Pulang kerumah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi
setiap orang.Seperti aku, dia mungkin juga mereka.Meninggalkan sejenak hiruk
pikuk dunia luar yang lucu-lucu rasanya.Dunia yang terlalu sibuk, pikirku.
Aku
tak setiap hari pulang.Tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau bisa saja
setahun sekali.Setiap pulang, benda pertama yang kutemui diruang tamuku yakni
jam dinding itu.aku bercengkerama dengannya jauh sebelum orang-orang disekitar
mengenaliku. Aku bermain dengannya jauh sebelum aku di ajak bermain petak umpet
oleh tetanggaku. Aku berkencan sambil minum teh dengannya jauh sebelum
kekasihku mengajakku ke kedai teh di kota.
Aku
selalu menikmati suaranya ditengah heningnya malam, sunyinya rumah dan
senyapnya kamar.Ia kadang berseteru dengan hujan, saling mengadu suara siapa
yang lebih keras, hebat dan kekal. Kadang, aku enggan melerai mereka. Tetap
kubiarkan agar mereka suatu saat paham bahwa masih banyak yang harus mereka
pikir ketimbang harus menyombongkan kekuatan satu sama lain.
Sesuka-sukanya
aku dengan dia, tapi terkadang aku heran dengan tingkahnya.Memiliki dua jarum
dengan emosi yang sungguh berbeda.Jarumyang sedikit pendek itu halus
perasaannya, bergerak lambat dan selalu mempesona bagi setiap angka-angka.Namun
jarum yang panjang itu, sedikit penuh emosi ku sebut. Kenapa, karena ia tanpa
aba-aba tertentu terus saja melangkah dari angka ke angka tanpa menengok
sedikitpun. Kan bisa saja, angka 3 sedang menaruh hati padanya. Menunggu untuk
ia dilirik kembali. Atau bisa saja angka 7 sudah berjam-jam menunggu untuk
memintanya duduk manis diruang tamunya dengan sepotong kue dan seduhan teh
hangat. Tapi disayangkan, ia terus saja berjalan dengan lincah dan sungguh
arogan sepertinya.
Hari
ini aku pulang kerumah dan kudapati ia sekarat jarumnya tak mampu lagi
melangkah. Kupikir akan membawanya kerumah sakit untuk mengobatinya, tapi
tidak, aku tengah berpikir akan menanggalkannya. Yah, tepat sekali. Aku akan
menanggalkannya.
Kusegerakan
kakiku melangkah kesebuah toko dengan sebuah misi akan membeli jam dinding baru
dengan kedua jarumnya bergerak ke arah kiri. Aku muak dengan dua jarum yang
terus berputar ke kanan tanpa henti.Sungguh menyebalkan. Aku dengan keyakinan
penuh akan mendapatkan jam dinding baru itu.
“permisi, saya
mencari jam dinding yang jarumnya bergerak ke kiri. Ada kan pak ?” tanyaku
pada pemilik toko.
“apa kau sudah
gila ? sana pergi !” timpalnya.
Lalu aku segera meninggalkan toko itu.lalu
kulangkahkan kakiku ke toko jam di seberang jalan.
“pak, tolong
berikan saya satu jam dinding yang bergerak ke arah kiri” ucapku dengan
penuh harap.
“silahkan kau putar sendiri jarumnya
sepanjang waktu, dasar bodoh” ujar pemilik toko.
Beberapa
toko yang telah ku datangi semua menimpaliku dengan cemoohan dan juga sebutan
orang sinting.Ada apa ini?apakah mereka sudah terlalu terlena dengan melihat
jam bergerak ke kanan setiap harinya ? atau aku memang sudah gila ? TIDAK..Mereka
yang tidak waras, pikirku.Aku juga tak mengerti hingga akhirnya aku memasuki
sebuh toko di sudut jalan.Toko itu tak begitu besar, cukup tua kelihatannya dan
sedikit kotor. Aku masuk dan kakek tua sudah berdiri dihadapanku dengan jam
dinding kuning keemasan telah ada ditangannya. Jarumnya bergerak ke kiri.
