Hari yang tadinya masih terisi penuh senyum, kini ia menumpahkannya.Senja yang tadinya menyempurnakan, kini ia merenggutnya.
Wahai malam, kurasa kau menghardikku.
Kau tahu kenapa kini aku begitu mengutuk gelap ? Begitu membenci malam ? Karena langit hitam diluar sana selalu menyadarkanku bahwasanya kau tak lagi berada tepat disamping kananku, menyelipkan jari-jarimu diselah jari-jariku.
Kini, malam layaknya media pemutar otomatis yang menyalakan, menyetel, kemudian memutar rekaman suara kita, adegan-adegan kita dalam scene. Dan apa yang terjadi denganku ? Aku terus saja mendengar rekaman itu dengan seksama, menonton adegan kita dengan khidmat.
Sungguh bodoh, bodoh, bodoh mendapati aku yang seperti ini, pikirku. Bukan inginku untuk menghapus jejak lalu, namun malam terlampau menyiksaku, menghukumku, dan memusuhiku hingga mencekik.
Untuk kali ini, dan lagi aku begitu membenci malam. Entah masa apa yang menghentikannya.
Lalu ketika kubenci akan malam, apakah turut kubenci akan engkau ???

0 komentar:
Posting Komentar