Kamis, 11 Desember 2014

Time to Adventure



Sebuah perjalanan yang telah dicanangkan pada akhirnya akan terealisasikan juga. Perjalanan kali ini akan memacu adrenalin, pikirku. dua tahun kemarin merupakan perjalanan yang lebih berorentasi pada unsur kebersamaan dan huru-hura semata. namun kali ini berbeda, sebuah lembah yang berada di daerah malino sulawesi selatan, Ramma’ menjadi pilihan tempat yang akan kami daki.
Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan perjalanan seperti ini baik itu fisik, mental, terlebih perlengkapan. Beberapa hari sebelum keberangkatan, teman-temanku disibukkan dengan TC yang sering ku sebut “Teliling Campus” dikarenakan aku tidak tahu menahu akan kepanjangan dari TC itu sendiri. Mereka dengan semangatnya mempersiapkan fisik untuk menempuh perjalanan nanti. Namun berbeda denganku, hari-hari sebelum keberangkatan aku tak pernah melatih fisikku, tak pernah berhubungan dengan yang namanya olahraga. Aku disibukkan dengan rutinitas baruku di salah satu lembaga tinggi di fakultas, memegang amanah sebagai salah satu pengurus inti menuntutku harus lebih aktif, ini bukan inginku tapi ini yang harus kuhadapi. Tiga program yang harus kuselesaikan dalam minggu ini dan itu membuat waktu untuk teman-temanku terbilang cukup sedikit.
Jumat, 14 november 2014
            Hari itu tak ada mata kuliah, aku memilih untuk tidak ke kampus. Menunggu berjam-jam disalah satu rumah teman (Ichy) menjadi pengganti kegiatan yang ada. 5 jam bukan waktu yang singkat untuk menunggu, tapi aku memaklumi ketika harus meluangkan waktu untuk menunggu beberapa teman yang tengah mempersiapkan semua perlengkapan dikampus. Pukul 17:30 wita, kami siap melakukan perjalanan, dengan berjumlahkan 14 orang, dimana 6 orang dari kami menumpangi sebuah pete-pete, dan selebihnya mengendarai motor.
            Selama perjalanan, banyak cerita yang terekam diantara kami. Canda, tawa bahagia selalu mewarnai kami walaupun harus berdesakan dengan barang-barang yang ada di dalamnya. Menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, Pukul 22:30 wita, kami tiba di salah satu rumah warga setelah itu beristirahat menjadi pilihan kami ditengah dingin yang menusuk.



Sabtu,15 november 2014
            Bisikan dingin udara membangunkanku, tak kuasa menahan dingin yang semakin menusuk, aku beranjak dari zona nyamanku berusaha membasuh wajahku dengan dengan tangan yang sudah gemetar dan dengan air yang seiyanya bagai leburan es batu.
            Sepotong roti menjadi sarapan dan juga seduhan teh hangat yang digilir setidaknya memberi kehangatan ditubuh kami. Pukul 06:45 wita, kami memulai perjalanan diawali dengan foto bersama dan berdoa untuk keselamatan.
           Langkah pertamaku kuawali dengan senyum semangat, ini perjalanan kita, pikirku. Tapak demi tapak kujajaki, belum juga kumenemukan lelah itu. Dengan cerita dan tawa riang mewarnai perjalanan. Berselang satu jam, nafasku mulai tak beraturan meninggalkan nadi yang semestinya normal. Bebatuan mulai kudaki, satu tegukan air putih cukup melegakan tenggrokanku untuk melanjutkan perjalanan.
            Tak hanya kami, banyak para pencinta alam lainnya yang tengah melakukan perjalanan, bertegur sapa ketika bertemu walaupun kenal tak pernah ada diantara kami. aku menyukai itu. Satu gunung, dua gunung telah kudaki, rasa-rasanya aku sudah tak sanggup. Mendapati diriku lemah seperti ini aku membencinya. Dengan membawa beban yang berada dipundakku yang tak bisa dipungkiiri bahwa itu adalah barang yang tidak ringan untuk dibawa seorang perempuan yang pertama kali melakukan perjalan seperti ini. Dengan tongkat kayu yang diberikan oleh teman (Eran) yang seiyanya selalu membantu untuk menopangku kembali melangkah. Ketika kudapati diriku tengah berjalan sendiri ditengah hutan yang gelap karena pohon yang penuh dengan lumut, dan juga kabut yang membuat hidungku serasa disuntik dan itu membuatku cukup sulit untuk mengatur nafas, aku duduk sejenak sembari menunggu teman yang berada jauh dibelakangku. Aku kembali merapikan kerudung merah jambu dengan motif bunga yang kukenakan hari itu, mengatur nafas, membasahi tenggorokanku dengan beberap teguk air dan juga terus saja kusugesti diriku untuk menjadi kuat, jalan ini hanya sebentar, dekat, mudah, menyenangkan, penuh petualangan, pikirku. Hal itu kugunakan untuk membangkitkan semangat yang sempat hilang karena lelah merenggutnya.
            Tiga gunung, empat gunung telah kulalui. Dan pada akhirnya kami tiba dipuncak Talung. Dengan balutan kabut putih, nafas yang sudah mengeluarkan asap, awan yang terasa lebih dekat dari biasanya. Dengan bahagia kulepaskan beban dipundak dan memulai untuk mengabadikan moment yang sangat berharga ini. Hanya berselang beberapa menit, hujan memecah keriangan itu seolah menyuruh kami untuk menlanjutkan perjalan menuju lembah dikaki gunung itu. Sangat tinggi dan jauh kelihatannya, aku tak mampu melewatinya, pikirku.
            Perjalan kami lanjutkan, bebatuan yang licin tetap kujalani. Meskipun sulit dan kurasa tak mampu, tap aku selalu berhasil menghilangkan paranoidku hari itu. Dengan sedikit kegilaan hari itu, ku menggerakkan tubuhku menciptakan irama tarian dalam kepalaku sebagai wujud bahagiaku hari itu. Diantara kami, aku menjadi orang kedua yang sampai dilembah itu setelah teman (Wawan) menjadi orang pertama. Setelah tiba disudut batu besar dilembah itu, menaggalkan tas dari pundakku dan segera bersandar menatap langit dan juga gunung yang telah kulewati. Seolah tak percaya, aku telah melewati lima gunung itu, menaklukkannya, dan sekarang aku disini. Bahagia tak mampu ku ekspresikan lagi, ini aku dan segala perjuanganku. Aku tersenyum sendiri ketika teringat tentang perkataannya bahwa aku adalah perempuan yang tidak bisa diajak berpetualang dan hari ini, aku mematahkan itu. Aku membuktikannya dengan sampai ditempat ini dengan usahaku sendiri. Ingin kuceritakan semua padanya sepulang nanti bahwa bahagiaku tak terukur hari ini.
Tak perlu membuang waktu lama, setibanya semua di tempat tujuan kami segera memasang tenda. Sesekali hujan reda tapi hanya berselang beberapa menit saja. Pukul 17:45, aku menemuinya. Yahh, itu dia Senja. Mataku takkan pernah buta ketika menjumpainya. Kusegerakan keluar dari tenda, mendekatinya kemudian mengabadikan moment itu dalam beberapa frame. Kini dia terasa begitu dekat, dipenghujung soreku dia kembali berhasil membuat lengkungan senyum hangat dibibirku setelah melakukan perjalan yang melelahkan. Terima kasih Senja untuk kesekian kalinya.

