Sabtu, 02 Agustus 2014

Air mata dalam diam

Diawali dengan candaan, memuji, kemudian menghujat satu sama lain...

Dilanjutkan dengan mencelah, bertukar pikiran, kemudian berselisih paham...

Apa sebenarnya ini ???
Diawal percakapan malam itu, saat rindu mulai bergemuruh, resah kembali menggeliat, serta amarah tak tertahankan yang kemudian kutuangkan kedalam pesan singkat dengan rentetan huruf yg memiliki makna tak terlisankan...

Percakapan tadi tentang mereka, namun kau dengan sigapnya membelokkannya hingga percakapan itu menjadi tentang kita...

Saat ini, mungkin seperti inilah posisi kita dalam memandang sesuatu, selalu berbeda bukan ???
Dahulu, persamaan selalu menjadi fokus kita, namun sekarang hanya perbedaan yang selalu nampak bahkan jika persamaan menampakkan bahwa dia ada, dengan segeranya akan ditiadakan keberadaannya.. itulah kita untuk saat ini...

Bukankah dalam kesatuan tentu ada persamaan dan perbedaan ?, karena inilah usaha kita untuk meniadakan "AKU" ataupun "KAMU" menjadi "KITA".

Namun apa yang akan kemudian ku katakan jikalau kau ternyata sudah cukup lelah hingga saat ini ?, dan tak sadarkah kau bahwa kata lelah itu sudah untuk kesekian kalinya selalu kudengar terucap dari bibir manismu ?

Seketika tubuhku lemah, air mata tak dapat ku bendung, otakku seakan digerogoti serangga merah siap membuyarkan konsentrasiku... jika kata lelah sudah seringkali terucap, apakah usaha untuk menjadi satu masih ada ? Layaknya jika selamat tinggal telah terucap, maka keinginan bertemu sudah tak ada lagi... pertanyaan itu kutimpalkan kepadamu...

Kau meminta tanganku untuk kau genggam. Sejenak, untuk menghela nafasmu.. namun tanganku tengah lemah untuk saat ini.

Kemudian kau meminta pundakku untuk bersandar. Sejenak, juga untuk menghela nafasmu.. namun pundakku tengah rapuh saat ini.

Silahkan genggam erat tanganku yang lemah ini, buat dia lebih kuat.. silahkan bersandar di pundakku yang rapuh ini, buat dia menjadi bisa menopangmu...

Maaf mu selalu saja membuatku tersiksa, membuatku seolah tak berperasaan.. maafkan aku yang tak pernah sadar, jangan terlalu berkorban jika itu membuatmu tersiksa.. berpura-pura kuat dihadapanku seolah bagai belati yang siap menikamku, sakitnya sungguh tak tertahankan..
Tahukah kau bahwa aku lebih sakit melihatmu sakit karena aku ?

Malam semakin larut, mata masih terjaga dan disudut percakapan itu kutanyakan "apakah kau memikirkanku ?", satu kata singkat darimu "tidak", yang kemudian mengakhiri percakapan malam itu...

Ku tutup pesan itu perlahan, kuletakkan. "Jika kau tak pernah memikirkanku saat ini, masih bisakah aku setidaknya meminta untuk mengajarkanku cara bertindak agar sadarku nampak dari sudut pandangmu ?" tanyaku.

Air mata dalam diam kala malam nan sunyi adalah yang terbaik saat itu...

0 komentar:

Posting Komentar