Selasa, 28 Juli 2015

Jam Dinding



Pulang kerumah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang.Seperti aku, dia mungkin juga mereka.Meninggalkan sejenak hiruk pikuk dunia luar yang lucu-lucu rasanya.Dunia yang terlalu sibuk, pikirku.
            Aku tak setiap hari pulang.Tiga bulan sekali, enam bulan sekali atau bisa saja setahun sekali.Setiap pulang, benda pertama yang kutemui diruang tamuku yakni jam dinding itu.aku bercengkerama dengannya jauh sebelum orang-orang disekitar mengenaliku. Aku bermain dengannya jauh sebelum aku di ajak bermain petak umpet oleh tetanggaku. Aku berkencan sambil minum teh dengannya jauh sebelum kekasihku mengajakku ke kedai teh di kota.
            Aku selalu menikmati suaranya ditengah heningnya malam, sunyinya rumah dan senyapnya kamar.Ia kadang berseteru dengan hujan, saling mengadu suara siapa yang lebih keras, hebat dan kekal. Kadang, aku enggan melerai mereka. Tetap kubiarkan agar mereka suatu saat paham bahwa masih banyak yang harus mereka pikir ketimbang harus menyombongkan kekuatan satu sama lain.
            Sesuka-sukanya aku dengan dia, tapi terkadang aku heran dengan tingkahnya.Memiliki dua jarum dengan emosi yang sungguh berbeda.Jarumyang sedikit pendek itu halus perasaannya, bergerak lambat dan selalu mempesona bagi setiap angka-angka.Namun jarum yang panjang itu, sedikit penuh emosi ku sebut. Kenapa, karena ia tanpa aba-aba tertentu terus saja melangkah dari angka ke angka tanpa menengok sedikitpun. Kan bisa saja, angka 3 sedang menaruh hati padanya. Menunggu untuk ia dilirik kembali. Atau bisa saja angka 7 sudah berjam-jam menunggu untuk memintanya duduk manis diruang tamunya dengan sepotong kue dan seduhan teh hangat. Tapi disayangkan, ia terus saja berjalan dengan lincah dan sungguh arogan sepertinya.

            Hari ini aku pulang kerumah dan kudapati ia sekarat jarumnya tak mampu lagi melangkah. Kupikir akan membawanya kerumah sakit untuk mengobatinya, tapi tidak, aku tengah berpikir akan menanggalkannya. Yah, tepat sekali. Aku akan menanggalkannya.
            Kusegerakan kakiku melangkah kesebuah toko dengan sebuah misi akan membeli jam dinding baru dengan kedua jarumnya bergerak ke arah kiri. Aku muak dengan dua jarum yang terus berputar ke kanan tanpa henti.Sungguh menyebalkan. Aku dengan keyakinan penuh akan mendapatkan jam dinding baru itu.
permisi, saya mencari jam dinding yang jarumnya bergerak ke kiri. Ada kan pak ?” tanyaku pada pemilik toko.
apa kau sudah gila ? sana pergi !” timpalnya.
Lalu aku segera meninggalkan toko itu.lalu kulangkahkan kakiku ke toko jam di seberang jalan.
pak, tolong berikan saya satu jam dinding yang bergerak ke arah kiri” ucapku dengan penuh harap.
 silahkan kau putar sendiri jarumnya sepanjang waktu, dasar bodoh” ujar pemilik toko.
            Beberapa toko yang telah ku datangi semua menimpaliku dengan cemoohan dan juga sebutan orang sinting.Ada apa ini?apakah mereka sudah terlalu terlena dengan melihat jam bergerak ke kanan setiap harinya ? atau aku memang sudah gila ? TIDAK..Mereka yang tidak waras, pikirku.Aku juga tak mengerti hingga akhirnya aku memasuki sebuh toko di sudut jalan.Toko itu tak begitu besar, cukup tua kelihatannya dan sedikit kotor. Aku masuk dan kakek tua sudah berdiri dihadapanku dengan jam dinding kuning keemasan telah ada ditangannya. Jarumnya bergerak ke kiri.
“ini kan yang kaucari ?” ucapnya sambil meringis.
 “iya, bagaimana kakek bisa tahu ?” tanyaku penasaran.
“cukup kau ambil ini, dan perbaiki apa yang ingin kau perbaiki”ujarnya padaku dengan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.
 Aku diam sejenak sambil memperhatikan setiap bentuk lekuk jam itu. tanpa ragu aku langsung mengambilnya. Ku rogoh saku ku untuk mengambil beberapa lembar uang tapi dengan sigap kakek itu menolak aku membayarnya.
“ambil saja, ini untukmu. Aku sudah lama menunggumu datang mengambilnya”.Ucap kakek tua dengan barisan gigi palsunya yang rapih tak senada dengan kerutan rupanya.
Tak banyak tanya lagi. Tapi ribuan pertanyaan menghujani ku. Untuk sekarang tak apa, nanti saja aku pikirkan.
 “terima kasih banyak kek…” aku berlalu meninggalkan kakek itu dengan senyum sumringah.
 
