Selasa, 17 Maret 2015

Tak semestinya Rindu

Tak usah membelalak jika ia tetiba datang. Mengetuk pintu pun sepertinya enggan, hanya menerobos ke ruang tamu dengan sejumput kenangan sebagai buah tangannya.

Tak usah termangu jika ia tetiba datang. Mungkin menyalami akan lebih akrab, lalu kemudian menerima buah tangannya itu dengan manis.

Sungguh lucu rupanya. Ia selalu saja menghampiri ketika larut. Mungkin harus kuminta ia untuk merubah wujudnya, menjadi ice cream yang terasa manis di lidah, menjadi bunga tulip ungu yang sedang kupandang penuh senyum, atau mungkin menjadi merah senja yang ku ajak berdialog dengan mesra, menarik bukan ?

Tapi sepertinya ia enggan untuk merubah wujudnya, tetap saja seperti itu walaupun telah ku ajak untuk wisata kuliner atau menikmati kopi di kedai favoritku.

Tak semestinya begini. Aku begini karena begitu, bahkan jikalau begitu, akan jadi begini. Ahh, sudahlah..
Tak semestinya dia.
Tak semestinya "rindu".

Tengah tersadar bahwa rindu bukan untuknya lagi
(23:48 wita)

0 komentar:

Posting Komentar