Kembali berjelajah…
Itulah hal yang saya lakukan untuk
mengisi kekosongan saat liburan meskipun dikampung halaman sendiri. yahh,
teman-teman dari salah satu ukm seni difakultas berkunjung ke polewali untuk
melakukan observasi tarian khusus etnis mandar.
Suku
mandar merupakan salah satu etnis yang dominan berada di Sulawesi Barat. Pun Polewali
Mandar merupakan sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya bersuku mandar. Saya
sendiri memiliki keturunan darah mandar yakni dari nenek. Dahulu, karena sedari
kecil hingga berumur 17 tahun seiyanya saya hidup dilingkungan yang orang-orangnya
dominan bersuku mandar, jadi dengan santainya saya berani mengaku sebagai orang
mandar.
Bahasa
dan tradisi-tradisi suku mandar serta merta saya ketahui dengan sendirinya
tanpa harus melalui pendidikan formal tentunya, meskipun saya tidak begitu
fasih dalam berujar menggunakan bahasa mandar tapi setidaknya saya tahu arti dari
pembahasan yang tengah diperbincangkan oleh para orang-orang tua.
Pada
saat melanjutkan studi di Universitas di Makassar, saya kemudian berada
dilingkungan orang-orang dengan suku yang berbeda. Tahu bagaimana reaksi mereka
ketika mendengar kata mandar ???, lalu kemudian mereka akan berujar seperti ini
“orang mandar kan yang keras baca-bacanya
(merujuk pada ilmu hitam) ?”. Dahulu saya sontak kaget ketika mendapati
mereka berujar itu, sangat. Atas dasar apa mereka dengan mudahnya melontarkan
itu, pengetahuan tentang bagaimana suku mandar itu berkembang tidak pula mereka
pahami. Bukankah perbedaan menjadi indah ketika bersatu ? Lalu apa sebenarnya ?
melihat fakta dilapangan ? sungguh mata hanya akan melihat sisi luar itu, tapi
akan selalu ada tangan yang membuatnya terbuka, melihat sisi dalam itu seperti
apa. Barulah kemudian mulut akan mengatupkan bibir untuk berucap, tidak asal
berucap.
Hari itu saya menemani teman-teman
dari Makassar mengunjungi sebuah sanggar di polewali mandar yang sudah lama
berkecimpung didunia seni yang tentunya mengkhususkan untuk etnis mandar, sebut
saja sanggar madatte yang merupakan
nama sebuah sungai di daerah polewali. Disana teman-teman dengan semangatnya
melontarkan butir demi butir pertanyaan kepada seorang pendiri sanggar itu. Beliau
masih muda, umurnya mungkin sekitar 30 tahun. Saya sempat tercengang saat menyaksikan
dia menjawab dengan sigapnya butir-butir pertanyaan kami. Beliau seorang penari
yang memiliki pengetahuan tentang etnis mandar serta tari yang tidak bisa saya pungkiri bahwa itu mengagumkan.
Ceritanya
tumpah pada kami yang berkunjung siang hari itu dikediamannya, tentang hidup
dan perjalanan spiritualnya hingga memaknai bahwa menari sudah menjadi
nyawanya. “seumur hidup saya rela tidak menikah ketimbang harus berhenti menari”
ucapnya. Kalimat itu ia ucapkan pada saat prosesi lamarannya terdahulu ketika
suaminya menyuruhnya untuk berhenti menari. “sampai mati inilah yang akan saya
geluti, menari” tambahnya. Kami terdiam sejenak saat ia berujar itu. Ada sedikit
rasa enggan untuk percaya ketika ia menceritakan tentang kemampuannya membuka
dan menutup bulan purnama dengan tarian, memanggil roh, bertemu dan berbicara
lewat mimpi dengan penari pertama yang begitu disakralkan bagi etnis mandar. Apa
memang seperti itu adanya ? pikirku. Tapi tak bisa pula saya memungkiri bahwa
disisi lain semua penggambaran itu terlihat amat nyata dalam dirinya. Saya enggan
memaknainya lebih lanjut.
Melihat
sosok beliau tetiba ribuan pertanyaan menyerbu kepala saya. “apa pantas saya
mengaku sebagai orang mandar dengan pengetahuan seminim ini ?”, “apa layak saya
menyebut diri sebagai seorang penari ?”. pertanyaan demi pertanyaan kemudian
menghujani pikiran saat itu.
Saya kemudian merebahkan tubuh
ditempat tidur ketika telah tiba dirumah. Pertanyaan itu tak hentinya menghujani
pikiran saya. Tapi, mencoba menepis semuanya. Tak ada gunanya terus bertanya, berusaha
untuk menemukan jawabannya itulah yang harus dilakukan.
Terima
kasih untuk perjalanan ini yang kemudian membuka pikiran saya dengan
pengetahuan yang telah dibagi dihari kemarin. Memaknai suku mandar dalam
pribadi saya, membuat saya akan berani dan bangga mengaku sebagai orang mandar,
sebagai seorang perempuan mandar, sebagai tobaine
mandar. Pun tak hentinya saya akan terus mencintai dunia menari. Menari yang
juga sebagai nyawa.

0 komentar:
Posting Komentar