3 missed calls...
Kubuka layar handphone dengan mata yang masih sayu dikarenakan ngantuk dan waktu menunjukkan pukul 19:00 wita. Yahh, aku tertidur sepulang dari kampus.
Kubuka layar handphone dengan mata yang masih sayu dikarenakan ngantuk dan waktu menunjukkan pukul 19:00 wita. Yahh, aku tertidur sepulang dari kampus.
"Maaf sy mengganggu, hari ini sy butuh darah untuk anakku.. Ada kta punya waktu untuk donor.. Skrg saya lagi di PMI.." satu pesan ku terima dari seseorang yang tidak kukenali. Seminggu yang lalu ia pun sempat menghubungiku untuk hal yang sama tapi waktu itu kebutuhannya telah terpenuhi jadi dilain waktu saja untukku katanya.
Mungkin hari ini lah waktunya. Kusegerakan beranjak, memasang kerudung unguku, lalu menarik tas merah marunku meninggalkan rumah. Sebanyak dua kali aku mengendarai pete-pete menuju UTDP (Unit Transfusi Darah) dengan guyuran hujan yang semakin deras, lampu-lampu jalan sudah tak nampak begitu terang dari balik kaca angkutan umum itu. Aku kemudian berjalan kaki memasuki lorong yang lumayan gelap, sangat jarang orang yang berlalu lalang, dan dengan gerimis malam itu. Ada sebuah payung didalam tasku, tapi entah kenapa aku enggan untuk menggunakannya malam itu. Aku hanya ingin menikmati rintik-rintiknya. Itu saja.
Sesampaiku disana, ku menelpon orang itu, kami saling memberitahu dimana tepatnya posisi tubuh kami tengah berdiri. Dan ternyata, akulah yang salah alamat, kurang teliti dikarenakan sudah terbiasa jika mendapat panggilan seperti ini pastilah ku menuju tempat ini. Lalu kusegerakan meninggalkan tempat itu. Dengan mengendarai ojek, aku menuju tempat yg sesungguhnya PMI pusat di makassar.
Setibaku disana, seseorang dengan perawakan tinggi kurus menghampiriku. Wajahnya kelihatan sangat lelah, cemas, dan kantung matanya sangat terlihat. Seorang ayah dari putri bernama Farasyah Nailal Husna yang mengidap penyakit leukimia. Ia sebentar lagi berumur 7 tahun, setelah tahun baru nanti adalah hari ulang tahunnya. Sudah sebulan lebih lamanya ia dirawat inap disebuah rumah sakit. Bersinggungan dengan selang infus, obat-obatan dan semacamnya. Bermain dengan teman sebanyanya kini bukan lagi yang harus ia jalani.
Segera ku isi formulir pendonor, menimbang berat badanku, tekanan darahku diperiksa, dan sampel darahkupun di ambil. Semuanya memenuhi syarat dan cocok.
Disudut ruangan aku berbaring, dan kembali tangan kiriku selalu kugunakan ketika tengah melakukan ini. Kembali kurasakan tarikan nafas panjang ketika jarum yang terbilang cukup besar itu menyentuh kulitku, kemudian bagian ujungnya masuk perlahan menembus dagingku. Darahku mengalir dengan derasnya dalam selang kecil bening itu menuju kantong yang menampung 350 cc darah yang tengah digoyangkan oleh sebuah alat.
Tak merasa pusing sama sekali setelah itu berlangsung. yahh, mungkin aku sudah terbiasa dengan ini dan yang ini untuk ke-7 kalinya. Bahkan ada salah seorang teman yang mengatakan bahwa hobby ku adalah 'donor darah', senyum simpulku terbentuk ketika teringat itu.
ku menghampiri ayah Farasyah, berbincang sedikit dengannya sembari membantu mencari orang lain yang siap mendonor. Ia butuh 7 kantong untuk hidupnya, barulah hanya sekantong yang ia dapatkan, dariku yang pertama.
Aku pamit pulang, lalu seorang pendonor untuk Farasyah datang. Aku tersenyum...
Ucapan terima kasih ayahandanya kepadaku membuatku sedikit menahan air yang sudah tergenang dimata yang siap tumpah. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, dengan penuh harap sekantong dariku bisa memberinya kehidupan, menjajaki dan melihat dunia, juga tertawa bahagia dengan orang-orang tercintanya.
Aku kembali kerumah dengan mengendarai bentor (becak motor). Setibaku dirumah, ketika membuka pintu hujanpun tumpah dengan derasnya. Aku hanya tersenyum seketika, menikmati setiap rintiknya setelah perjalananku hingga malam segelap ini...
Teruntuk Farasyah Nailal Husna...
Aku tak mengenalmu, kaupun demikian. Rupamu pasti cantik, secantik namamu. Semoga ada harmoni yang akan mempertemukan kita nantinya..
Cepat sembuh adikku..
Lalu tumbuh menjadi anak yang cantik, ulang tahunmu yang ke-7 menantimu...
Jangan biarkan kesakitan itu mengalahkan dan melemahkanmu, ingat saja kehidupan dengan segala keindahannya menantimu...
Aku tak mengenalmu, kaupun demikian. Rupamu pasti cantik, secantik namamu. Semoga ada harmoni yang akan mempertemukan kita nantinya..
Cepat sembuh adikku..
Lalu tumbuh menjadi anak yang cantik, ulang tahunmu yang ke-7 menantimu...
Jangan biarkan kesakitan itu mengalahkan dan melemahkanmu, ingat saja kehidupan dengan segala keindahannya menantimu...

0 komentar:
Posting Komentar