Diawal 2015 ini, aku memilih untuk pulang
kekampung halaman. “duduk berdua, menikmati
seduhan teh
hangat, dan juga berdialog dengannya. Yahh, dengan dia, senja”
menjadi sesuatu yang sangat kunikmati ketika tiba dikediamanku yang mungkin
dalam beberapa bulan sekali kujajaki.
Aku
sejenak meninggalkan setumpuk rutinitas yang tak bisa kupungkiri itu memuakkan.
Belum lagi ada sedikit masalah yang menimpaku diawal tahun ini. Yahh, januari
ku mulai berkisah sepertinya.
Belum
genap seminggu aku disini, sungguh diluar dugaan. Tuhan menyisipkan scene ini
dalam sekenarioNya untukku, membuat aku yang notabene adalah pemeran utama
kelabakan dalam memahami naskahNya.
Matanya begitu sayu, perawakannya tinggi dan juga
kurus, otot-otot wajahnya tak lagi mengeras, rambutnya mulai memutih. Diusia senjanya
itu, aku kembali bertemu dengannya. Bertatap muka, lama, dalam. Lidahku kelu
untuk berucap. Menyapamu terasa kaku, bersenda gurau denganmu terasa asing, lemparan
senyum dariku untukmu serasa tak memiliki makna apa-apa. “who are you ?”, entah siapa dari kita yang akan berucap itu. Aku
atau kau ?, entahlah...
Jika
kau bertanya padaku terlebih dahulu, akan kujawab “ini aku, putri bungsumu yang
sebentar lagi menginjak usia 21 tahun dijanuarinya. ini aku, putri bungsumu
yang sebentar lagi menyelesaikan studinya di universitas, bukan lagi putrimu
yang merengek tepat disampingmu meminta izin untuk makan permen susu yang
membuat gigiku rusak, merengek dengan manjanya untuk minta digendong
kemana-mana”
Dan jika ternyata
aku yang melontarkan pertanyaan itu, maafkan ananda...
Bukan aku tak
mengenalimu, bukan maksud aku membencimu, bukan pula aku sangat menyayangimu. Tak
ada rasa berlebih dariku untukmu. Biasa saja, itu kesannya. Aku ingin ada
segerombolan anak panah yang membuat rasa cintaku itu menjadi besar untukmu,
layaknya cinta seorang putri kepada ayahandanya, tapi itu tak kudapati hingga
detik ini.
Waktu tak bisa dipaksakan,
keadaan pun enggan menjawab...
Lalu kini, hanya
akan begini, seperti ini, lalu sehening ini...
Maafkan...

0 komentar:
Posting Komentar