Menarikan cahaya merah diujung tubuhnya yang putih
memecah ruang gulita namun ramai
angin terus berada didekatnya, tapi tak sampai mematikannya
tetap saja menari tapi tak sampai melahap
"terima kasih" serunya pada gelap
"karena kau, aku ada" tambahnya
lewat dinging rumah kayu yang begitu romantis
besama angin, kuterbangkan cahayamu tepat didepan paras lukisan tuhan
menatapmu dengan lengkungan senyum bak bulan sabit seperti diujung langit malam
bersama angin, cahayamu kini kugenggam
sumbu hidupmu sebentar lagi akan melelehkan dimensimu
tapi tak akan pernah sampai melelehkanharapanmu yang berujung tiada...
terima kasih telah menutup februari dengan cahaya merahmu malam itu :)


0 komentar:
Posting Komentar