Rabu, 07 Januari 2015

Januari ku, 7 ku, dan nafas 21 ku



            Ribuan detik akhir-akhir ini kuhabiskan dengan kesan biasa-biasa saja, slow, mellow, tak ada yang ‘wahh’ istilahnya tapi aku cukup menikmati itu. 6 januari 2015, aku kembali bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada di dapur. Pizza ala Riska akan kubuat hari itu, hahaha…
            Suara teriakan dan gerak lincah ponakan ku Aii menemani eksperimenku. Dengan semangatnya aku mulai meracik, tak butuh waktu lama dan akhirnya aku menghasilkan makanan yang cukup menggoda mata dan lidah, kata kakak ku. Ketika aku mulai memotong dan mempersiapkan pizza itu, tiba-tiba mama, kedua kakak ku, dan juga ponakanku datang membawa lilin diatas potongan pizza itu. Mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” untukku, dan ponakanku menjadi vokalis utama hari itu. Menyanyi dengan suara yang begitu kerasnya, dengan cara berucap yang belum fasih. Yahh, umurnya baru menginjak 2 tahun 4 bulan.
            Aku tersenyum bahagia dihari itu, meskipun itu bukan tepat hari ulang tahunku, lebih tepatnya sehari sebelum ulang tahunku. “mau dirayakan besok, ataupun hari ini sama saja. Intinya cuma selisih sehari, pokoknya selamat dan semoga yang disemogakan tak hanya jadi semoga”, ucap kakak ku dengan santainya. Tawa bahagia kami memecah suasana hari itu. Ditengah kehangatan mereka, bahagiaku tak terukur hari itu.
            Insomnia ku sepertinya sudah mulai hilang. Pukul 22:00 wita aku sudah terlelap malam itu. Akan tetapi, tepat pukul 00:00 wita tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda panggilan masuk. Semampunya ku menatap layar handphone ku, berusaha membaca sederet nama kontak itu. Ohh… ternyata dia. Panggilan pertamanya tak kujawab karena rasa kantuk ku yang terlampau nyaman saat itu. Panggilan keduanya pun kujawab dengan suara yang masih parau setengah sadar dari tidurku.
            “selamat ulang tahun”, ucapnya. Aku diam sejenak, mengumpulkan nyawaku untuk berterima kasih padanya. Aku tak menduga dia akan melakukan itu, bahkan aku tak menunggu sama sekali ucapan darinya karena dia pasti tak ingat hari lahirku, pikirku. Cukup lama percakapanku malam itu dengannya. Sekali lagi sebelum telepon itu ia tutup, ucapan sederhana dan doa untukku kembali terucap darinya, dari dia yang masih terjaga saat itu. Ucapan selamat pertama di tanggal 7 ku, dan di nafas 21 ku kuterima dari dia. Terima kasih…
            Telepon telah ia tutup,tiba-tiba rintik hujan menggantikan suaranya. Baru kali itu hujan tumpah dengan derasnya. Yahh, mungkin ini pesan rindu lewat rintik hujan dari dia yang juga mencintai hujan.
Kejutan selanjutnya kudapati dari sahabat angin yang mengirimkan gelombang suara mereka berwujud doa lewat pesan singkat di handphone. Terima kasih untuk kalian yang masih selalu mengingat bahwa ada aku yang juga bagian dari angin itu.
Pagi ku terbentuk dengan seruan adzan subuh, sujudku disajadah hijau, dan tak lama kemudian pelukan hangat disertai doa dari keluarga satu persatu kudapati dari mereka. Mereka yang selalu ada disetiap desahan nafasku, yang selalu nampak dipelupuk mataku, dan yang selalu menjelma dalam bahasa kalbuku…

Terima kasih untuk kejutan di 7 ini…
Terima kasih untuk desahan nafas darinNya di 21 ini…
Terima kasih untuk gelombang suara berwujud doa dari mereka ini…
Terima kasih untuk dia yang telah terjaga demi kata sederhana “selamat” meski tanpa jabat karena milyaran panah jarak ini…
Jalan ini kadang gelap dan begitu hening, tapi kalian mematahkan itu…
Sekali lagi terima kasih telah membuat januari ku kembali berkisah…
           
Lalu…
Penutup malam di akhir 7 ku itu terbentuk dari sederet tulisan ditemani sepotong kue dan secangkir seduhan teh hangat... 

Lalu...
Dua ekor kupu-kupu dengan kepakan sayap indahnya memasuki ruang tamu rumahku kemudian terbang kekamarku, hinggap sejenak didaun jendelaku, dan terbang menari dengan indahnya tepat disampingku...
            Senyuman hangat seketika terbentuk dibibirku. Jemariku dengan lentiknya menari diatas toots keyboard merangkai kata demi kata, membentuknya dan membuatnya bagian dari januari ku. 

Semoga akan ada kejutan-kejutan berikutnya dari-Mu lewat mereka diluar sana...
Terima kasih untuk kisah di januari ku...




             
           

0 komentar:

Posting Komentar