Minggu, 18 Januari 2015

Ini tentang Mandar



Kembali berjelajah…
           
Itulah hal yang saya lakukan untuk mengisi kekosongan saat liburan meskipun dikampung halaman sendiri. yahh, teman-teman dari salah satu ukm seni difakultas berkunjung ke polewali untuk melakukan observasi tarian khusus etnis mandar.

            Suku mandar merupakan salah satu etnis yang dominan berada di Sulawesi Barat. Pun Polewali Mandar merupakan sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya bersuku mandar. Saya sendiri memiliki keturunan darah mandar yakni dari nenek. Dahulu, karena sedari kecil hingga berumur 17 tahun seiyanya saya hidup dilingkungan yang orang-orangnya dominan bersuku mandar, jadi dengan santainya saya berani mengaku sebagai orang mandar.

            Bahasa dan tradisi-tradisi suku mandar serta merta saya ketahui dengan sendirinya tanpa harus melalui pendidikan formal tentunya, meskipun saya tidak begitu fasih dalam berujar menggunakan bahasa mandar tapi setidaknya saya tahu arti dari pembahasan yang tengah diperbincangkan oleh para orang-orang tua.

            Pada saat melanjutkan studi di Universitas di Makassar, saya kemudian berada dilingkungan orang-orang dengan suku yang berbeda. Tahu bagaimana reaksi mereka ketika mendengar kata mandar ???, lalu kemudian mereka akan berujar seperti ini “orang mandar kan yang keras baca-bacanya (merujuk pada ilmu hitam) ?”. Dahulu saya sontak kaget ketika mendapati mereka berujar itu, sangat. Atas dasar apa mereka dengan mudahnya melontarkan itu, pengetahuan tentang bagaimana suku mandar itu berkembang tidak pula mereka pahami. Bukankah perbedaan menjadi indah ketika bersatu ? Lalu apa sebenarnya ? melihat fakta dilapangan ? sungguh mata hanya akan melihat sisi luar itu, tapi akan selalu ada tangan yang membuatnya terbuka, melihat sisi dalam itu seperti apa. Barulah kemudian mulut akan mengatupkan bibir untuk berucap, tidak asal berucap.

Hari itu saya menemani teman-teman dari Makassar mengunjungi sebuah sanggar di polewali mandar yang sudah lama berkecimpung didunia seni yang tentunya mengkhususkan untuk etnis mandar, sebut saja sanggar madatte yang merupakan nama sebuah sungai di daerah polewali. Disana teman-teman dengan semangatnya melontarkan butir demi butir pertanyaan kepada seorang pendiri sanggar itu. Beliau masih muda, umurnya mungkin sekitar 30 tahun. Saya sempat tercengang saat menyaksikan dia menjawab dengan sigapnya butir-butir pertanyaan kami. Beliau seorang penari yang memiliki pengetahuan tentang etnis mandar serta tari yang tidak bisa  saya pungkiri bahwa itu mengagumkan.

            Ceritanya tumpah pada kami yang berkunjung siang hari itu dikediamannya, tentang hidup dan perjalanan spiritualnya hingga memaknai bahwa menari sudah menjadi nyawanya. “seumur hidup saya rela tidak menikah ketimbang harus berhenti menari” ucapnya. Kalimat itu ia ucapkan pada saat prosesi lamarannya terdahulu ketika suaminya menyuruhnya untuk berhenti menari. “sampai mati inilah yang akan saya geluti, menari” tambahnya. Kami terdiam sejenak saat ia berujar itu. Ada sedikit rasa enggan untuk percaya ketika ia menceritakan tentang kemampuannya membuka dan menutup bulan purnama dengan tarian, memanggil roh, bertemu dan berbicara lewat mimpi dengan penari pertama yang begitu disakralkan bagi etnis mandar. Apa memang seperti itu adanya ? pikirku. Tapi tak bisa pula saya memungkiri bahwa disisi lain semua penggambaran itu terlihat amat nyata dalam dirinya. Saya enggan memaknainya lebih lanjut.

            Melihat sosok beliau tetiba ribuan pertanyaan menyerbu kepala saya. “apa pantas saya mengaku sebagai orang mandar dengan pengetahuan seminim ini ?”, “apa layak saya menyebut diri sebagai seorang penari ?”. pertanyaan demi pertanyaan kemudian menghujani pikiran saat itu.
Saya kemudian merebahkan tubuh ditempat tidur ketika telah tiba dirumah. Pertanyaan itu tak hentinya menghujani pikiran saya. Tapi, mencoba menepis semuanya. Tak ada gunanya terus bertanya, berusaha untuk menemukan jawabannya itulah yang harus dilakukan.

            Terima kasih untuk perjalanan ini yang kemudian membuka pikiran saya dengan pengetahuan yang telah dibagi dihari kemarin. Memaknai suku mandar dalam pribadi saya, membuat saya akan berani dan bangga mengaku sebagai orang mandar, sebagai seorang perempuan mandar, sebagai tobaine mandar. Pun tak hentinya saya akan terus mencintai dunia menari. Menari yang juga sebagai nyawa.
           

0 komentar:

Posting Komentar