“ini kan yang
kaucari ?” ucapnya sambil meringis.
“iya, bagaimana kakek bisa tahu ?”
tanyaku penasaran.
“cukup kau ambil
ini, dan perbaiki apa yang ingin kau perbaiki”ujarnya
padaku dengan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.
Aku diam
sejenak sambil memperhatikan setiap bentuk lekuk jam itu. tanpa ragu aku
langsung mengambilnya. Ku rogoh saku ku untuk mengambil beberapa lembar uang
tapi dengan sigap kakek itu menolak aku membayarnya.
“ambil saja, ini
untukmu. Aku sudah lama menunggumu datang mengambilnya”.Ucap
kakek tua dengan barisan gigi palsunya yang rapih tak senada dengan kerutan
rupanya.
Tak banyak tanya lagi. Tapi ribuan pertanyaan
menghujani ku. Untuk sekarang tak apa, nanti saja aku pikirkan.
“terima kasih banyak kek…”
aku berlalu meninggalkan kakek itu dengan senyum sumringah.
Kupasang
jam dinding itu di kamarku, tak lagi diruang tamu. Pukul 12.00 malam, aku terus
menungguinya, menatapnya dengan khidmat.Tiba-tiba jarumnya memang berubah
arah.Jarumnya yang panjang tiba-tiba menarik lenganku dengan halus, aku
mengikuti langkahnya terus menerus hingga akhirnya aku berada tepat di atas
pijakan angka 11.
Di
angka 11, aku bertemu dengan Si ‘Pengkhianatan’.Dia
menjamuku dengan baik diruang tamunya, menyuruhku menginap disana lebih lama.
Aku sempat terlena dengannya, tapi tak kubiarkan , semenit yang lalu ia baru
saja kabur dengan meninggalkan goresan luka ditangan kiriku.
Kemudian
aku pergi meninggalkan Si’Pengkhianatan’
yang kusebut tak berperasaan itu.Di angka 10 aku bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Dia di detik itu memberiku
hadiah yang sudah lama ku idamkan.Begitu singkat rasanya perjalananku ketika
bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Aku
pergi hingga pijakanku di angka 9 mempertemukanku denga Si ’Perhatian’.Ia kaget
melihat luka ditangan kiriku. Dengan sigap ia mengobatinya. Pelan dan juga
lembut dan terakhir sebelum aku meninggalkannya ia mengusap lembut kepala
kemudian pipiku. Aku tersipu.
Aku
kembali melangkah ke angka 8 dan bertemu dengan Si ‘kemarahan’.Aku takut berhadapan dengannya.Ia menyala pun berapi.
Ia terus memaki ku, menghakimiku atas masa lalu yang diangapnya salah. tanpa
permisi akupun kabur. Batinku menangis menemuinya, menyesal telah mampir.
Angka
7 menjemputku membawaku menemui Si ‘Kekecewaan’.
Detik itu ia menangis sambil tertenduk lesu. Kutanya kenapa tapi ia enggan
untuk berucap apa-apa, terus saja menangis sambil mencoret-coret tanah dengan
jari telunjuknya. Aku tak mengerti, kurasa aku sudah mengenal Si ‘Kekecewaan’ ini, tapi lirih suaranya
tak kunjung ku dengar.Aku pun pergi hingga tiba di pertengahan waktu angka
6.Disitu aku di ajak kerumah Si’Bahagia’.Disana
aku berdansa dengannya, berbagi cerita juga tertawa bersama. Jika kutengok
sesekali waktu, oh ternyata aku sudah cukup lama bermain dengan Si ‘Bahagia’ tapi kenapa aku merasa baru
sebentar, sekitar semenit 47 sekon mungkin ?entahlah, begitu singkat rupanya.
Aku
tiba di angka 5 dan bertemu dengan Si ‘Kebencian’.Dia
sedang berada di bibir pantai dengan bongkahan batu ditangannya.Ia menghadap
laut.
“apa yang akan
kau lakukan dengan batu itu?” tegurku padanya.
“kau diam !” dia
mengagetkanku seketika. “aku akan
melempari langit karena aku begitu membencinya” tambahnya.
