Seperti inilah akhir, aku enggan memakinya, juga enggan menghakiminya.
Akhir yang tadinya tak kita rencanakan, namun keadaan yang memaksa kita untuk membuatnya berakhir. Akhir yang tadinya hanya berupa bayang-bayang samar, namun kini begitu jelas terlihat bahkan terasa.
Heii,, masih ku sapa kau dengan hangat di akhir ini. Sesak rasanya seperti ini. Layaknya aku yang selalu mencoba berjalan ke arahmu, namun kau dengan nyamannya berlari terlalu jauh dengan ritme yang kau sukai.
Jauh sebelum ini menjadi akhir, aku selalu bertanya "masih mampukah aku mengimbangimu ?", "masih bisakah kita jalan beriringan ?" Itu tanda tanya besar di kepalaku. Dan pada akhirnya, aku memang sudah terlampau sulit mengimbangimu dan tanganmu tak mampu jua menggenggam tanganku untuk kita seiring.. tak lagi, tak lagi bisa, tak lagi mampu.
Aku mengakhiri malam dengan menahan isakanku dalam ruang 1 x 2 meter, menggosok gigi dengan gerakan tak lembut seperti biasanya. Itu kulakukan agar tak ada suara diluar sana yg kudengar, bahkan isakanku sekalipun, hanya suara gerakan bulu sikat gigiku..
Ini adalah sidang akhir cerita kita. Tak ada yang tahu entah esok akan ada interupsi atau PK dalam cerita kita.
Maaf sudah membuatmu berucap "maaf" dalam buku kita. Maaf sudah membuatmu terlampau jauh untuk mengerti bagaimana aku. Maaf sudah membuatmu merasa kejam dan jahat saat kristal bening di mataku tumpah dihadapanmu. Maaf sudah merepotkanmu. Maaf sudah membuatmu khawatir. Maaf sudah membuatmu sering bingung akan aku.
Tapi...
Terima kasih untuk cerita kita. Terima kasih untuk 19 kita. Terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengajariku menulis. Terima kasih sudah membuat ingatan manis dikepalaku. Terima kasih sudah mengajariku menjadi gila.
Sekali lagi, untuk semuanya, terima kasih untukmu...
Untuk akhir cerita kita
Semoga harimu selalu bahagia

0 komentar:
Posting Komentar