Senin, 05 Januari 2015

who are you ?



Diawal 2015 ini, aku memilih untuk pulang kekampung halaman. “duduk berdua, menikmati seduhan teh hangat, dan juga berdialog dengannya. Yahh, dengan dia, senja” menjadi sesuatu yang sangat kunikmati ketika tiba dikediamanku yang mungkin dalam beberapa bulan sekali kujajaki.
Aku sejenak meninggalkan setumpuk rutinitas yang tak bisa kupungkiri itu memuakkan. Belum lagi ada sedikit masalah yang menimpaku diawal tahun ini. Yahh, januari ku mulai berkisah sepertinya.
Belum genap seminggu aku disini, sungguh diluar dugaan. Tuhan menyisipkan scene ini dalam sekenarioNya untukku, membuat aku yang notabene adalah pemeran utama kelabakan dalam memahami naskahNya.
Matanya  begitu sayu, perawakannya tinggi dan juga kurus, otot-otot wajahnya tak lagi mengeras, rambutnya mulai memutih. Diusia senjanya itu, aku kembali bertemu dengannya. Bertatap muka, lama, dalam. Lidahku kelu untuk berucap. Menyapamu terasa kaku, bersenda gurau denganmu terasa asing, lemparan senyum dariku untukmu serasa tak memiliki makna apa-apa. “who are you ?”, entah siapa dari kita yang akan berucap itu. Aku atau kau ?, entahlah...
Jika kau bertanya padaku terlebih dahulu, akan kujawab “ini aku, putri bungsumu yang sebentar lagi menginjak usia 21 tahun dijanuarinya. ini aku, putri bungsumu yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di universitas, bukan lagi putrimu yang merengek tepat disampingmu meminta izin untuk makan permen susu yang membuat gigiku rusak, merengek dengan manjanya untuk minta digendong kemana-mana”
Dan jika ternyata aku yang melontarkan pertanyaan itu, maafkan ananda...
Bukan aku tak mengenalimu, bukan maksud aku membencimu, bukan pula aku sangat menyayangimu. Tak ada rasa berlebih dariku untukmu. Biasa saja, itu kesannya. Aku ingin ada segerombolan anak panah yang membuat rasa cintaku itu menjadi besar untukmu, layaknya cinta seorang putri kepada ayahandanya, tapi itu tak kudapati hingga detik ini.
Waktu tak bisa dipaksakan, keadaan pun enggan menjawab...
Lalu kini, hanya akan begini, seperti ini, lalu sehening ini...
Maafkan...

0 komentar:

Posting Komentar