            Kupasang jam dinding itu di kamarku, tak lagi diruang tamu. Pukul 12.00 malam, aku terus menungguinya, menatapnya dengan khidmat.Tiba-tiba jarumnya memang berubah arah.Jarumnya yang panjang tiba-tiba menarik lenganku dengan halus, aku mengikuti langkahnya terus menerus hingga akhirnya aku berada tepat di atas pijakan angka 11.
            Di angka 11, aku bertemu dengan Si ‘Pengkhianatan’.Dia menjamuku dengan baik diruang tamunya, menyuruhku menginap disana lebih lama. Aku sempat terlena dengannya, tapi tak kubiarkan , semenit yang lalu ia baru saja kabur dengan meninggalkan goresan luka ditangan kiriku.
            Kemudian aku pergi meninggalkan Si’Pengkhianatan’ yang kusebut tak berperasaan itu.Di angka 10 aku bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Dia di detik itu memberiku hadiah yang sudah lama ku idamkan.Begitu singkat rasanya perjalananku ketika bertemu dengan Si ‘Kasih sayang’.Aku pergi hingga pijakanku di angka 9 mempertemukanku denga Si ’Perhatian’.Ia kaget melihat luka ditangan kiriku. Dengan sigap ia mengobatinya. Pelan dan juga lembut dan terakhir sebelum aku meninggalkannya ia mengusap lembut kepala kemudian pipiku. Aku tersipu.
            Aku kembali melangkah ke angka 8 dan bertemu dengan Si ‘kemarahan’.Aku takut berhadapan dengannya.Ia menyala pun berapi. Ia terus memaki ku, menghakimiku atas masa lalu yang diangapnya salah. tanpa permisi akupun kabur. Batinku menangis menemuinya, menyesal telah mampir.
            Angka 7 menjemputku membawaku menemui Si ‘Kekecewaan’. Detik itu ia menangis sambil tertenduk lesu. Kutanya kenapa tapi ia enggan untuk berucap apa-apa, terus saja menangis sambil mencoret-coret tanah dengan jari telunjuknya. Aku tak mengerti, kurasa aku sudah mengenal Si ‘Kekecewaan’ ini, tapi lirih suaranya tak kunjung ku dengar.Aku pun pergi hingga tiba di pertengahan waktu angka 6.Disitu aku di ajak kerumah Si’Bahagia’.Disana aku berdansa dengannya, berbagi cerita juga tertawa bersama. Jika kutengok sesekali waktu, oh ternyata aku sudah cukup lama bermain dengan Si ‘Bahagia’ tapi kenapa aku merasa baru sebentar, sekitar semenit 47 sekon mungkin ?entahlah, begitu singkat rupanya.
            Aku tiba di angka 5 dan bertemu dengan Si ‘Kebencian’.Dia sedang berada di bibir pantai dengan bongkahan batu ditangannya.Ia menghadap laut.
“apa yang akan kau lakukan dengan batu itu?” tegurku padanya.
 “kau diam !” dia mengagetkanku seketika. “aku akan melempari langit karena aku begitu membencinya” tambahnya.
 “heii, kenapa kau membencinya ? bukankah ia begitu indah ?” aku berusaha menenangkannya.
“dia terlalu senang merubah warnanya, aku benci ketika hitam gelap malam merenggut merah senjaku. Dia sungguh jahat” dengan penuh amarah dia berucap itu.
“kau tak boleh melakukan itu.” aku menghalanginya.
“pergi !aku bilang pergi sekarang juga. Enyahlah dari hadapanku, tak usah kau ikut campur.” sambil mendorongku hingga berjarak dengannya.