Selama di lembah itu cuaca kurang bersahabat dengan kami. Hujan tak juga reda, makan malam kuracik dengan kemampuan ala kadarnya dan seperti tadi siang, makan malam pun tak kami lakukan bersama. Makan masing-masing dalam tenda yang berbeda. Rencana untuk duduk bersama dan menyalakan api unggun tak terealisasikan malam itu dikarenakan hujan yang kembali berulah, alhasil di tiga tenda itu kami terbgi dan membuat cerita dalam setiap tenda itu. Aku berada dalam tenda yang ukurannya tidak besar, kami ada 5 orang didalamnya, memulai cerita dari salang seorang teman (Rika) menjadi pembuka malam itu, berlanjut padaku hingga akhirnya beberapa keluh kesah tumpah dimalam itu, biar mereka sedikit merasakan apa yang kurasa. Tapi tak lama kantuk dan sepi menghampiri, kami memilih untuk tidur dalam sleeping bed masing-masing ditengah dingin dan riuhnya angin malam. 




Minggu,16 november 2014
            Pukul 07:15 wita, kubuka mata lalu kudapati satu dua orang disamping kiri kananku masih berada di zona nyaman mereka. Kusegerakan beranjak, membasuh wajah dengan kekuatan melawan dingin, yang tak bisa kupungkiri wajahku menjadi kaku ketika bersinggungan dengan air.
            Beberapa bungkus indomie, seduhan teh hangat dan beberapa potong roti menjadi sarapan kami untuk bekal energi perjalanan pulang. Pukul 10:00 wita, kami bergegas, membereskan apa yang mesti dibereskan. Sesekali kembali kumenatap gunung diujung sana, jauh, tinggi, tak mampu rasanya kumenapakkan kaki untuk kembali. Tapi pikiran seperti itu dengan sigapnya kutepis. Yahh,, aku harus bisa. “bisa sampai diakhir, otomatis aku bisa kembali keawal” itu saja.
            Pukul 12:00 wita, kami memulai perjalanan pulang, mengawali dengan berdoa dan berfoto bersama. Aku memilih tak banyak bicara hari itu, mataku hanya kufokuskan pada jalan yang akan kujajaki didepan, enggan untuk menatap jauh gunung yang disana, tohh nantinya aku akan melewatinya, pikirku.
            Satu, dua, tiga, empat, lima…
Tak terasa aku dan teman-teman tiba kembali diperkampungan dimana rumah warga telah kami dapati. Aku sungguh tak percaya bisa melewati ini.
Luar biasa…!!!
Luar biasa…!!!
Luar biasa…!!!
            Aku meneriakkan itu dalam hati, karena kebahagiaanku hari itu hanya bisa kuungkapkan dengan lengkungan senyum hangat dibibirku.
Ini perjalanan kita…
Perjalanan yang tak akan kita lupa…
Pengalaman berharga…
Kebahagiaan yang tak terukur…
Semoga suatu ketika akan ada harmoni untuk mengulangnya lagi,
Bersama kalian, KAZE…
Karena kalian bagian dari Senja itu…
Terima Kasih…



0 komentar:

Posting Komentar