Perempuan mengintip di balik celah daun pintu
Sang surya tanpa permisi melahap retinanya
Sayu, seduh sedan, mungkin cukup begitu reaksinya.
Seketika milyaran kata kerja turun menghujam
Ia masih memilah dengan waspada
Tangannya masih mengais sisa-sisa rindu yang sejak kemarin malam menyelinap lalu menginap
Pandangan masih ia sebar ke suluruh pojok semesta, tanpa terkecuali.
Hingga tiba, aliran air deras menamparnya. Semenit lalu, sejam lalu, sehari lalu, sebulan lalu, setahun lalu, lahannya tandus juga penuh kerikil. Tapi tidak untuk hari ini.
Aliran itu membentuk danau-danau berhutan rawa. Semak rindu masih di huni binatang buas. Pohon masih bercumbu mesra dengan tanah yang basah. Sedang rumput-rumput masih menertawakan semua adegan yang tak begitu romantis.
Perempuan mencoba bermain dengan anak kecil di pinggiran. Seulas senyum muncul namun jelas palsu. Sekeping hati telah di luluhlantahkan, menyisakan nanah yang tak kunjung pulih. Aliran air itu masih mengalir deras, melebihi besarnya sungai mahakam, melebihi panjangnya sungai gangga yang dianggap suci orang-orang.
Sekali lagi, perempuan menegaskan bahwa ini bukan pulau cinta, juga bukan lautan rindu, tapi...
Sungai rahasia.

0 komentar:
Posting Komentar