Jumat, 05 Desember 2014

Hujan, Pelangi dan Senja

"Pernah dengar cerita hujan dan pelangi ???"

"Iya, pernah"
"Tidak pernah"
"Pernah, tapi tidak detail"

Mungkin seperti itulah gambaran sekilas akan jawaban mereka ketika mendapati pertanyaan demikian. Yahh, sepertinya hanya segelintir orang tak tahu akan cerita itu.

Akupun demikian, aku pernah mendengar cerita itu tapi tidak begitu rinci aku mengetahui seluk beluk ceritanya.

'Seperti pelangi, setia menunggu hujan reda'. Kalimat ini sering kudapati ketika sebagian dari mereka merefleksikan wujud mereka seperti hujan dan pelangi. Sungguh romansa yang menggetarkan pikirku.

Rinai hujan yang turun berkali-kali membentuk nada, membasahi tanah lalu kemudian perlahan awan mendung diujung sana mulai tersenyum ketika berakhir dengan rintik gerimis lalu digantikan oleh pelangi, membentuk lengkungan warna yang tak ubahnya beribu pasang mata tak mampu menolak pesonanya.

Itu dia yang tengah terjadi, pelangi tak akan nampak jika tak ada hujan yang memulai romansa itu.
Itu dia yang tengah terjadi, mendapati pelangi yang sangat ketergantungan terhadap hujan.

Namun, diam-diam ada Senja di ufuk barat yang tengah menatap lembut kecupan sore, mengamati romansa hujan dan pelangi, lalu tersenyum pada cakrawala.

Hujan itu kadang membuat bahagia dalam bungkam, lalu lengkungan pelangi menawarkan senyum, dan kemudian ada senja dengan balutan awan merah menghangatkan semuanya. Sungguh tiga elemen yang saling bertautan. lalu, apa senja bisa memposisikan dirinya dalam romansa hujan dan pelangi ???, ataukah senja hanya akan tetap menjadi pemerhati penuh senyum akan cerita hujan dan pelangi ??? Entahlah...

Lalu...

Rintik hujan itu masih ada, pelangi itu masih menampakkan pesonanya, dan senja itu masih setia menemani, menunggu hingga gelap lalu senyap.

0 komentar:

Posting Komentar