Entah apa kali ini, saya merindukan itu.
Yahh,, akhir-akhir ini pikiranku selalu dipenuhi
dengan gerakan-gerakan indah. Telingaku seiyanya dipenuhi dengan tabuhan
gendang tradisional, pakkanjara’ dan
juga pui’-pui’. Mataku selalu
mendapati diriku yang sedang menggerakkan tubuh dengan lemah gemulai, jemari yang
dengan lentiknya menciptakan gerak, memainkan kipas, dan sorotan mata yang
sedang berbicara.
Aku rindu menari…
Itulah yang akan kuteriakkan kali ini. Aku merindukannya.
Tarian itu, musik itu, dan juga
kembali berdandan bak pengantin ketika tengah berpakaian adat sulawesi. Sungguh
anggun dan cantik, pikirku.
Sudah teramat lama
rasanya aku tak pernah bersinggungan dengan hal sangat kusukai ini. Terkadang,
ditengah kesibukanku dikampus yang kadang membuat mood ku jadi amburadul, tarian menjadi obatku. Entahlah, suasana
hatiku seketika dapat berubah menjadi bahagia ketika mendapati diriku tengah
menari.
Bagiku,
menari itu nyawa bagi yang mati jiwanya,
Penyembuh
bagi yang memiliki luka,
Decak
kagum bagi yang terkungkung rapat,
Tinta
bagi yang kurang berwarna,
Candu
bagi yang menikmatinya,
Dan
keindahan tak terelakkan.
Itu saja... Aku
rindu menari.
Lagi, lagi dan
lagi...

0 komentar:
Posting Komentar