Barangkali aku hanya menduga-duga. Menduga sesuatu yang tak semestinya di duga. Hari ini, langit menangis tanpa henti di kampung halaman yang sudah lama gersang. Bagaimana mungkin aku tidak mengingat setiap penggal cerita yang kemarin biasa kau titip lewat rintiknya.
Barangkali aku hanya menerka-nerka. Menerka sesuatu yang tak semestinya di terka. Huruf-huruf namamu, garis wajahmu yang masih ku hafal betul tata letaknya di bibir jiwa. Bagaimana mungkin kau menemuiku dengan menarikan segala kepura-puraan di matamu.
Barangkali aku hanya mengira-ngira. Mengira sesuatu yang tak semestinya di kira. Di luar sana, mereka melempari ku dengan kata-kata yang di tolak oleh telingaku. Aku takkan mau juga takkan mampu menghitung rasa. Tuhan menganugrahi ku sebuah rasa yang membuatku sakau rupanya.
Ah, sudahlah. Aku enggan meratap. Yang aku tahu, aku pernah berusaha menjadi pribadi yang terbaik hingga akhirnya lupa menjadi pribadi yang menyenangkan. Entah ini hanya dugaan, perkiraan ataupun terkaan, aku tak lagi tahu.
Ini perihal menanggalkan dan meninggalkan. Aku tak memaksamu untuk paham. Cukup.

0 komentar:
Posting Komentar