Sebuah
perjalanan yang telah dicanangkan pada akhirnya akan terealisasikan juga.
Perjalanan kali ini akan memacu adrenalin, pikirku. dua tahun kemarin merupakan
perjalanan yang lebih berorentasi pada unsur kebersamaan dan huru-hura semata. namun kali ini berbeda,
sebuah
lembah yang berada di daerah malino
sulawesi selatan, Ramma’ menjadi pilihan tempat yang akan kami daki.
Banyak
hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan perjalanan seperti ini baik itu
fisik, mental, terlebih perlengkapan. Beberapa hari
sebelum keberangkatan, teman-temanku disibukkan dengan TC
yang sering ku sebut “Teliling Campus”
dikarenakan aku tidak tahu menahu akan kepanjangan dari TC itu sendiri. Mereka
dengan semangatnya mempersiapkan fisik untuk menempuh perjalanan nanti. Namun berbeda
denganku, hari-hari sebelum keberangkatan aku tak pernah melatih fisikku, tak
pernah berhubungan dengan yang namanya olahraga. Aku disibukkan dengan
rutinitas baruku di salah satu lembaga tinggi di fakultas, memegang amanah
sebagai salah satu pengurus inti menuntutku harus lebih aktif, ini bukan
inginku tapi ini yang harus kuhadapi. Tiga program yang harus kuselesaikan
dalam minggu ini dan itu membuat waktu untuk teman-temanku terbilang cukup sedikit.
Jumat, 14 november 2014
Hari itu tak ada mata kuliah, aku
memilih untuk tidak ke kampus. Menunggu berjam-jam disalah satu rumah teman
(Ichy) menjadi pengganti kegiatan yang ada. 5 jam bukan waktu yang singkat
untuk menunggu, tapi aku memaklumi ketika harus meluangkan waktu untuk menunggu
beberapa teman yang tengah mempersiapkan semua perlengkapan dikampus. Pukul
17:30 wita, kami siap melakukan perjalanan, dengan berjumlahkan 14 orang,
dimana 6 orang dari kami menumpangi sebuah pete-pete, dan selebihnya
mengendarai motor.
Selama perjalanan, banyak cerita
yang terekam diantara kami. Canda, tawa bahagia selalu mewarnai kami walaupun
harus berdesakan dengan barang-barang yang ada di dalamnya. Menempuh perjalanan
kurang lebih 4 jam, Pukul 22:30 wita, kami tiba di salah satu rumah warga
setelah itu beristirahat menjadi pilihan kami ditengah dingin yang menusuk.
Sabtu,15 november 2014
Bisikan dingin udara membangunkanku,
tak kuasa menahan dingin yang semakin menusuk, aku beranjak dari zona nyamanku
berusaha membasuh wajahku dengan dengan tangan yang sudah gemetar dan dengan air yang seiyanya
bagai leburan es batu.
Sepotong roti menjadi sarapan dan
juga seduhan teh hangat yang digilir setidaknya memberi kehangatan ditubuh
kami. Pukul 06:45 wita, kami memulai perjalanan diawali dengan foto bersama dan
berdoa untuk keselamatan.
Langkah pertamaku kuawali dengan
senyum semangat, ini perjalanan kita, pikirku. Tapak demi tapak kujajaki, belum
juga kumenemukan lelah itu. Dengan cerita dan tawa riang mewarnai perjalanan.
Berselang satu jam, nafasku mulai tak beraturan meninggalkan nadi yang
semestinya normal. Bebatuan mulai kudaki, satu tegukan air putih cukup
melegakan tenggrokanku untuk melanjutkan perjalanan.
Tak hanya kami, banyak para pencinta
alam lainnya yang tengah melakukan perjalanan, bertegur sapa ketika bertemu
walaupun kenal tak pernah ada diantara kami.
aku menyukai itu. Satu gunung, dua gunung telah kudaki,
rasa-rasanya aku sudah tak sanggup. Mendapati diriku lemah seperti ini aku
membencinya. Dengan membawa beban yang berada dipundakku yang tak bisa dipungkiiri
bahwa itu adalah barang yang tidak ringan untuk dibawa seorang perempuan yang
pertama kali melakukan perjalan seperti ini. Dengan tongkat kayu yang diberikan
oleh teman (Eran) yang seiyanya selalu membantu untuk menopangku kembali
melangkah. Ketika kudapati diriku tengah berjalan sendiri ditengah hutan yang
gelap karena pohon yang penuh dengan lumut, dan juga kabut yang membuat
hidungku serasa disuntik dan itu membuatku cukup sulit untuk mengatur nafas,
aku duduk sejenak sembari menunggu teman yang berada jauh dibelakangku. Aku
kembali merapikan kerudung merah jambu dengan motif bunga yang kukenakan hari
itu, mengatur nafas, membasahi tenggorokanku dengan beberap teguk air dan juga
terus saja kusugesti diriku untuk menjadi kuat, jalan ini hanya sebentar,
dekat, mudah, menyenangkan, penuh petualangan, pikirku. Hal itu kugunakan untuk
membangkitkan semangat yang sempat hilang karena lelah merenggutnya.