            Aku pun berlari meninggalkannya. Jarum jam itu menarik kembali lenganku. Membawaku ke angka 4 dan bertemu dengan Si ‘Kesederhanaan’.Aku melihat dia sedang duduk bersenda gurau dengan keluarga kecil dirumah mungilnya.Tapi aku tak mampir hanya sekedar menengok.Angka 3 mempertemukanku dengan Si ‘Kesabaran’.Ia berada diberanda rumahnya dengan tatapan kososng. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“silahkan masuk.”Ucapnya.Aku kaget karena ternyata ia menyadari keberadaanku. Belum sempat aku bertanya tiba-tiba saja ia berkata padaku “ bisa kau temani aku menunggunya ? katanya dia akan tiba 10 menit lagi. Aku merindukannya, sangat.”
“siapa gerangan yang engkau tunggu, tapi maaf, aku benar-benar tak bisa berlama-lama disini.” “aku menunggu dia. tak apa, aku hanya akan terus menunggu dia sendirian hingga nanti” sekali lagi ia mengulang kalimatnya. “aku merindukannya, sangat.”
Aku tak tahu persis siapa gerangan yang ia tunggu. Mungkin saja kekasihnya, anaknya atau suaminya yang berada di negeri antah berantah.Lalu aku kemudian pergi tanpa permisi.Lagi.
            Di angka 2 aku menemui Si ‘Ketulusan’.Dia disibukkan dengan membantu korban-korban bencana kemarin sore. Baru selangkah aku ingin membantu tapi jarum itu menarik kuat lenganku sambil berkata, “cepat, waktu kita hampir habis !”
Pijakan ku tepat di angka 1 kini.Aku bertemu dengan Si ‘Keikhlasan’.Dia memberikanku sebuah album foto.Foto perjalanan sepanjang masa silam.Tak ku ketahui berapa ribu tahun lalu tepatnya. Lalu ia menepuk bahuku lalu berpesan “lihat yang lalu, palajari hari ini, melangkah lah esok.”
1 menit 54703 sekon 37905 mata kaki dariku dia lenyap dihadapanku seketika.
            Sembari melangkah aku terus memikirkan nasehat itu.hingga akhirnya angka 12 menamparku mengajak aku bertemu segera dengan Si ‘Kesadaran’. Aku terperanjat, ku tengok lengkungan angka-angka yang telah kulalui sejauh ini.
            Aku berkelana mengelilingi waktu yang bergerak melawan arah, menemui sifat atom-atom duniawi yang tak kekal itu.
 

Tiba-tiba…

Kurasakan selang tipis itu melekat di pergelangan tanganku.Tepat dibawah saluran nafas hidungku ku pun kurasa selang itu melintas.Mataku tak dapat ku buka.Gelap sejadi-jadinya.“Apa aku sakit ?”
“tidak”, pikirku.
“Aku baik-baik saja, tentunya.”

 
Dan tiba-tiba…

Kudengar suara seseorang mendekat.Lalu bertanya “dia bagaimana ?”
lalu suara ibuku menjawab tepat disebelahku. Telingaku merekamnya baik-baik.
“12 jam waktu meninggalkan kita, dia masih KOMA,”…

2 komentar:

Unknown mengatakan...

saya ndak tahu dengan semua angka selain angka 11,
saya ndak tahu pasti apa yang ada dibaliknya,
the secret is yours,
but still, the idea is great :)

Riska Sendeng mengatakan...

Angka 11 begitu istimewa ?
Haha.. silahkan maknai setiap angka dengan caramu..:)

Posting Komentar