak melarikan diri dari kita, lalu si 'hari ini' akan merangkak mencari kepingan sejarah baru untuk kemudian membuatnya menjadi artefak. Sungguh ironi..
Aku ingin Tuhan memberikan beberapa pasang mata di kepala manusia, agar semua dapat melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda tanpa harus di perintah seperti anak kecil yang masih butuh asupan kata-kata akan realita.
Akhh, sudahlah..
bukankah bahagia sederhana jika kalian memahami makna "Kita" ? Paham bahwa ini bukan alinea terakhir...
Seperti biasa aku diam, menyaksikan waktu sedang menertawakan kita...
Teruntuk Sahabat Angin...

0 komentar:
Posting Komentar