Hai... sapaan dalam hati untukmu yang untuk kali pertama kujumpai, tak terlisankan dari mulutku namun itu kutuangkan dalam senyum simpulku.
Dalam kurun waktu yang cukup terbilang lama menurutku, kita akan selalu saling menggenggam dalam menjalankan misi pengabdian.
Bagiku, butuh waktu lama untuk bisa bercengkerama, tertawa lepas bersama dengan kalian yang baru, namun itu terbantahkan ketika kutemui kalian.. "waktu yang singkat rupanya", pikirku.
Hei,, tapi berbeda denganmu.. ada apa sebenarnya ?, bahkan jika seluruh isi kepalaku memiliki mulut ketika ditanya, mereka akan membungkam bagai disekap, enggan dan tak mampu menjelaskan mengapa demikian.
Betapa hebat dirimu kawan !
Terlalu tinggi kau angkat secara bersama dagu dan rahangmu, sehingga tak dapat disetarakan dengan kami.
Terlalu tinggi kau angkat secara bersama dagu dan rahangmu, sehingga tak dapat disetarakan dengan kami.
Betapa hebat dirimu kawan !
Dengan gagahnya kau busungkan dadamu, sehingga kau seolah selalu di depan dan dibelakang hanya ada kami.
Dengan gagahnya kau busungkan dadamu, sehingga kau seolah selalu di depan dan dibelakang hanya ada kami.
Betapa hebat dirimu kawan !
Meninggikan suara, menutup telinga, tertawa meringis ketika aku, dia, ataupun mereka tengah menuangkan pikiran dalam bahasa.
Meninggikan suara, menutup telinga, tertawa meringis ketika aku, dia, ataupun mereka tengah menuangkan pikiran dalam bahasa.
Betapa hebat dirimu kawan !
Ilmu kah yang melukismu dikanvas yang kini nampak dari kacamataku ? Dan tanpa kau sadari, kau kini seolah sedang menutup sebelah matamu dengan kain hitam.
Ilmu kah yang melukismu dikanvas yang kini nampak dari kacamataku ? Dan tanpa kau sadari, kau kini seolah sedang menutup sebelah matamu dengan kain hitam.

0 komentar:
Posting Komentar