Tiga gunung, empat gunung telah
kulalui. Dan pada akhirnya kami tiba dipuncak Talung. Dengan balutan kabut putih, nafas yang
sudah mengeluarkan asap, awan yang terasa lebih dekat dari
biasanya. Dengan bahagia kulepaskan beban dipundak dan
memulai untuk mengabadikan moment yang sangat berharga ini. Hanya berselang
beberapa menit, hujan memecah keriangan itu seolah menyuruh kami untuk
menlanjutkan perjalan menuju lembah dikaki gunung itu. Sangat tinggi dan jauh kelihatannya, aku tak mampu melewatinya,
pikirku.
Perjalan kami lanjutkan, bebatuan
yang licin tetap kujalani. Meskipun sulit dan kurasa tak mampu, tap aku selalu
berhasil menghilangkan paranoidku hari itu. Dengan sedikit kegilaan hari itu,
ku menggerakkan tubuhku menciptakan irama tarian dalam kepalaku sebagai wujud
bahagiaku hari itu. Diantara kami, aku menjadi orang kedua yang sampai dilembah
itu setelah teman (Wawan) menjadi orang pertama. Setelah tiba disudut batu
besar dilembah itu, menaggalkan tas dari pundakku dan segera bersandar menatap langit dan juga
gunung yang telah kulewati. Seolah tak percaya, aku telah melewati lima gunung
itu, menaklukkannya, dan sekarang aku disini. Bahagia tak mampu ku ekspresikan lagi, ini aku
dan segala perjuanganku. Aku tersenyum sendiri ketika teringat tentang perkataannya bahwa aku adalah perempuan yang
tidak bisa diajak berpetualang dan hari ini, aku mematahkan itu. Aku membuktikannya dengan sampai ditempat ini
dengan usahaku sendiri. Ingin kuceritakan semua padanya sepulang nanti bahwa bahagiaku tak terukur hari ini.
Tak perlu membuang waktu lama,
setibanya semua di tempat tujuan kami segera memasang tenda. Sesekali hujan
reda tapi hanya berselang beberapa menit saja. Pukul 17:45, aku menemuinya.
Yahh, itu dia Senja. Mataku takkan pernah buta ketika menjumpainya. Kusegerakan
keluar dari tenda, mendekatinya kemudian mengabadikan moment itu dalam beberapa
frame. Kini dia terasa begitu dekat, dipenghujung soreku dia kembali berhasil
membuat lengkungan senyum hangat dibibirku setelah melakukan perjalan yang
melelahkan. Terima kasih Senja untuk kesekian kalinya.
Selama di lembah itu cuaca kurang
bersahabat dengan kami. Hujan tak juga reda, makan malam kuracik dengan
kemampuan ala kadarnya dan seperti tadi siang, makan malam pun tak kami lakukan
bersama. Makan masing-masing dalam tenda yang berbeda. Rencana untuk duduk
bersama dan menyalakan api unggun tak terealisasikan malam itu dikarenakan
hujan yang kembali berulah, alhasil di tiga tenda itu kami terbgi dan membuat
cerita dalam setiap tenda itu. Aku berada dalam tenda yang ukurannya tidak
besar, kami ada 5 orang didalamnya, memulai cerita dari salang seorang teman
(Rika) menjadi pembuka malam itu, berlanjut padaku hingga akhirnya beberapa
keluh kesah tumpah dimalam itu, biar mereka sedikit merasakan apa yang kurasa.
Tapi tak lama kantuk dan sepi menghampiri, kami memilih untuk tidur dalam sleeping bed masing-masing ditengah
dingin dan riuhnya angin malam.
Minggu,16 november 2014
Pukul
07:15 wita, kubuka mata lalu kudapati satu dua orang disamping kiri kananku
masih berada di zona nyaman mereka. Kusegerakan beranjak, membasuh wajah dengan
kekuatan melawan dingin, yang tak bisa kupungkiri wajahku menjadi kaku ketika
bersinggungan dengan air.
Beberapa
bungkus indomie, seduhan teh hangat dan beberapa potong roti menjadi sarapan
kami untuk bekal energi perjalanan pulang. Pukul 10:00 wita, kami bergegas,
membereskan apa yang mesti dibereskan. Sesekali kembali kumenatap gunung
diujung sana, jauh, tinggi, tak mampu rasanya kumenapakkan kaki untuk kembali.
Tapi pikiran seperti itu dengan sigapnya kutepis. Yahh,, aku harus bisa. “bisa
sampai diakhir, otomatis aku bisa kembali keawal” itu saja.
Pukul
12:00 wita, kami memulai perjalanan pulang, mengawali dengan berdoa dan berfoto
bersama. Aku memilih tak banyak bicara hari itu, mataku hanya kufokuskan pada
jalan yang akan kujajaki didepan, enggan untuk menatap jauh gunung yang disana,
tohh nantinya aku akan melewatinya, pikirku.
Satu,
dua, tiga, empat, lima…
Tak terasa aku dan teman-teman tiba kembali
diperkampungan dimana rumah warga telah kami dapati. Aku sungguh tak percaya
bisa melewati ini.
Luar biasa…!!!
Luar biasa…!!!
Luar biasa…!!!
Aku
meneriakkan itu dalam hati, karena kebahagiaanku hari itu hanya bisa
kuungkapkan dengan lengkungan senyum hangat dibibirku.
Ini perjalanan kita…
Perjalanan yang tak akan kita lupa…
Pengalaman berharga…
Kebahagiaan yang tak terukur…
Semoga suatu ketika akan ada harmoni
untuk mengulangnya lagi,
Bersama kalian, KAZE…
Karena kalian bagian dari Senja
itu…
Terima Kasih…

0 komentar:
Posting Komentar