“heii, kenapa kau membencinya ? bukankah ia
begitu indah ?” aku berusaha menenangkannya.
“dia terlalu
senang merubah warnanya, aku benci ketika hitam gelap malam merenggut merah
senjaku. Dia sungguh jahat” dengan penuh amarah dia
berucap itu.
“kau tak boleh
melakukan itu.” aku menghalanginya.
“pergi !aku
bilang pergi sekarang juga. Enyahlah dari hadapanku, tak usah kau ikut campur.”
sambil
mendorongku hingga berjarak dengannya.
Aku
pun berlari meninggalkannya. Jarum jam itu menarik kembali lenganku. Membawaku
ke angka 4 dan bertemu dengan Si ‘Kesederhanaan’.Aku
melihat dia sedang duduk bersenda gurau dengan keluarga kecil dirumah
mungilnya.Tapi aku tak mampir hanya sekedar menengok.Angka 3 mempertemukanku
dengan Si ‘Kesabaran’.Ia berada
diberanda rumahnya dengan tatapan kososng. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“silahkan masuk.”Ucapnya.Aku
kaget karena ternyata ia menyadari keberadaanku. Belum sempat aku bertanya
tiba-tiba saja ia berkata padaku “ bisa
kau temani aku menunggunya ? katanya dia akan tiba 10 menit lagi. Aku
merindukannya, sangat.”
“siapa gerangan
yang engkau tunggu, tapi maaf, aku benar-benar tak bisa berlama-lama disini.” “aku
menunggu dia. tak apa, aku hanya akan terus menunggu dia sendirian hingga
nanti” sekali lagi ia mengulang kalimatnya. “aku merindukannya, sangat.”
Aku tak tahu persis siapa gerangan yang ia tunggu.
Mungkin saja kekasihnya, anaknya atau suaminya yang berada di negeri antah
berantah.Lalu aku kemudian pergi tanpa permisi.Lagi.
Di
angka 2 aku menemui Si ‘Ketulusan’.Dia
disibukkan dengan membantu korban-korban bencana kemarin sore. Baru selangkah
aku ingin membantu tapi jarum itu menarik kuat lenganku sambil berkata, “cepat, waktu kita hampir habis !”
Pijakan ku tepat di angka 1 kini.Aku bertemu dengan
Si ‘Keikhlasan’.Dia memberikanku
sebuah album foto.Foto perjalanan sepanjang masa silam.Tak ku ketahui berapa
ribu tahun lalu tepatnya. Lalu ia menepuk bahuku lalu berpesan “lihat yang lalu, palajari hari ini,
melangkah lah esok.”
1 menit 54703 sekon 37905 mata kaki dariku dia
lenyap dihadapanku seketika.
Sembari
melangkah aku terus memikirkan nasehat itu.hingga akhirnya angka 12 menamparku
mengajak aku bertemu segera dengan Si ‘Kesadaran’.
Aku terperanjat, ku tengok lengkungan angka-angka yang telah kulalui sejauh
ini.
Aku
berkelana mengelilingi waktu yang bergerak melawan arah, menemui sifat
atom-atom duniawi yang tak kekal itu.
Tiba-tiba…
Kurasakan selang tipis itu melekat di pergelangan
tanganku.Tepat dibawah saluran nafas hidungku ku pun kurasa selang itu
melintas.Mataku tak dapat ku buka.Gelap sejadi-jadinya.“Apa aku sakit ?”
“tidak”,
pikirku.
“Aku baik-baik
saja, tentunya.”
Dan tiba-tiba…
Kudengar suara seseorang mendekat.Lalu bertanya “dia bagaimana ?”
lalu suara ibuku menjawab tepat disebelahku. Telingaku
merekamnya baik-baik.

2 komentar:
saya ndak tahu dengan semua angka selain angka 11,
saya ndak tahu pasti apa yang ada dibaliknya,
the secret is yours,
but still, the idea is great :)
Angka 11 begitu istimewa ?
Haha.. silahkan maknai setiap angka dengan caramu..:)
Posting Komentar